
PASURUAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah, Haniffudin Chaniago, menghadiri sekaligus memberikan sambutan dalam pembukaan Musyawarah Wilayah (Musywil) Pemuda Hidayatullah Jawa Timur yang digelar di Pasuruan pada Sabtu, 19 Sya’ban 1447 (7/2/2026).
Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Kantor Bupati Pasuruan, Jawa Timur, dan diikuti oleh unsur pengurus wilayah, daerah, serta kader Pemuda Hidayatullah dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur.
Haniffudin dalam sambutannya menegaskan Musywil sebagai forum penting untuk melakukan konsolidasi peran pemuda dalam konteks pembangunan nasional jangka panjang.
Ia mengaitkan dinamika organisasi kepemudaan dengan agenda besar Indonesia Emas 2045, yakni proyeksi 100 tahun kemerdekaan Indonesia yang ditandai dengan target negara berpendapatan tinggi dan daya saing global.
Dia menyebutkan, berdasarkan proyeksi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), periode menuju 2045 merupakan fase krusial karena Indonesia berada pada puncak bonus demografi, di mana mayoritas penduduk berada pada usia produktif.
Dalam visi menuju cita cita tersebut, Haniffudin mengajak seluruh peserta Musywil untuk melakukan refleksi kritis atas posisi dan peran Pemuda Hidayatullah di tengah arus besar perubahan sosial, ekonomi, dan politik nasional. Ia menegaskan bahwa momentum demografi dan pembangunan tidak boleh disikapi secara pasif.
“Dalam arus gerakan menuju Indonesia Emas 2045, apakah kita hanya puas sebagai penonton atau berani mengambil risiko dan tampil sebagai pemain, atau justru menjadi beban dalam arus gerakan ini,” tegasnya.
Anak muda berdarah Solok, Sumatera Barat, ini mendorong kader agar memandang masa depan bangsa sebagai ruang kontribusi nyata. Dia menekankan bahwa organisasi kepemudaan berbasis dakwah harus memiliki keberanian mengambil peran strategis, sejalan dengan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.
Lebih lanjut, ia mengingatkan agar orientasi perjuangan Pemuda Hidayatullah tidak tereduksi hanya pada pengelolaan amal usaha organisasi.
Menurutnya, meskipun amal usaha memiliki fungsi penting sebagai instrumen dakwah dan pelayanan umat, namun visi gerakan tidak boleh berhenti pada penguatan struktur internal semata. Ia menilai bahwa tantangan umat dan bangsa saat ini menuntut kehadiran pemuda pada ruang-ruang yang lebih luas dan berdampak.
Haniffudin menjelaskan bahwa Pemuda Hidayatullah sejak awal dirancang sebagai bagian dari gerakan peradaban. Oleh karena itu, kiprah kader seharusnya meluas ke sektor sosial, ekonomi, pendidikan, dan kebangsaan, dengan tetap berpijak pada nilai-nilai Islam. Menurutnya, keterlibatan aktif dalam kehidupan masyarakat menjadi indikator penting relevansi gerakan pemuda.
Dalam sambutannya, Haniffudin juga menyoroti aspek kemandirian ekonomi kader. Ia mendorong pemuda untuk tidak menggantungkan keberlangsungan hidup dan perjuangannya semata-mata pada struktur organisasi maupun amal usaha yang dimiliki. Tantangan ekonomi global, perubahan pola kerja, serta meningkatnya kompetisi menuntut pemuda memiliki kapasitas adaptif dan kemandirian personal.

Ia menegaskan bahwa keberanian keluar dari zona nyaman merupakan prasyarat untuk membangun daya tahan dan keberlanjutan perjuangan. Menurutnya, pemuda yang berdaya akan memiliki keleluasaan dalam berkontribusi dan tidak mudah terjebak pada ketergantungan struktural.
“Jangan cukupkan perjuangan hanya pada amal usaha. Perjuangan kita harus lebih luas untuk kemajuan umat dan bangsa,” katanya.
Haniffudin menutup dengan menegaskan bahwa Musywil bukan sekadar forum pergantian kepemimpinan atau penyusunan program kerja, melainkan momentum untuk memperjelas orientasi gerakan Pemuda Hidayatullah di tingkat wilayah.
Ia berharap hasil Musywil Jawa Timur mampu melahirkan kepemimpinan dan agenda strategis yang responsif terhadap tantangan zaman serta selaras dengan visi Indonesia Emas 2045.






