
DALAM perjalanan panjang sejarah manusia, kisah para nabi dan rasul bukan sekadar rangkaian cerita masa lampau. Ia adalah cermin yang memantulkan satu pola besar bahwa setiap utusan Allah hadir membawa misi perubahan yang mendalam dan menyeluruh.
Bukan perubahan kecil yang bersifat tambal sulam, melainkan transformasi peradaban secara utuh. Inilah yang dalam tradisi keilmuan Islam dikenal sebagai tahawwul hadhori, perubahan mendasar dari tatanan kehidupan yang rusak menuju kehidupan yang berpijak pada tauhid, keadilan, dan akhlak mulia.
Jika ditelusuri lebih jauh, kerusakan masyarakat yang dihadapi para nabi tidak pernah bersifat tunggal. Ia selalu kompleks, merambah keyakinan, moral, struktur sosial, hukum, hingga budaya. Karena itu, solusi yang dibawa para nabi pun tidak parsial. Mereka tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual, tetapi juga membenahi cara manusia berpikir, bersikap, dan mengatur kehidupan bersama.
Transformasi Aqidah
Transformasi pertama dan paling mendasar adalah transformasi aqidah. Para nabi diutus kepada masyarakat yang terjebak dalam kemusyrikan, penghambaan kepada makhluk, benda, kekuasaan, atau hawa nafsu.
Tauhid datang sebagai pembebasan. Ia membebaskan manusia dari ketergantungan palsu dan mengembalikan orientasi hidup hanya kepada Allah. Ketika tauhid tegak, manusia tidak lagi tunduk pada sesama manusia secara zalim, karena ia sadar bahwa hanya Allah yang berhak disembah dan ditaati secara mutlak.
Namun aqidah yang lurus tidak berhenti di keyakinan batin. Ia menuntut pengejawantahan dalam sikap hidup. Di sinilah transformasi moral dan akhlak mengambil peran penting. Masyarakat yang dibenahi para nabi umumnya berada dalam situasi kebodohan moral dimana kejujuran dianggap lemah, amanah dipandang beban, dan kekerasan menjadi hal biasa.
Para nabi hadir untuk menumbuhkan nilai-nilai baru yang membawa nilai kejujuran yang menenteramkan, amanah yang menguatkan kepercayaan, serta kasih sayang yang memuliakan sesama. Akhlak bukan hiasan, melainkan fondasi kehidupan bersama.
Transformasi Sosial
Perubahan akhlak ini kemudian meluas ke ranah sosial. Banyak masyarakat yang dihadapi para nabi hidup dalam sistem penindasan. Yang kuat menekan yang lemah, yang kaya menghisap yang miskin, dan yang berkuasa merasa berhak menentukan nasib orang lain.
Transformasi sosial yang dibawa para nabi memutus mata rantai ketidakadilan tersebut. Mereka menegaskan persamaan derajat manusia, bahwa kemuliaan tidak ditentukan oleh status, harta, atau garis keturunan, melainkan oleh ketakwaan dan integritas moral.
Namun keadilan sosial tidak akan kokoh tanpa perubahan sistem hukum dan tata kehidupan. Inilah transformasi berikutnya. Hukum buatan manusia sering kali lahir dari kepentingan, sehingga tajam kepada yang lemah dan tumpul kepada yang kuat.
Para nabi membawa hukum Allah sebagai penyeimbang, hukum yang menempatkan keadilan sebagai tujuan utama. Hukum ilahi hadir untuk melindungi semua pihak, bukan untuk menguntungkan segelintir orang. Ia menegakkan prinsip bahwa tidak ada seorang pun yang kebal dari tanggung jawab moral dan hukum.
Transformasi Peradaban
Selain itu, para nabi juga melakukan transformasi budaya dan peradaban. Tradisi yang menyimpang tidak serta-merta dimusnahkan, tetapi diarahkan dan dimurnikan.
Budaya yang semula sarat dengan kesia-siaan, kekerasan, dan penghinaan terhadap martabat manusia, diubah menjadi budaya yang bernilai ibadah, bermakna, dan menjunjung tinggi kemanusiaan. Seni, tradisi, dan kebiasaan hidup diarahkan agar selaras dengan nilai tauhid dan etika.
Contoh paling nyata dari keseluruhan proses ini dapat dilihat pada perjalanan Rasulullah ï·º. Beliau tidak hanya menyampaikan wahyu, tetapi membangun sebuah masyarakat baru.
Masyarakat yang sebelumnya terjerumus dalam kejahiliahan perlahan berubah menjadi komunitas yang bertauhid, berilmu, berakhlak mulia, dan berkeadilan. Perubahan itu tidak terjadi seketika, tetapi melalui proses panjang yang penuh kesabaran, keteladanan, dan pengorbanan.
Dari sini kita belajar bahwa para nabi dan rasul bukan sekadar penyampai ajaran di mimbar-mimbar spiritual. Mereka adalah agen perubahan peradaban. Mereka hadir untuk membangunkan manusia dari kelalaian, mengajak berpikir ulang tentang arah hidup, dan menuntun menuju tatanan yang lebih bermartabat.
Refleksi ini menjadi sangat relevan bagi kehidupan kita hari hari ini. Ketika kita menyaksikan krisis moral, ketimpangan sosial, dan ketidakadilan hukum, pesan para nabi seakan kembali mengetuk nurani.
Perubahan sejati tidak dimulai dari sistem semata, tetapi dari manusia yang bersedia membenahi akidah, akhlak, dan tanggung jawab sosialnya. Dari sanalah lahir peradaban yang tidak hanya maju secara materi, tetapi juga luhur secara nilai.[]
*) Ust. Drs. Khoirul Anam, penulis alumni Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, Jatim, Anggota Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sumut, pengasuh kajian rutin Tafsir Al Qur’an di Rumah Qur’an Yahfin Siregar Tamora dan pengasuh Hidayatullah Al-Qur’an Learning Centre Medan






