
RAJA AMPAT (Hidayatullah.or.id) — Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Water Rescue yang digelar oleh SAR Hidayatullah Papua Barat menjadi bagian dari upaya sistematis penguatan kapasitas relawan kebencanaan di kawasan perairan timur Indonesia.
Program ini dilaksanakan selama enam hari, 10–15 Januari 2026, di kawasan wisata Pantai Saleo, Kabupaten Raja Ampat. Sebanyak 45 peserta mengikuti rangkaian diklat secara intensif dengan latar belakang yang beragam.
Peserta berasal dari unsur Pemuda dan SAR Hidayatullah Papua Barat serta Papua Barat Daya, Garda Bangsa Papua Barat, Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Wilayah Sorong, Gabungan Relawan Program Keluarga Harapan (PKH) Sorong, serta mahasiswa Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong.
Koordinator Pelaksana kegiatan, Fadhlurrahman Anshari, menjelaskan bahwa diklat ini merupakan langkah konkret untuk meningkatkan kesiapsiagaan sumber daya manusia dalam menghadapi situasi darurat di laut, seiring dengan meningkatnya aktivitas transportasi dan pariwisata bahari di wilayah kepulauan.
Ia menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Provinsi Papua Barat melalui bantuan dana hibah, yang memungkinkan kegiatan berjalan dengan fasilitas dan instruktur sesuai standar.
“Dukungan pemerintah menjadi faktor penting dalam memastikan pelatihan berlangsung optimal, baik dari sisi sarana maupun kualitas materi,” katanya.
Potensi SAR Menjadi Kebutuhan Strategis
Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Pos Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan Raja Ampat, Joko Prasetyo. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kolaborasi antar-potensi SAR merupakan kebutuhan strategis, khususnya di wilayah perairan yang berkembang sebagai destinasi wisata internasional.
Menurutnya, keterpaduan antara relawan, lembaga sosial, dan institusi pemerintah berperan penting dalam mempercepat penanganan kecelakaan laut secara terkoordinasi.
“Wilayah perairan wisata membutuhkan kesiapsiagaan tinggi. Kolaborasi menjadi kunci agar respons penanganan dapat berlangsung cepat, tepat, dan terarah,” ujarnya.
Joko Prasetyo juga menyoroti tantangan geografis Raja Ampat yang menuntut kehadiran relawan dengan kompetensi teknis memadai, tidak hanya bermodal semangat kemanusiaan.
Oleh karena itu, jelas Joko, pelatihan berjenjang seperti Diklat Water Rescue dipandang relevan untuk memperkuat kapasitas lokal dalam mendukung tugas-tugas pencarian dan pertolongan di wilayah perairan yang memiliki tingkat risiko tinggi.
Dukung Sistem Kemanusiaan Nasional
Hadir pula dalam pembukaan kegiatan, Ketua Umum SAR Hidayatullah, Alfarobi Nurkarim Enta. Dia menegaskan arah kebijakan organisasi dalam membangun relawan yang profesional, disiplin, dan berakhlak.
Ia menegaskan bahwa penguatan kompetensi relawan bukan semata kebutuhan kelembagaan, melainkan kontribusi nyata bagi sistem kemanusiaan nasional, khususnya di wilayah kepulauan yang rawan kecelakaan laut.
Menurutnya, diklat ini menjadi ruang pembelajaran bersama untuk membangun standar kompetensi yang selaras dengan kebutuhan lapangan dan tantangan geografis Indonesia sebagai negara maritim.
“Kegiatan ini sangat penting untuk mempersiapkan sumber daya potensi dalam aksi pencarian dan pertolongan, terutama di wilayah perairan. Relawan harus dibekali keterampilan yang terukur, disiplin yang kuat, serta semangat pengabdian yang berlandaskan nilai kemanusiaan,” ujar Alfarobi Nurkarim Enta.
Ia juga menekankan bahwa kerja-kerja SAR dipandang sebagai bagian dari amanah keislaman dan tanggung jawab kebangsaan. Nilai tolong-menolong, kepedulian terhadap keselamatan jiwa, serta pengabdian kepada masyarakat menjadi fondasi etik yang sejalan dengan spirit keislaman dan keindonesiaan.
“Karena itu, penguatan kapasitas teknis melalui pelatihan berjenjang seperti diklat kali ini adalah sebagai ikhtiar serius agar relawan mampu bekerja secara aman, terkoordinasi, dan sesuai prosedur,” katanya.
Selama pelatihan, peserta menerima pembekalan teori dan praktik lapangan secara seimbang. Materi meliputi teknik renang penyelamatan, pengoperasian perahu karet, manajemen keselamatan di perairan, serta prosedur bantuan hidup dasar bagi korban tenggelam.
Seluruh rangkaian dirancang untuk meningkatkan keterampilan teknis sekaligus membangun koordinasi tim dalam situasi darurat. Dia menambahkan, penguatan relawan di wilayah kepulauan seperti Raja Ampat menjadi bagian dari upaya menjaga keselamatan warga dan wisatawan, sekaligus mendukung peran Indonesia sebagai negara maritim yang bertanggung jawab.






