AdvertisementAdvertisement

Disrupsi Digital, Polarisasi Informasi dan Perubahan Cepat Geopolitik Global Menjadi Tantangan Gen Z

Content Partner

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (PP GMH), Rizki Ulfahadi, mengingatkan bahwa generasi Z saat ini dihadapkan pada tantangan disrupsi digital, polarisasi informasi, serta perubahan geopolitik global yang berlangsung cepat. Kondisi tersebut, menurutnya, menuntut mahasiswa memiliki fondasi intelektual dan spiritual yang kokoh agar mampu membaca realitas secara utuh dan bertanggung jawab.

Rizki mengutarakan itu dalam rangkaian Dialog Kebangsaan yang diselenggarakan PP GMH secara daring pada Sabtu, 12 Sya’ban 1447 (31/1/ 2026), yang mengangkat tema “Daya Kritis Mahasiswa: Modal Gen Z Membaca Dunia”.

Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan menjadi ruang diskusi lintas kampus untuk membahas peran strategis mahasiswa dalam merespons dinamika kebangsaan dan global.

Rizki Ulfahadi menegaskan bahwa mahasiswa memiliki posisi penting dalam menjaga arah perjalanan bangsa. Ia menyampaikan bahwa daya kritis mahasiswa tidak dapat dilepaskan dari nilai dan integritas.

Menurut pria asal Sumatera Barat ini, identitas keislaman dan keindonesiaan merupakan pijakan utama dalam membangun perspektif yang menyeluruh ketika membaca fenomena sosial, politik, dan budaya.

“Daya kritis harus dibangun di atas nilai dan integritas. Mahasiswa tidak boleh tercerabut dari identitas keislaman dan keindonesiaannya. Justru dari sanalah lahir perspektif yang utuh dalam membaca realitas,” ujarnya.

Rizki menjelaskan, Dialog Kebangsaan ini menjadi ruang pembelajaran sekaligus penguatan jejaring intelektual mahasiswa lintas daerah. Melalui kegiatan tersebut, PP GMH menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan forum-forum diskusi strategis yang mendorong lahirnya mahasiswa yang kritis, berintegritas, dan berkontribusi aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kegiatan ini juga sebagai bagian dari upaya mempersiapkan generasi muda menghadapi agenda Indonesia Emas 2045. Sebagai organisasi berbasis kader, kami berharap dialog ini menjadi titik awal konsolidasi pemikiran mahasiswa dalam membangun peradaban yang berlandaskan nilai, ilmu, serta keberpihakan pada kepentingan umat dan bangsa,” imbuhnya.

Kecermatan Membaca Konteks

Dialog ini menghadirkan tokoh literasi nasional, Imam Nawawi, sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, Imam Nawawi menekankan pentingnya penguatan budaya literasi dan kemampuan berpikir kritis di kalangan generasi Z, khususnya mahasiswa.

Penulis buku Mindset Surga ini menyampaikan bahwa derasnya arus informasi global menuntut kemampuan membaca konteks dan memilah informasi secara cermat.

Menurut Imam Nawawi, daya kritis tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menyampaikan kritik, tetapi juga mencakup kecakapan memahami dinamika sosial-politik, menilai relevansi informasi, serta menawarkan solusi yang berbasis pengetahuan.

“Mahasiswa harus menjadi pembaca dunia yang aktif, bukan sekadar konsumen informasi,” tegas Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect) ini, lalu menekankan peran mahasiswa sebagai subjek aktif dalam produksi dan pemaknaan pengetahuan.

Ia juga menjelaskan bahwa pada era informasi yang berlimpah, mahasiswa perlu mengembangkan nalar kritis agar tidak terjebak pada pengulangan narasi populer tanpa memahami esensi di baliknya.

Menurutnya, nalar kritis merupakan kemampuan untuk memberi jarak terhadap otoritas, tren, maupun algoritma digital, sehingga ruang bagi pertanyaan yang jujur dan pemikiran independen tetap terjaga.

“Nalar kritis bukan sekadar kemampuan berdebat, tetapi kemampuan menunda kepatuhan pada otoritas, tren, atau algoritma demi memberi ruang bagi pertanyaan yang tulus dan pemikiran independen, sehingga mahasiswa dapat membedakan fakta dari propaganda serta data dari narasi yang bermuatan kepentingan tertentu,” papar Imam.

Diskusi ini dipandu oleh moderator, Giri Novela, yang juga menjabat sebagai Ketua Departemen Organisasi dan Pengembangan Jaringan PP GMH.

Selama forum berlangsung, sesi tanya jawab menunjukkan antusiasme peserta. Mahasiswa dari berbagai kampus menyampaikan pandangan, pertanyaan, serta refleksi kritis terkait tantangan generasi muda dalam menghadapi banjir informasi, budaya instan, dan fenomena post-truth di era digital.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Membangun Sistem Kesadaran dalam Ramadhan

RAMADHAN telah datang berulang kali dalam kehidupan sebagian besar umat Islam. Jika urusan Ramadhan sebatas ibadah mahdhah, maka target...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img