
TANA TIDUNG (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Provinsi Kalimantan Utara menggelar roadshow dakwah yang dirangkai dengan konsolidasi organisasi ke seluruh kabupaten dan kota di wilayah tersebut.
Kegiatan yang berlangsung selama lima hari, sejak 4 hingga 9 Januari 2026, ini menegaskan kembali bahwa gerakan dakwah Hidayatullah bertumpu pada dua pilar utama, yaitu tarbiyah dan dakwah, sebagai fondasi keberlanjutan perjuangan organisasi.
Agenda roadshow menjangkau Kabupaten Bulungan, Kabupaten Tana Tidung, Kabupaten Malinau, Kota Tarakan, dan berakhir di Kabupaten Nunukan. Kegiatan kunjungan ini sekaligus sebagai instrumen penguatan struktur organisasi sekaligus pembinaan kader di seluruh wilayah Kalimantan Utara.
Berbeda dengan pola roadshow pada umumnya, DPW Hidayatullah Kalimantan Utara mengintegrasikan agenda ini dengan pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah di masing-masing kabupaten dan kota. Skema terpadu tersebut menjadi ruang strategis untuk evaluasi kepemimpinan, regenerasi organisasi, serta penyelarasan arah dakwah agar tetap relevan dengan kebutuhan umat di tingkat lokal.
Rangkaian Musda menghasilkan kepemimpinan baru di setiap daerah. Di Kabupaten Bulungan, forum Musda menetapkan Rahmat Ulama sebagai Ketua DPD Hidayatullah periode 2025–2030.
Di Kabupaten Tana Tidung, musyawarah mufakat memberikan amanah kepemimpinan kepada Hamal Elnath Sabiq untuk lima tahun mendatang. Sementara itu, di Kabupaten Malinau, Musda menetapkan Nurdin Susilo sebagai ketua DPD periode 2025–2030.
Kepemimpinan baru juga terbentuk di wilayah perkotaan dan perbatasan. Musda di Kota Tarakan menunjuk Yusuf Zubair sebagai Ketua DPD Hidayatullah Kota Tarakan. Adapun di Kabupaten Nunukan, yang berada di kawasan perbatasan Indonesia–Malaysia, Musda VI menetapkan Abdul Akhir sebagai Ketua DPD Hidayatullah Kabupaten Nunukan.
Dalam setiap rangkaian penguatan dan sambutan, Ketua DPW Hidayatullah Kalimantan Utara, Muhammad Irsan Sulaiman, menegaskan bahwa pilihan menjadi kader Hidayatullah merupakan pilihan jalan perjuangan yang sarat tanggung jawab. Ia menyampaikan secara tegas bahwa ketaatan terhadap penugasan merupakan konsekuensi logis dari pilihan tersebut.
“Seorang kader harus memahami bahwa dirinya adalah pejuang. Ketika memilih Hidayatullah sebagai jalan juang, maka ketaatan dalam penugasan adalah sebuah keharusan dan kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar lagi,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa eksistensi Hidayatullah pada hari ini merupakan hasil dari pengorbanan generasi terdahulu. Menurutnya, organisasi ini tumbuh bukan dari kenyamanan, melainkan dari kesediaan para kader untuk meninggalkan kepentingan pribadi demi menjalankan amanah dakwah di tengah umat.
“Hidayatullah berdiri dan berkembang karena ada generasi yang taat, ikhlas, dan siap berangkat ke medan dakwah kapan pun dibutuhkan. Inilah ruh perjuangan yang harus terus kita jaga,” lanjutnya.
Dalam penjelasan lebih lanjut, Ustadz Irsan menekankan bahwa gerakan dakwah Hidayatullah memiliki dua mesin penggerak utama, yakni tarbiyah dan dakwah. Di wilayah pedesaan, fokus diarahkan pada pembinaan suku-suku mualaf serta penguatan masjid binaan sebagai pusat dakwah dan pemberdayaan masyarakat.
Sementara di kawasan perkotaan, jelas Irsan, strategi dakwah diarahkan pada pengembangan Rumah-Rumah Qur’an dan optimalisasi Pos Dai sebagai basis pembinaan dan penggerak umat.
Dia mengatakan melalui roadshow dan Musda terpadu ini, DPW Hidayatullah Kalimantan Utara memperkuat konsolidasi struktural, mempertegas kaderisasi, serta menajamkan orientasi dakwah organisasi.
“Dengan kepemimpinan baru di setiap daerah, kita ingin terus meneguhkan langkah untuk melanjutkan perjuangan dakwah secara terorganisir, berkelanjutan, dan berakar kuat di tengah masyarakat,” tandasnya.






