AdvertisementAdvertisement

Hidayatullah Sulsel Tegaskan Orientasi Amal Shaleh yang Terstruktur dan Berkelanjutan

Content Partner

BONE (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulawesi Selatan, Dr. Muhammad Saleh Usman, menegaskan bahwa istilah “program kerja” dalam perspektif Al-Qur’an pada hakikatnya adalah amal shaleh. Ia menyampaikan bahwa aktivitas organisasi sebagai ikhtiar kolektif yang terstruktur untuk menguatkan iman dan mewujudkan amal shaleh secara berkelanjutan dalam bingkai dakwah.

Penegasan tersebut disampaikan Muhammad Saleh Usman saat membuka Rapat Kerja Daerah Gabungan Kabupaten Bone, Soppeng, dan Wajo yang digelar di Komplek Pondok Pesantren Hidayatullah Salaonro, Jalan Poros Watansoppeng – Pampanua, Kecamatan Lili Rilau, Kabupaten Soppeng, pada Senin, 14 Sya’ban 1447 (2/1/2026).

Dalam forum tersebut, Saleh menekankan pentingnya kepemimpinan Qur’ani sebagai fondasi pengelolaan organisasi, sekaligus penguatan amal shaleh sebagai landasan utama perumusan dan pelaksanaan program.

Saleh menjelaskan bahwa seluruh program yang dijalankan organisasi pada dasarnya merupakan wujud amal shaleh. Oleh karena itu, setiap program perlu dikomunikasikan dengan baik serta dilandasi niat yang benar.

“Semua program yang kita jalankan hakikatnya adalah amal sholeh. Oleh karena itu, harus dikomunikasikan dengan baik dan dilandasi niat yang benar,” ujarnya.

Dalam arahannya, Saleh juga mengingatkan bahwa aspek finansial memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas dakwah, namun tidak dapat dijadikan ukuran utama dalam beramal.

Ia menyampaikan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah menjadikan kesiapan materi sebagai syarat pokok dalam menjalankan dakwah. Dia mengingatkan bahwa kekuatan dakwah bertumpu pada keyakinan dan konsistensi, bukan pada besarnya dukungan finansial.

Sebagai contoh, Saleh menyebut perkembangan dakwah di wilayah Bone dan Soppeng yang menurutnya tumbuh dari keyakinan dan komitmen, bukan dari kekuatan materi. Ia menggambarkan keterbatasan sumber daya tidak menjadi penghalang bagi keberlangsungan dakwah selama dilandasi niat yang lurus dan kerja nyata.

Dalam pada itu, Saleh mengutip QS At-Taubah ayat 105 untuk menegaskan bahwa keyakinan harus diwujudkan dalam bentuk amal dan kerja yang nyata. Namun, ia juga mengingatkan bahwa kuantitas amal tidak otomatis bernilai di sisi Allah apabila disertai dengan niat yang keliru atau praktik kezaliman. Penekanan ini disampaikan untuk menjaga orientasi amal agar tetap berada dalam koridor keikhlasan.

“Bahkan amal para ahli Al-Qur’an, mujahid, dan dermawan bisa gugur jika tidak ikhlas karena Allah,” tegasnya.

Muhammad Saleh Usman menegaskan bahwa dakwah harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat, baik di wilayah pedesaan, perkotaan, maupun kalangan pejabat dan pemangku kebijakan.

Dia menekankan bahwa seluruh program kerja harus dibangun di atas kesepakatan dan kemauan bersama. Ia mengibaratkan sebuah program tidak akan terwujud tanpa kesepahaman, sebagaimana sebuah gazebo tidak akan berdiri jika tidak ada kerja sama antar pihak.

Ia juga mengurai sejumlah faktor yang kerap melahirkan sikap “tidak mau” dalam menjalankan program, di antaranya karena tidak memahami program, terjadi salah paham, atau faktor kondisi personal seperti sakit. Karena itu, ia menegaskan pentingnya kehadiran pendamping atau konselor dalam struktur untuk membantu memahamkan program kepada kader.

“Jika kita mengaku sebagai kader, maka hindari segala sesuatu yang bisa merusak ukhuwah,” tegas pria yang sebelumnya mengemban amanah sebagai Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah ini.

Pada kesempatan tersebut, Ketua DPW juga menekankan bahwa Marhalah Ula merupakan standar dasar keimanan, keislaman, dan ketakwaan seseorang secara hakiki, yang harus menjadi pijakan bersama dalam menjalankan seluruh agenda dakwah dan organisasi.

Rapat Kerja Daerah Gabungan ini juga ditandai dengan pembacaan Surat Keputusan pengurus Dewan Pengurus Cabang oleh Dewan Pengurus Daerah Bone. Pengurus yang ditetapkan meliputi DPC Tanete Riattang Barat dengan ketua Ustadz Bachtiar, DPC Amali dengan Ustadz Darman, DPC Patimpeng dengan Ustadz Munshif, DPC Kahu dengan Ustadz Herman, DPC Ponre dengan Ustadz Kaharuddin, serta DPC Sibulue dengan Ustadz A. Muh. Ishak.

Rakerda berlangsung intensif sehari penuh dengan agenda utama sinkronisasi program dakwah, pendidikan, dan pelayanan umat lintas kabupaten Bone, Soppeng, dan Wajo. Selain itu, forum ini diarahkan untuk memperkuat soliditas struktur organisasi di tingkat daerah dan cabang agar pelaksanaan program berjalan selaras dengan prinsip amal shaleh sebagai orientasi utama gerakan.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Membangun Sistem Kesadaran dalam Ramadhan

RAMADHAN telah datang berulang kali dalam kehidupan sebagian besar umat Islam. Jika urusan Ramadhan sebatas ibadah mahdhah, maka target...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img