AdvertisementAdvertisement

Pemuda, Kaderisasi, dan Masa Depan Peradaban

Content Partner

PEMUDA selalu menempati posisi sentral dalam sejarah perubahan sosial dan kebangkitan peradaban. Dalam lintasan sejarah Islam maupun peradaban dunia, hampir seluruh proyek besar transformasi masyarakat digerakkan oleh generasi muda yang memiliki energi, idealisme, dan keberanian melampaui konteks zamannya.

Namun, kita juga harus menyadari bawah potensi tersebut tidak pernah tumbuh dengan sendirinya. Ia hanya bermakna ketika dipertemukan dengan sistem pembinaan, pendampingan, takwin, dan arah perjuangan yang jelas.

Relasi antara generasi muda dan generasi senior dalam sebuah gerakan atau organisasi selalu menyimpan dinamika khas. Pemuda hadir dengan kesegaran gagasan, kecepatan bergerak, dan keberanian bereksperimen, sementara generasi senior membawa kedalaman pengalaman, kearifan strategis, dan memori sejarah.

Tantangan utamanya kemudian bukan memilih salah satu, melainkan bagaimana mengintegrasikan keduanya secara produktif. Ketika relasi ini gagal dikelola, perbedaan mudah berubah menjadi jarak, bahkan konflik laten. Sebaliknya, ketika disinergikan, ia menjadi kekuatan peradaban.

Dalam konteks kaderisasi, persoalan pemuda tidak dapat dibaca semata dari sisi kuantitas. Jumlah yang terbatas sering kali menjadi alarm bagi perlunya evaluasi serius atas sistem pembinaan, daya tarik gerakan, dan relevansi pendekatan terhadap generasi baru.

Namun, kuantitas tidak pernah berdiri sendiri. Yang lebih menentukan adalah kualitas kader, terutama keberadaan inti kader yang memiliki militansi, kapasitas intelektual, dan kesiapan memikul amanah jangka panjang. Sejarah membuktikan bahwa perubahan besar sering kali digerakkan oleh kelompok kecil yang terdidik dan terorganisasi dengan baik.

Pemuda, dalam perspektif organisasi dan peradaban, sejatinya adalah ruang inkubator kepemimpinan. Pada fase ini, kesalahan adalah bagian dari proses, kegagalan adalah ruang belajar, dan pendampingan menjadi kebutuhan utama. Menempatkan pemuda semata sebagai pelaksana teknis tanpa sistem pembinaan yang memadai berisiko melahirkan generasi yang cekatan bekerja tetapi miskin visi. Kepemimpinan strategis tidak lahir dari kelelahan lapangan semata, melainkan dari proses pematangan ide, karakter, dan tanggung jawab.

Keterlibatan pemuda dalam ranah politik juga merupakan keniscayaan historis. Politik, dalam makna luas, adalah ruang distribusi kekuasaan, kebijakan publik, dan sumber daya. Namun, pengalaman sejarah menunjukkan bahwa politik bukan medan yang bisa dimasuki secara spontan dan emosional. Ia memerlukan perencanaan jangka panjang, seleksi kader yang ketat, integritas moral, kapasitas membaca situasi, serta dukungan struktural yang memadai.

Karena itu, tidak semua pemuda diarahkan ke politik praktis, melainkan disiapkan melalui pembentukan kelompok kader strategis yang matang secara intelektual dan etis.

Selain politik, advokasi sosial merupakan medan pembelajaran kepemimpinan yang tak kalah penting. Keterlibatan pemuda dalam pembelaan terhadap kelompok tertindas, korban ketidakadilan, dan masyarakat yang termarjinalkan adalah madrasah empati yang membentuk kepekaan sosial dan keberanian moral.

Di ruang inilah pemuda belajar memahami realitas umat secara langsung, bukan melalui wacana abstrak. Kepemimpinan yang lahir dari pengalaman advokasi semacam ini cenderung memiliki sensitivitas yang lebih dalam terhadap keadilan dan kemanusiaan.

Isu kemandirian juga perlu dibaca secara jernih. Kemandirian adalah tujuan pendidikan kader, tetapi tidak boleh dijadikan dalih untuk melepas tanggung jawab pendampingan. Dalam proses pembinaan, terdapat perbedaan tipis antara melatih kemandirian dan membiarkan kader berjalan sendiri tanpa dukungan.

Organisasi induk memiliki tanggung jawab moral dan struktural untuk menopang pemuda, termasuk dalam aspek dasar kehidupan, agar energi terbaik mereka tidak habis pada perjuangan survival individual, melainkan tercurahkan bagi misi kolektif.

Pertanyaan mendasar yang kemudian muncul adalah siapa yang mendampingi pemuda agar siap menjadi pemimpin peradaban di zamannya. Sejarah menunjukkan bahwa tokoh-tokoh besar tidak lahir secara kebetulan. Mereka dibentuk oleh sistem pendidikan, pembinaan ruhani, latihan intelektual, dan pendampingan guru-guru strategis.

Pemuda hari ini pun membutuhkan ekosistem serupa: mentor ideologis yang menanamkan visi peradaban, pendamping strategis yang membimbing langkah organisasi dan sosial, pelatih keterampilan hidup, serta lingkungan amanah yang tidak membiarkan mereka berjalan sendiri atas nama kemandirian.

Pada akhirnya, pemuda bukan sekadar pelengkap struktur, melainkan penentu masa depan gerakan dan peradaban. Sinergi antara kearifan generasi senior dan semangat generasi muda adalah prasyarat mutlak keberlanjutan. Jika potensi telah disiapkan oleh sejarah dan zaman, maka manusialah yang bertanggung jawab menyiapkan jalan.

Kaderisasi tanpa pendampingan adalah ilusi, dan kemandirian tanpa dukungan berisiko menjadi penelantaran. Pemimpin tidak hadir sebagai pemberian instan, tetapi sebagai hasil dari proses panjang yang konsisten dan bertanggung jawab.[]

*) Ahmad Suyanto Barokah, penulis Pengurus Daerah (PD) Pemuda Hidayatullah Surabaya Jawa Timur

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Ketua Umum Hidayatullah Ingatkan Tanggung Jawab Publik Menuntut Keteladanan Pribadi

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) -- Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH Naspi Arsyad mengingatkan pemangku amanah bahwa tanggung jawab...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img