
USTADZ Abdullah Said memang sosok yang tak biasa. Usia belia, terutama kala duduk di PGAN 6 Tahun Makassar, sebagian uang tunjangannya dimanfaatkan untuk membeli buku. Lokus favoritnya adalah toko buku. Wisatanya adalah ke toko buku. Ia pun tak main asal beli, ia melakukan riset lebih awal, sehingga benar-benar yakin ia perlu buku untuk dibeli. (Buku Mencetak Kader, hal: 13).
Manusia seluruh dunia memahami bahwa membaca adalah aktivitas penting. Terutama jika seseorang ingin secara efektif memperoleh ilmu dan pengetahuan. Jadi, kalau ada anak muda jauh dari aktivitas membaca, ia sama dengan sedang membuat eksistensinya menjadi kurang atau bahkan tidak penting.
Sebab membaca melibatkan proses berpikir untuk memahami konten yang tersaji dalam setiap teks bacaan, terutama buku. Lebih dari apapun, membaca adalah perintah Allah SWT yang pertama kepada Nabi Muhammad SAW dan tentu saja kepada kita.
Tapi membaca saja tidak cukup. Butuh landasan esensial. Abdullah Said pun bertemu dengan ayat Alquran: “Iqra’ Bismirabbik”.
Makna Iqra’ Bismirabbik
Sebagian pendapat kita dapat temukan dengan mudah, bahwa Iqra’ artinya menghimpun. Jadi membaca idealnya menghasilkan “himpunan” data yang bisa kita olah. Dengan adanya diksi “Bismirabbik” arahnya jelas, kita mesti membaca yang membuat hati yakin kepada Rabb (Allah SWT).
Apa yang kita himpun itu? Bisa bongkahan ilmu dari literatur, karena kita sudah dalam era modern. Bisa pula berupa bongkahan emas pemahaman, ilmu dan hikmah, dalam arti membaca alam, memperhatikan alam dan seluruh objek dalam hidup yang mungkin untuk kita baca.
Selain itu Iqra’ Bismirabbik tidak menetapkan objek tertentu, maka membaca dalam konteks ini bisa sangat luas sekali.
Syekh Ibnu ‘Asyur berpandangan bahwa ada dua alasan penting mengapa objeknya sengaja Allah “kosongkan” (Muhammad At-Thahir ‘Asyur, At-Tahrir wat Tanwir).
Pertama, meminjam bahasa anak Gen-Z supaya kita langsung nangkap bahwa ayat itu targetnya “kita punya vibe yang “Just Do It”.
Di sini, kata “Bacalah” itu berfungsi kayak action murni. Maksudnya, Allah cuma pengen bilang: “Wujudkanlah budaya membaca!”
Prinsipnya jelas, kita harus mulai baca, titik. Tidak harus pilih-pilih dulu, yang penting bangun dulu kebiasaan literasinya. Gemar membaca.
Kedua, dalam tinjauan semantik, penghapusan objek (maf’ul bih) pada kata “Iqra” dapat dipahami melalui pendekatan konteks situasi atau elipsis.
Alasan kedua yang dikemukakan oleh Ibnu ‘Asyur menjelaskan bahwa objek dari perintah tersebut sebenarnya sudah bersifat implisit karena kejelasan konteksnya.
Hal ini dapat dianalogikan secara sederhana dalam komunikasi sehari-hari: ketika seseorang berada tepat di hadapan sebuah minuman dan diperintahkan untuk “Minum!”, maka secara logika bahasa, tidak perlu lagi ditegaskan bahwa objek yang harus diminum adalah minuman tersebut.
Dalam konteks turunnya wahyu, perintah ini mengandung pesan spesifik: “Bacalah apa yang akan Kami sampaikan kepadamu, yakni ayat-ayat Al-Qur’an.”
Dengan demikian, meskipun objeknya tidak disebutkan secara eksplisit dalam teks, maksud tujuannya sudah terdefinisi secara jelas oleh konteks kenabian.
Singkatnya lagi, kitab Syekh Musthafa Al-Maraghi menafsirkan Surat Al-‘Alaq ayat pertama dengan: “Jadilah orang yang mampu membaca dengan kekuasaan Allah yang menciptakanmu dan menghendaki setelah engkau tidak dapat melakukan itu.
Sesungguhnya Muhammad saw tidak dapat membaca dan menulis. Perintah ilahi datang supaya Muhammad dapat membaca, sekalipun tidak dapat menulis. Allah akan memberikan kitab kepadanya untuk ia bacakan, meskipun ia tak dapat menulisnya.” (Tafsir Al-Maraghi).
Penguatan Intuisi
Iqra’ Bismirabbik mengantar Abdullah Said pada satu pemahaman penting, bahwa semestinya umat Islam tidak mengabaikan karunia Allah yang begitu besar, yakni intuisi.
Selama ini dunia pendidikan terjebak pada dua area saja dalam tubuh manusia, otak dan otot semata. Intuisi tidak mendapat perhatian mendalam.
“Padahal ia nyata-nyata eksis, bahkan bila ditempa, kehebatannya sering mengherankan. Orang mengistilahkan dengan indera keenam, kesepuluh, dan sebagainya.” (Buku Mencetak Kader, hal: 183).
Pemahaman itulah yang kemudian menemukan metode bagaimana iman meneguhkan ilmu sekaligus melahirkan semangat beramal.
“Allah yang di Balikpapan sama dengan Allah yang di Papua.” Begitu kalimat yang menguatkan langkah kaki murid-murid Abdullah Said ketika mendapat tugas dakwah, membuka pesantren baru di berbagai daerah.
Saya sendiri pernah bertemu Ust. Asdar Hambal di Manokwari. Beliau bertutur, ketika mendapat tugas dan semua yang akan tugas disalami oleh Ust. Abdullah Said. Sembari memegang tangan Asdar, Ust. Abdullah Said berpesan, “Ajari saja orang di sana mengaji. Istilah beliau “Alif-alifan”.
Jadi, membaca satu ayat, Iqra’ Bismirabbik, membuat begitu banyak kader-kader Hidayatullah yang penuh keterbatasan, yakin kepada Allah. Tanpa modal uang, bahkan tanpa petunjuk alamat yang jelas, semua yang berangkat, akhirnya meraih capaian besar bagi umat. Kini Pesantren Hidayatullah eksis dari Aceh sampai Papua.
Namun, meski telah selesai satu periode setengah abad pertama, kita masih punya tugas untuk satu periode setengah abad kedua perjalanan Hidayatullah. Pertanyaannya sederhana, bagaimana Iqra’ Bismirabbik ini akan kita formulasikan sebagai gelombang dahsyat untuk memenangkan dakwah.
Inilah yang harus kita rumuskan, agar tak mudah lelah, tak gampang ciut dan tetap mengerucut, menggapai visi “Membangun Peradaban Islam”.
*) Mas Imam Nawawi, pegiat literasi Hidayatullah






