
BATAM (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Badan Pembina Yayasan Hidayatullah Batam, Ust. Nursyamsa Hadis, mengemukakan bahwa Sistematika Wahyu (SW) sebagai manhaj gerakan Hidayatullah yang selama ini diyakini sebagai arsitektur peradaban perlu segera direposisi dari sekadar kurikulum internal organisasi menjadi tawaran teori peradaban universal.
Hal itu disampaikan Nursyamsa dalam diskusi bertajuk “Sistematika Wahyu dan Tantangan Dialektika Zaman” yang digelar di ruang rapat Kampus Satu Hidayatullah Batam, Senin, 12 Ramadhan 1447 (2/3/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan Ust. Muhammad Hasan, Lc., dan Ust. Dr. Muhammad Ramli sebagai panelis utama, serta diikuti civitas akademika Institut Agama Islam (IAI) Hidayatullah Batam, pengurus yayasan, pimpinan unit pendidikan, serta para murabbi halaqah di lingkungan Hidayatullah Kepulauan Riau.

Dalam pengantar diskusi, Nursyamsa Hadis menyoroti adanya paradoks antara praktik dan narasi intelektual terkait penerapan Sistematika Wahyu.
Menurutnya, konsep tersebut telah lama hidup sebagai praktik pembinaan kader, namun belum sepenuhnya hadir dalam ruang diskursus akademik dan publik secara sistematis.
“Aktivitas di lapangan sesungguhnya telah berlangsung, namun belum diikuti dokumentasi dan pengembangan teoritik yang memadai. Dalam konteks zaman yang menempatkan publikasi sebagai legitimasi gagasan, ide tanpa riset sering kali dianggap tidak hadir,” ujar Nursyamsa Hadis dalam forum tersebut.
Anggota Majelis Penasehat Hidayatullah ini menjelaskan bahwa tantangan utama bukan terletak pada implementasi internal, melainkan pada kemampuan artikulasi ilmiah agar gagasan tersebut dapat dipahami lintas disiplin dan lintas komunitas intelektual.
Diskusi pembuka kemudian mengangkat tema paradoks historis-intelektual yang menunjukkan bahwa internalisasi praksis SW berjalan kuat, sementara pengembangan konseptual di ruang akademik masih memerlukan penguatan.
Dalam sesi pemaparan, para panelis menguraikan hambatan konseptual yang muncul pada aspek bahasa dan terminologi. Istilah istilah atau terminologi Islam yang banyak termuat dalam SW dinilai menghadapi tantangan ketika diterjemahkan ke dalam kerangka akademik modern maupun ekosistem generasi digital. Menurut pemaparan panelis, perbedaan tradisi keilmuan menyebabkan konsep tersebut belum sepenuhnya terjembatani dalam bahasa ilmiah universal.
Diskusi kemudian menekankan pentingnya pembangunan jembatan epistemik melalui dialog dengan filsafat ilmu modern. Pendekatan tersebut dipandang sebagai langkah untuk menghadirkan Sistematika Wahyu sebagai respons konseptual terhadap berbagai tantangan kontemporer, termasuk fenomena disrupsi informasi dan krisis kebenaran di era post-truth.
Dalam pembahasan rekontekstualisasi nilai wahyu, forum menguraikan relevansi surah-surah awal Al-Qur’an dalam menjawab problem modern secara tematik. Surah Al-‘Alaq dipaparkan sebagai landasan menghadapi krisis epistemologi di tengah maraknya hoaks informasi. Surah Al-Qalam dikemukakan sebagai model integritas moral dan ketahanan karakter, sementara Al-Muzzammil dibahas sebagai fondasi penguatan spiritual di tengah fenomena kelelahan psikologis masyarakat modern.
Selanjutnya, Surah Al-Muddaththir diposisikan sebagai kerangka transformasi sosial, sedangkan Al-Fatihah dipresentasikan sebagai grand design peradaban yang memadukan dimensi teologis dan metodologis kehidupan manusia. Pemaparan tersebut menjadi bagian dari upaya menghubungkan nilai wahyu dengan tantangan sosial kontemporer secara sistematis.
Menjelang penutupan diskusi, para panelis menegaskan pentingnya penguatan ekosistem intelektual melalui pengembangan jurnal ilmiah, pusat kajian, serta forum riset yang mampu mengkaji Sistematika Wahyu secara terbuka dan akademik. Forum menyepakati bahwa pengembangan teori memerlukan ruang pengujian ilmiah yang memungkinkan dialog, kritik konstruktif, dan pengayaan metodologis.
Kesimpulan utama diskusi menegaskan bahwa apabila Sistematika Wahyu diposisikan sebagai arsitektur peradaban, maka gagasan tersebut perlu hadir secara terbuka di ruang akademik dan publik, tidak terbatas pada lingkup internal organisasi.
Nursyamsa berharap kegiatan ini menjadi langkah awal penguatan pemahaman konseptual sekaligus pengamalan Sistematika Wahyu dalam kehidupan berjamaah di lingkungan Hidayatullah Kepulauan Riau, sekaligus memperluas ruang dialog intelektual antara tradisi keilmuan Islam dan dinamika pemikiran zaman.






