AdvertisementAdvertisement

Memahami Sistem Penjelas Dua Jalan Kehidupan

Content Partner

DALAM akhir Surah Al-Fatihah, manusia itu hanya ada dalam dua jalan. Pertama, orang yang menyusuri jalan orang-orang yang Allah beri nikmat. Kedua, orang yang memasuki jalan orang-orang yang Allah murkai dan orang-orang yang sesat.

Pesan itu menandakan bahwa dalam kehidupan manusia sebenarnya tidak ada banyak pilihan jalan. Manusia hanya berada pada dua arah: jalan yang mendekatkannya kepada rahmat Allah atau jalan yang menjauhkannya dari petunjuk-Nya.

Ketika seseorang membangun tradisi membaca dan belajar sebagaimana perintah Iqra’ bismi rabbik, maka pengetahuannya akan menuntunnya kepada kesadaran hidup yang benar. Dari kesadaran itulah lahir amal saleh. Jalan inilah yang membawa manusia kepada golongan yang Allah beri nikmat.

Sebaliknya, ketika seseorang memilih kemalasan, mencari kekayaan dengan kecurangan, serta mengabaikan petunjuk Al-Qur’an, maka ia sedang bergerak menuju dua kemungkinan jalan yang digambarkan dalam Al-Fatihah: jalan orang-orang yang dimurkai karena mengetahui kebenaran tetapi menolaknya, atau jalan orang-orang yang sesat karena hidup tanpa petunjuk.

Kesadaran Tentang Jalan

Kesadaran tentang dua jalan kehidupan tidak lahir begitu saja. Ia sangat dipengaruhi oleh lingkungan, tradisi berpikir, dan nilai yang mengitari seseorang. Kalau tidak, maka orang akan berpikir sesuai tempat atau lingkungannya semata.

Kalau lingkungan kita sehat, maka akan tumbuh cara berpikir bahkan kesadaran yang sehat. Akan tetapi kalau lingkungan kita tidak memiliki cakrawala berpikir yang luas, maka cita-cita, pikiran dan kesadaran seseorang pun akan menjadi sangat terbatas.

Dalam hal ini, kita harus benar-benar belajar dari orang-orang kafir Quraisy yang tercerahkan dan memeluk Islam. Mereka memiliki kesadaran tentang jalan hidup secara terbuka. Alhasil, begitu mereka mengenal Islam, hatinya tidak lagi memelihara ketakutan pada hal yang tidak esensial.

Bilal, yang secara sosial hanyalah seorang budak, melalui Islam menemukan kesadaran kemerdekaan dirinya. Begitu ia menerima Islam, mentalnya berubah. Ia bukan lagi sekadar budak dalam struktur sosial, tetapi manusia merdeka di hadapan Allah. Kesadaran inilah yang membuatnya sanggup menahan siksaan berat dari tuannya.

Seiring berjalannya waktu, Bilal yang awalnya budak, kemudian memiliki mental merdeka dengan nilai-nilai Islam, pada akhirnya bisa hidup di Syam. Hal ini menandakan bahwa saat seseorang memiliki kesadaran tentang jalan yang harus ia tempuh, maka ia akan mengalami peningkatan kapasitas secara luar biasa.

Menikmati Proses

Orang yang berada di jalan orang-orang yang Allah beri nikmat bukan hanya tekun dalam ibadah ritual. Mereka juga membangun disiplin hidup, menghargai waktu, bekerja dengan dedikasi, dan membentuk kebiasaan yang baik.

Oleh karena itu dalam Ramadhan, kita hendaknya tidak semata berpuasa, tapi juga membangun kesadaran untuk sukses dengan membentuk pola hidup yang baik. Mulai membangun cita–cita, terus berupaya dan totalitas dalam memperjuangkannya.

Dan, pada momentum Ramadhan, jangan terlalu lama untuk mengambil keputusan. Segera!

Dalam psikologi modern pun kita menemukan prinsip yang sama. David J. Lieberman dalam The Psychology of Habit menegaskan bahwa kebiasaan baik harus segera dimulai dengan tindakan nyata.

Dalam Al-Qur’an kita mendapat perintah untuk senantiasa bekerja, nanti Allah, Rasul, dan orang-orang beriman akan menyaksikan pekerjaan kita (QS. At-Taubah: 105).

Pada akhirnya setiap manusia pasti berada pada salah satu dari dua jalan itu. Tidak ada ruang netral dalam kehidupan. Karena itu, sebelum waktu habis, setiap kita perlu bertanya pada diri sendiri: jalan mana yang sedang kita tempuh hari ini. Jawabannya bukan dengan membuka Google Maps, tetapi memperhatikan pola hidup sehari-hari kita sendiri.[]

Mas Imam Nawawi

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Safari Dakwah Ramadhan Hidayatullah Kaltara Perkuat Layanan Keagamaan Hingga ke Malaysia

TAWAU (Hidayatullah.or.id) -- Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Kalimantan Utara memperluas silaturrahim dan syiar Islam hingga ke luar negeri melalui...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img