
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang istiqamah dalam kebaikan.
Ramadhan selalu hadir sebagai bulan penuh cahaya, bulan yang membuka pintu-pintu rahmat dan mengalirkan keberkahan ke dalam hati setiap hamba.
Di hari Jum’at penghujung Ramadhan ini, kita seakan diajak untuk menengok kembali perjalanan spiritual yang telah ditempuh: dari menahan lapar dan dahaga, melatih kesabaran hingga dzikir dan interaksi dengan Al Qur’an.
Semua itu bukan sekadar ritual, melainkan proses membersihkan dan menguatkan hati, karena dari sanalah hadirnya iman dan ketaqwaan.
Masih beberapa jam ke depan Ramadhan bersama kita. Jangan abaikan waktu-waktu yang mustajab untuk melengkapi ibadah dan amalan-amalan kita. Kita yakin dengan ayat Allah Ta’ala, walal akhiratu khairullaka minal ula, bahwa saat injuri time, detik-detik terakhir datang ampunan dan pertolongan Allah swt.
Melepas Ramadhan bukan berarti melepas semangat ibadah. Justru, ia adalah titik awal untuk membuktikan apakah pelajaran yang kita dapat selama sebulan penuh benar-benar meresap ke dalam jiwa. Taqwa bukan sekadar label, melainkan kondisi hati yang senantiasa sadar akan kehadiran Allah, dalam suka maupun duka, dalam terang maupun gelap.
Maka, detik-detik melepas Ramadhan seharusnya diisi dengan rasa syukur yang mendalam. Syukur karena diberi kesempatan menjalani bulan penuh berkah, syukur karena masih bisa berdoa, berdzikir, membaca Al-Qur’an, dan berbagi dengan sesama. Syukur itu kemudian diwujudkan dalam tekad: menjaga semangat Ramadhan sepanjang tahun, hingga bertemu kembali dengan Ramadhan berikutnya.
Artinya, merawat hati adalah sebuah perjalanan panjang yang tidak berhenti hanya di bulan Ramadhan. Hati yang bersih akan menjadi sumber kekuatan iman, sementara hati yang kotor karena dosa dan cinta dunia akan melemahkan iman dan menutup jalan menuju taqwa.
Oleh karena itu, menjaga kebersihan hati adalah kewajiban yang harus terus dilakukan, agar kita tidak terjebak dalam kelalaian yang membuat hidup kehilangan arah spiritualnya.
Setelah Ramadhan, godaan dunia kembali terasa lebih kuat. Di sinilah pentingnya istighfar, dzikir, doa, dan tilawah – tadabbur Al-Qur’an sebagai benteng penjaga hati.
Dengan istighfar, kita membersihkan noda dosa; dengan dzikir, kita menghidupkan kesadaran akan Allah; dengan doa, kita menyambungkan hati kepada Sang Pencipta; dan dengan tilawah, kita meneguhkan petunjuk hidup. Semua amalan ini adalah cara agar hati tetap lembut, tidak keras, dan selalu terarah kepada kebaikan.
Kesungguhan dalam merawat hati akan melahirkan iman yang kokoh dan taqwa yang tumbuh subur. Hati yang terjaga akan memancarkan ketenangan, menjauhkan dari cinta dunia berlebihan, serta menguatkan langkah menuju ridha Allah.
Maka, kita jangan pernah lengah, karena hati adalah pusat kehidupan spiritual kita. Bila hati terawat, seluruh amal akan menjadi indah, dan jalan menuju taqwa akan terbuka lebar.
Jama’ah Jum’at yang Berbahagia
Kita sangat sadar bahwa kualitas ibadah kita di bulan Ramadhan tidak akan bisa dipertahankan secara penuh, karena memang sebagian perintahnya beda dengan bulan-bulan lainnya. Namun, ibadah-ibadah umum seyogyanya kita bisa istiqamah menjaganya. Rasulullah juga sangat faham kondisi umatnya, sehingga beliau bersabda:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Dari Aisyah RA, dia berkata, Rasulullah Saw bersabda: ‘Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang berterusan walaupun jumlahnya sedikit.’” (HR. Bukhari no. 6465)
Istiqamah yang sedikitpun itu perkara berat kalau menjalankan sendiri-sendiri. Misalnya belajar perlu ada guru, shalat menghadiri jama’ah, dan intinya ketika lalai harus ada orang sekitar yang menasihati. Karena pentingnya hidup bersama dan berjama’ah, sampai Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Quran Surat Ali ‘Imran ayat 103:
وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”.
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam Islam, kebersamaan bukan sekadar kebutuhan duniawi, tetapi juga bagian dari ibadah dan jalan menuju ridha Allah.
Tidak ada seorang pun yang mampu merawat keislamannya secara mandiri tanpa dukungan lingkungan, majelis ilmu, shalat berjama’ah, dan kepemimpinan yang menuntun. Suasana kebersamaan yang kita rasakan di bulan Ramadhan adalah contoh nyata bagaimana umat Islam dapat saling menguatkan dalam iman, amal, dan ukhuwah.
Rasulullah saw tidak membiarkan umatnya kalah dalam mempertahankan nilai keislaman dan tersesat dari arus menuju visi keagungan Islam. Sehingga meskipun dalam perjalanan dan hanya berjumlah tiga orang tetap wajib berjama’ah, sebagaimana dalam hadits yang masyhur:
إِذَا كَانَ ثَلاَثَةٌ فِيْ سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوْا أَحَدَهُمْ
Jika tiga orang berada dalam suatu perjalanan maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pemimpin. (HR Abu Dawud).
Pesan inti dari hadits ini adalah tetap bersatu dan saling menasihati. Persatuan yang dibingkai dengan nasihat, yaitu amar makruf nahi munkar adalah cara terbaik menjaga nilai-nilai keislaman.
Sungguh banyak kelompok atau negara kuat sumber daya alam, manusianya cerdas-cerdas, tetapi karena tidak bersatu dan tidak membawa misi amar makruf nahi munkar akhirnya dilanda krisis moral berkepanjangan.
Kebiasaan di bulan Ramadhan mendatangi majelis-majelis ilmu hendaknya bisa dilanjutkan. Selain semua ibadah dan mu’amalat harus dengan ilmu yang benar, juga dengan ilmu, manusia bisa mencapai peradaban yang tinggi. Tanpa ilmu, ibadah bisa kehilangan arah dan makna. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.“(HR. Muslim)
Syi’ar yang identik dengan bulan Ramadhan adalah shalat berjama’ah di masjid, baik shalat wajib lima waktu ataupun dengan tarawih. Tentu saja suasana ini akan turun drastis seiring lepasnya bulan Ramadhan. Mari kita tetap menghidupkannya karena shalat jama’ah adalah gambaran visi hidup, simbol persatuan dan kepemimpinan.
Dari arah manapun jama’ah datang, menghadapnya sama di dalam masjid, ini adalah proses membangun visi, yaitu menuju Allah swt. Semua bacaan dan gerakan sama, komando hanya satu, yaitu dari imam selaku pemimpin.
Secara tidak sadar, peserta shalat jama’ah sedang membangun shaff dan sistem hidup yang solid. Dan ketika tetap dilakukan di setiap waktu shalat lambat laun akan merefleksi dalam wujud kepemimpinan di tengah masyarakat.
Selain itu, shalat berjama’ah mencerminkan nilai kepemimpinan yang kuat. Imam berdiri di depan, memandu gerakan dan bacaan, sementara makmum mengikuti dengan penuh disiplin. Hal ini mengajarkan bahwa kepemimpinan dalam Islam bukan sekadar posisi, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan tanggung jawab.
Makmum pun belajar untuk taat, sabar, dan menjaga kesatuan barisan, sehingga tercipta harmoni antara pemimpin dan pengikut.
Sidang jama’ah Jum’ah yang Berbahagia
Ramadhan adalah bulan penuh berkah yang tidak hanya mengajarkan umat Islam untuk beribadah secara ritual, tetapi juga mendidik mereka dalam aspek moral dan sosial. Selama sebulan penuh, manusia dilatih untuk menahan hawa nafsu, menjaga kejujuran, serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
Nilai-nilai ini seharusnya tidak berhenti ketika Ramadhan usai, melainkan menjadi fondasi dalam membangun sistem sosial yang lebih sehat dan beradab. Khutbah ini akan menguraikan tiga esensi bagaimana refleksi Ramadhan dapat memengaruhi kehidupan sosial, mulai dari kesabaran, kejujuran, hingga solidaritas.
Pertama, kesabaran dan pengendalian diri. Puasa di bulan Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kesabaran dan pengendalian diri. Apa yang setiap hari menjadi santapan enak lezat, meski halal, dia harus ditinggalkan.
Ada orang mengajak bertengkar atau kelahi, dijawab, No! Saya puasa!. Kemampuan menahan nafsu dan amarah adalah kekuatan dahsyat, sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini menunjukkan bahwa pengendalian diri adalah bentuk kekuatan sejati. Masyarakat yang terbiasa bersabar akan lebih mampu menahan emosi, sehingga perbedaan tidak berujung pada pertikaian. Kesabaran melahirkan sikap bijak, yang menjadi kunci dalam menyelesaikan masalah dengan cara damai.
Hasil dari latihan kesabaran di bulan Ramadhan dapat menjadi energi sosial yang menekan potensi konflik dan memperkuat persatuan. Dengan terbiasa menahan diri, umat Islam akan lebih mudah menumbuhkan rasa empati, tenggang rasa, dan solidaritas. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi ﷺ: “Puasa adalah perisai” (HR. Bukhari dan Muslim), yakni pelindung dari perbuatan buruk dan pertikaian.
Maka, Ramadhan bukan hanya membentuk pribadi yang sabar, tetapi juga menciptakan masyarakat yang harmonis, damai, dan penuh persaudaraan.
Kedua, kejujuran sebagai fondasi sosial. Ramadhan juga menekankan pentingnya kejujuran. Dalam ibadah, kejujuran diuji melalui niat dan konsistensi menjalankan puasa.
Dalam kehidupan sosial, kejujuran menjadi modal utama untuk membangun kepercayaan. Masyarakat yang jujur akan lebih kokoh, bebas dari praktik manipulasi dan korupsi.
Kejujuran yang lahir dari refleksi Ramadhan dapat memperkuat integritas sosial, sehingga sistem sosial berjalan dengan lebih adil dan transparan.
Dengan demikian, Ramadhan berfungsi sebagai pengingat bahwa kejujuran bukan sekadar nilai pribadi, melainkan fondasi kehidupan bersama.
Kejujuran termasuk dalam mengungkap kebenaran akan membawa pelakunya pada kebaikan, dan itulan jalan menuju syurga. Rasulullah saw bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّار
Dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong).
Ketiga, kepedulian dan solidaritas sosial. Ramadhan identik dengan zakat, infak, dan sedekah. Nilai ini menumbuhkan rasa empati terhadap sesama, terutama mereka yang kurang beruntung.
Kepedulian sosial yang lahir dari Ramadhan memperkuat ikatan antar individu dan mengurangi kesenjangan sosial. Solidaritas ini menciptakan masyarakat yang lebih inklusif, di mana setiap orang merasa memiliki tanggung jawab untuk saling menopang.
Jika nilai kepedulian ini terus dijaga, maka masyarakat akan lebih tangguh menghadapi tantangan, baik ekonomi maupun sosial.
Kepedulian sosial pasca Ramadhan adalah wujud nyata dari nilai ta’awun yang diajarkan Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Ma’idah ayat 2:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.”
Ayat ini mengajarkan prinsip dasar kehidupan sosial dalam Islam, yaitu pentingnya bekerja sama dalam hal-hal yang membawa kebaikan, seperti menolong sesama, menjaga keadilan, dan memperkuat ketakwaan kepada Allah.
Sebaliknya, ayat ini melarang keras segala bentuk kerja sama yang mengarah pada kezaliman, dosa, atau permusuhan. Pesan utamanya adalah bahwa solidaritas dan kolaborasi harus diarahkan pada hal-hal positif yang mendekatkan manusia kepada Allah.
Sidang jama’ah Jum’ah yang Berbahagia
Ramadhan adalah momentum transformasi. Kesabaran, kejujuran, dan kepedulian yang dilatih selama sebulan penuh seharusnya menjadi karakter permanen dalam kehidupan sosial.
Jika refleksi ini benar-benar diinternalisasi, maka masyarakat akan lebih damai dan beradab. Ramadhan bukan hanya ritual tahunan, melainkan sebuah proses pendidikan sosial yang mampu memperbaiki sistem kehidupan bersama.
Dengan menjadikan nilai-nilai Ramadhan sebagai pedoman, kita dapat membangun masyarakat yang lebih kuat, berintegritas, dan penuh kasih sayang.
Mengumpulkan nilai di akhir Ramadhan bukan berarti menutup buku, melainkan membuka lembaran baru. Dzikir menenangkan hati, doa menghapus dosa, dan tilawah menguatkan jiwa.
Semua itu bermuara pada satu hadiah: taqwa! Hadiah yang tidak bisa dibeli dengan harta, tetapi hanya bisa diraih dengan kesungguhan ibadah dan ketulusan hati.
Ramadhan mengajarkan bahwa hidup adalah perjalanan menuju Allah. Di akhir bulan suci, kita diajak untuk membawa semangat Ramadhan ke dalam kehidupan sehari-hari: menjaga lisan, menahan amarah, memperbanyak doa, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman. Dengan begitu, Ramadhan terus hidup dalam jiwa.
Hadiah taqwa adalah bekal paling berharga. Ia menjadikan kita pribadi yang lebih sabar, lebih ikhlas, dan lebih kuat menghadapi ujian.
Maka, mari kita jadikan akhir Ramadhan sebagai titik tolak untuk kehidupan baru yang lebih bermakna, lebih terarah, dan lebih dekat dengan Allah.[]
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد
فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ
Do’a Penutup
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ
!عِبَادَاللهِ
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ






