
NUNUKAN (Hidayatullah.or.id) — Di wilayah perbatasan utara Indonesia, tepatnya di sejumlah titik pelosok Kabupaten Nunukan, aktivitas pembelajaran Al-Qur’an berlangsung setiap hari.
Di empat wilayah binaan, lantunan ayat suci tidak hanya terdengar dari suara anak-anak, tetapi juga dari para lanjut usia yang mengikuti proses belajar membaca Al-Qur’an secara rutin.
Para peserta didik tersebut merupakan bagian dari 66 santri yang terdaftar di Rumah Qur’an binaan Muslimat Hidayatullah (Mushida) Nunukan. Kehadiran santri lansia menjadi gambaran keterlibatan lintas usia dalam pembelajaran keagamaan yang diselenggarakan di kawasan perbatasan negara.
Rumah Qur’an ini menjadi salah satu sarana pendidikan Al-Qur’an yang diakses masyarakat setempat tanpa memandang latar usia.
Siti Aisyah, pengajar Mushida Nunukan, menyampaikan pengalamannya mendampingi para santri lansia dalam proses belajar.
“Melihat antusiasme nenek-nenek di sini adalah suntikan semangat bagi kami. Bayangkan, dari yang awalnya buta huruf, sama sekali tidak mengenal huruf hijaiyah, kini alhamdulillah sudah lancar membaca Al-Qur’an,” ungkap Siti Aisyah pada Sabtu, 5 Sya’ban 1447 (24/1/ 2026). Ia menjelaskan bahwa pembelajaran dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan masing-masing santri.
Untuk mendukung keberlanjutan kegiatan tersebut, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) Perwakilan Kalimantan Utara kembali menyalurkan dukungan operasional bagi Rumah Qur’an Mushida Nunukan.
Dukungan tersebut mencakup pembiayaan operasional, penyediaan mushaf Al-Qur’an, serta buku Iqra resmi yang direncanakan berlangsung sepanjang tahun 2026.
Kepala Unit Layanan Zakat (ULZ) BMH Nunukan, Safriadi, menjelaskan bahwa dukungan berkelanjutan menjadi bagian penting dari proses pembelajaran di wilayah binaan. Empat lokasi yang menjadi fokus pendampingan meliputi Mambunut Dalam, Mambunut Luar, Kampung Baru, dan Selisun.
“Dukungan ini adalah bentuk apresiasi kami atas semangat luar biasa para santri dan guru mengaji. Kami ingin memastikan alat dan biaya tidak lagi menjadi kendala bagi mereka yang rindu membaca firman-Nya,” tutur Safriadi.
Bagi para santri lansia di Nunukan, Rumah Qur’an berfungsi sebagai ruang pembelajaran sekaligus tempat berkumpul untuk mengikuti kegiatan keagamaan secara teratur.
Aktivitas ini berlangsung di wilayah perbatasan Indonesia, memperlihatkan keterlibatan masyarakat dalam pendidikan Al-Qur’an yang terus berjalan melalui kerja sama antara Mushida Hidayatullah dan Laznas BMH.






