
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah KH Naspi Arsyad, Lc., memaknai bulan suci Ramadhan sebagai sarana revitalisasi dan rekonstruksi kehidupan spiritual dan sosial. Hal itu disampaikan saat menyampaikan kajian bertema Ramadhan sebagai Momentum Merevitalisasi Tatanan Masyarakat yang Berperadaban dalam kegiatan Kajian Ba’da Subuh di Masjid Baitul Karim, Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Ahad, 18 Ramadhan 1447 (8//3/2026).
KH Naspi Arsyad menjelaskan bahwa bulan Ramadhan memiliki fungsi strategis dalam membangun kembali struktur kehidupan seorang muslim, baik pada dimensi spiritual maupun sosial.
Ibadah puasa, menurutnya, melatih manusia mengendalikan tiga aspek mendasar dalam kehidupan, yaitu lapar, dahaga, dan dorongan nafsu. Melalui proses pengendalian tersebut, seorang muslim diarahkan untuk memusatkan orientasi ibadahnya secara penuh kepada Allah.
Selain sebagai sarana pembinaan diri, ia juga menekankan bahwa Ramadhan menjadi kesempatan untuk memperbaiki kekurangan spiritual yang mungkin terjadi sepanjang sebelas bulan sebelumnya. Berbagai amalan seperti puasa, qiyamullail, membaca Al-Qur’an, dan bentuk-bentuk kebaikan lainnya dipandang sebagai sarana evaluasi dan perbaikan diri.
Dalam kajian tersebut, Naspi juga menyinggung pentingnya mengarahkan kembali orientasi kehidupan manusia. Ia menyebut bahwa sebagian orang menjalani kehidupan dengan fokus pada rutinitas duniawi, sehingga Ramadhan berfungsi sebagai pengingat tentang tujuan hidup seorang mukmin.
“Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum besar untuk memperbaiki struktur kehidupan pribadi hingga sosial umat Islam,” ujarnya.
Ia kemudian mengutip sabda Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan kebahagiaan bagi orang yang berpuasa. “Lisshāimi farhatun ‘inda fithrihi,” katanya, mengutip hadis Nabi yang menyatakan bahwa orang yang berpuasa memiliki kegembiraan ketika berbuka.
Menurutnya, kegembiraan tersebut tidak hanya terkait dengan terpenuhinya kebutuhan fisik setelah berpuasa, tetapi juga berkaitan dengan keberhasilan seseorang menjalankan ketaatan kepada Allah.
Dalam bagian lain kajiannya, Naspi menjelaskan bahwa puasa juga berperan dalam pembentukan akhlak dan moral seorang muslim. Ia mengingatkan bahwa pengendalian diri selama berpuasa melatih seseorang untuk menahan ucapan dan tindakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Ia mencontohkan sikap yang diajarkan dalam ibadah puasa ketika seseorang menghadapi potensi konflik atau perkataan kasar. “Inni shāim!,” ujarnya, merujuk pada anjuran agar seseorang menyatakan bahwa dirinya sedang berpuasa sebagai bentuk pengendalian diri.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa nilai-nilai Ramadhan tidak hanya berpengaruh pada individu, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang luas. Jika nilai ibadah, kepedulian sosial, serta penguatan akhlak dijalankan secara kolektif, maka hal tersebut akan membentuk kehidupan masyarakat yang berkeadaban.
Naspi pada kesempatan iitu juga menyinggung peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW ke Yathrib yang kemudian dikenal sebagai Madinah. Menurutnya, hijrah tersebut merupakan bagian dari proses pembentukan masyarakat yang berlandaskan nilai keimanan, akhlak, serta tatanan sosial yang teratur.
Ia menyampaikan bahwa melalui momentum Ramadhan, umat Islam diingatkan kembali bahwa perubahan dalam kehidupan masyarakat berawal dari perubahan spiritual dan moral individu.
Dengan demikian, tegasnya, Ramadhan hendaknya dijadikan bukan hanya sebagai ibadah tahunan, tetapi juga sebagai proses pembinaan yang berpotensi melahirkan masyarakat yang beriman, berakhlak, dan berperadaban.






