
TOLITOLI (Hidayatullah.or.id) — Kunjungan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., ke Desa Tinigi di Kecamatan Galang, Kabupaten Tolitoli, Provinsi Sulawesi Tengah, menghadirkan sebuah narasi sederhana namun sarat makna tentang akar perjuangan, keteladanan sosial, dan kesinambungan dakwah.
Desa Tinigi bukan sekadar titik geografis dalam peta organisasi, melainkan ruang kultural yang menyimpan memori panjang tentang lahirnya kader-kader Hidayatullah yang berkiprah di berbagai medan pengabdian.
Tinigi dikenal sebagai salah satu kampung yang banyak melahirkan generasi pejuang dakwah Hidayatullah. Karakter masyarakatnya yang egaliter, religius, dan kuat dalam ikatan kekeluargaan menjadi lahan subur bagi tumbuhnya nilai-nilai dakwah dan pengabdian.
Dalam konteks inilah, kehadiran Ketua Umum Naspi Arsyad tidak dimaknai sebagai agenda seremonial belaka, melainkan sebagai ikhtiar menyambung kembali tali batin antara pusat gerakan dan basis sosial yang melahirkannya.
Di desa tersebut, Ketua Umum meluangkan waktu untuk menyapa masyarakat, berdialog secara terbuka, serta mendengarkan cerita dan harapan warga. Interaksi berlangsung hangat dan tanpa sekat, memperlihatkan bahwa kepemimpinan dalam tradisi dakwah bukanlah soal jarak struktural, melainkan kedekatan moral.
Jamuan Makan Malam

Kunjungan itu juga diwarnai jamuan makan malam di rumah salah satu warga, Sudirman, yang menjadi ruang perjumpaan personal dengan masyarakat akar rumput.
Jamuan tersebut berlangsung di rumah orang tua Suaib, Ketua PW Pemuda Hidayatullah Sulawesi Tengah. Dalam suasana sederhana, dialog mengalir sembari menikmati hidangan khas Mandar berupa jepa dan baupiapi, dua sajian tradisional yang mencerminkan identitas kultural mayoritas warga Tinigi.
Makanan, dalam konteks ini, bukan sekadar suguhan cita rasa makanan laut yang aduhai nikmatnya, tetapi simbol penerimaan, penghormatan, dan persaudaraan. Kehangatan meja makan menjadi medium dakwah yang senyap namun kuat, mengikat rasa dan nilai dalam satu pengalaman bersama.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum juga bersua dengan Haji Sukiman Langgo Husain, tokoh kampung Tinigi yang dikenal luas oleh masyarakat setempat. Sukiman merupakan figur yang dihormati, tidak hanya karena peran sosialnya di kampung, tetapi juga karena jejak sejarah pemikirannya. Ia disebut sebagai salah seorang tokoh yang memiliki keterkaitan dengan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), sebuah irama simfoni yang menempatkan Tinigi dalam lintasan sejarah panjang perjuangan politik dan dakwah umat Islam di Indonesia.
Pertemuan dengan tokoh tokoh senior ini menjadi pengingat bahwa dakwah dan perjuangan tidak lahir dari ruang hampa. Ada mata rantai sejarah, ada nilai yang diwariskan lintas generasi, dan ada keteladanan yang terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Tinigi, dengan tokoh-tokohnya dan generasi mudanya, menjadi contoh bagaimana desa dapat memainkan peran strategis dalam menjaga kesinambungan nilai perjuangan.
Kunjungan ini juga memperlihatkan wajah lain dari kepemimpinan organisasi: kepemimpinan yang hadir, mendengar, dan merendah hati di hadapan masyarakat. Dalam pendekatan seperti ini, dakwah tidak tampil sebagai instruksi dari atas, tetapi sebagai dialog yang tumbuh dari bawah.
Kehadiran Ketua Umum di tengah masyarakat Tinigi menegaskan bahwa kekuatan gerakan terletak pada hubungan emosional yang terawat, bukan semata pada struktur dan program.
Pada akhirnya, beranjangsana ke Tinigi menjadi refleksi bahwa perjalanan dakwah adalah perjalanan pulang, kembali ke sumber-sumber nilai yang membentuk karakter gerakan.
Dari desa sederhana, lahir gagasan besar, pengorbanan panjang, dan komitmen yang terus diperbarui. Tinigi mengajarkan bahwa kesetiaan pada akar adalah syarat utama untuk melangkah jauh ke masa depan.






