AdvertisementAdvertisement

KHUTBAH JUM’AT Nilai Amal dan Rahasia Kemuliaan Tersembunyi dalam Waktu

Content Partner

khutbah-jumat – aghh1042026

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT yang masih memberikan kesempatan hidup, iman, dan kesehatan kepada kita. Nikmat terbesar yang Allah berikan bukan hanya kehidupan, tetapi kesempatan untuk memperbaiki diri dan mendekatkan hati kepada-Nya.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan agung yang mengajarkan kepada umatnya bagaimana menjalani kehidupan dengan iman, kesabaran, dan pengabdian kepada Allah.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Dalam perjalanan kehidupan manusia, acapkali logika manusia memandang kemuliaan dengan ukuran yang terlihat oleh mata. Manusia menilai kehormatan dari peristiwa besar, pengorbanan yang tampak, atau keberanian yang dikenang. Namun Allah memiliki cara sendiri untuk menilai kemuliaan seorang hamba.

Terdapat sebuah kisah yang diriwayatkan para sahabat tentang dua orang lelaki dari sebuah kabilah yang jauh di perbatasan Irak, dari suku Bulai. Kedua lelaki ini datang ke Madinah dengan hati yang sama: mereka ingin memeluk Islam dan berserah diri kepada Allah.

Persahabatan mereka berdua begitu kuat, dua jiwa yang dipersatukan oleh iman dan kesetiaan.

Suatu ketika panggilan jihad berkumandang. Kedua sahabat ini maju bersama menuju medan pertempuran. Dalam peperangan itu, salah satu dari mereka gugur sebagai syahid.

Kematian syahid adalah kematian yang sangat mulia, kematian yang dicemburui oleh penduduk bumi dan langit, karena syahid dianggap sebagai salah satu jalan tertinggi menuju surga.

Sementara sahabat yang lain tetap hidup. Ia menjalani kehidupannya selama satu tahun setelah wafatnya sahabatnya. Tidak ada peperangan besar yang ia jalani setelah itu. Ia hanya menjalani hari-hari kehidupannya hingga akhirnya wafat di atas pembaringan karena sakit.

Kisah ini kemudian sampai kepada salah seorang sahabat Nabi, yaitu Thalhah. Dalam suatu malam, Thalhah bermimpi berada di depan pintu surga. Di sana ia melihat kedua lelaki dari suku Bulai tersebut.

قَالَ طَلْحَةُ فَرَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ بَيْنَا أَنَا عِنْدَ بَابِ الْجَنَّةِ إِذَا أَنَا بِهِمَا فَخَرَجَ خَارِجٌ مِنْ الْجَنَّةِ فَأَذِنَ لِلَّذِي تُوُفِّيَ الْآخِرَ مِنْهُمَا ثُمَّ خَرَجَ فَأَذِنَ لِلَّذِي اسْتُشْهِدَ

“Aku melihat dalam mimpi bahwa aku berada di depan pintu surga bersama keduanya. Lalu seseorang keluar dari surga dan memanggil orang yang wafat terakhir di antara mereka untuk masuk terlebih dahulu. Setelah itu, orang yang mati syahid dipanggil untuk masuk.”

Ketika Thalhah terbangun dari tidurnya, hatinya dipenuhi tanda tanya. Bagaimana mungkin orang yang wafat karena sakit justru masuk surga lebih dahulu daripada orang yang mati syahid?

Kisah mimpi itu kemudian sampai kepada Rasulullah ﷺ. Para sahabat mengungkapkan keheranan mereka. Mereka berkata bahwa orang yang pertama wafat adalah orang yang sangat bersemangat dalam jihad dan ia mati syahid. Lalu mengapa sahabat yang wafat belakangan justru lebih dahulu dipanggil masuk surga?

Rasulullah ﷺ menjawab dengan sebuah pertanyaan yang sederhana namun sangat mendalam.

أَلَيْسَ قَدْ مَكَثَ هَذَا بَعْدَهُ سَنَةً

“Bukankah orang ini hidup satu tahun setelahnya?”

Para sahabat menjawab bahwa benar ia hidup satu tahun setelah sahabatnya wafat.

Rasulullah ﷺ kemudian melanjutkan penjelasan:

أَلَيْسَ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَصَامَ وَصَلَّى فِي السَّنَةِ

“Bukankah ia sempat bertemu dengan Ramadhan, lalu berpuasa dan melaksanakan shalat dalam satu tahun itu?”

Para sahabat menjawab bahwa benar demikian.

Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda:

فَمَا بَيْنَهُمَا أَبْعَدُ مِمَّا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Perbedaan kedudukan antara keduanya sangat jauh, seperti jarak antara langit dan bumi.”

Jamaah yang dirahmati Allah,

Hadits ini menunjukkan sebuah pelajaran yang sangat mendalam. Seorang syahid yang telah mengorbankan nyawanya ternyata masih bisa dilampaui derajatnya oleh seorang hamba yang mendapatkan tambahan umur, lalu menggunakan waktu itu untuk beribadah kepada Allah.

Tambahan satu tahun usia yang diisi dengan puasa, shalat, sujud, dzikir, dan amal saleh ternyata dapat mengangkat derajat seorang hamba dengan sangat tinggi di sisi Allah.

Hari ini kita berada di bulan Syawal. Ramadhan telah berlalu, namun nilai-nilainya tidak seharusnya ikut berlalu. Ramadhan telah menjadi ladang ibadah yang sangat luas bagi orang-orang yang memanfaatkannya dengan iman dan kesungguhan.

Allah SWT berfirman:

لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS Al-Qadr: 3)

Ayat ini mengingatkan bahwa waktu-waktu tertentu yang Allah anugerahkan kepada manusia memiliki nilai yang melampaui perhitungan logika manusia. Ramadhan adalah salah satu waktu yang penuh keberkahan itu.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dan beliau juga bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa melaksanakan ibadah malam di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari)

Semua itu menunjukkan bahwa Ramadhan adalah kesempatan besar yang Allah berikan kepada manusia untuk memperbaiki dirinya.

Namun kini kita berada di bulan Syawal. Syawal adalah waktu untuk membuktikan apakah ibadah yang kita lakukan di Ramadhan benar-benar membentuk karakter dan kedekatan kita dengan Allah.

Jika kita masih mampu menjaga shalat dengan baik, masih mampu membaca Al-Qur’an meski terbata-bata, masih mampu berdzikir dan berbagi dengan sesama, maka itu adalah tanda bahwa cahaya Ramadhan masih hidup di dalam hati kita.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Tambahan umur yang Allah berikan kepada manusia adalah amanah. Setiap hari yang kita jalani adalah kesempatan untuk menambah sujud, memperbanyak amal, dan memperbaiki diri.

Kita tidak pernah tahu apakah kita akan bertemu Ramadhan berikutnya atau tidak. Karena itu, waktu yang kita miliki hari ini harus digunakan sebaik mungkin untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Semoga Allah menjaga hati kita agar tetap istiqamah dalam kebaikan, menerima amal ibadah kita, dan menjadikan kehidupan kita penuh keberkahan hingga akhir hayat. Aamiin.

أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا

اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

KH Naspi Arsyad Ketengahkan Konsep Ihtisab dalam Mengatasi Fenomena Anxiety Disorder

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) -- Salah satu masalah kesehatan yang banyak melanda masyarakat modern hari ini adalah fenomena kecemasan berlebihan atau...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img