
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Rais ‘Aam Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, memberi arahan mengenai urgensi penguasaan tiga pilar ilmu utama sebagai prasyarat mutlak dalam menjalankan amal ibadah untuk tegaknya peradaban Islam. Penyampaian tersebut berlangsung di Masjid Ar Riyadh, Kampus Ummulqura Hidayatullah, Gunung Tembak, Balikpapan, belum lama ini.
Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan bahwa keberhasilan sebuah gerakan dan diterimanya amal perbuatan sangat bergantung pada pemahaman yang tuntas terhadap ilmu iman, syariat, dan ihsan.
KH Abdurrahman Muhammad menyoroti pentingnya persatuan dalam jamaah kaum muslimin yang direfleksikan melalui semangat persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Ansar. Beliau menegaskan bahwa kolaborasi dalam ketakwaan merupakan syarat mutlak bagi tegaknya Islam.
Menurutnya, membangun jamaah dan kepemimpinan adalah manifestasi dari penerapan nilai-nilai Islam itu sendiri. Hal ini menjadi landasan awal sebelum memasuki pembahasan mengenai struktur keilmuan yang lebih mendalam.
Abdurrahman memaparkan bahwa pilar pertama adalah ilmu iman. Ilmu ini bersifat esoteris yang berkaitan dengan aspek-aspek metafisika dan kondisi batiniah manusia.
“Al-Islam itu menerangkan syariat yang nyata. Sedangkan ilmu iman itu menerangkan hakikat yang efeknya kepada hati, pikiran, semua yang gaib,” ujarnya, menjelaskan distingsi antara penerapan syariat dan penanaman iman. Kejelasan mengenai hakikat ini dianggap krusial agar setiap langkah yang diambil oleh seorang mukmin memiliki orientasi spiritual yang benar.
Pilar kedua yang ditekankan adalah ilmu syariat atau ilmu Islam. KH Abdurrahman Muhammad menyoroti fenomena di mana banyak umat Islam yang merasa cukup dengan pengetahuan permukaan tanpa melakukan proses verifikasi atau talaqqi kepada guru yang berkompeten.
Ia mendorong agar setiap individu tidak hanya terpaku pada tilawah Al-Quran, tetapi juga memastikan kaifiat atau tata cara ibadah fardu seperti salat telah sesuai dengan standar yang benar.
Ia bertanya retoris kepada jamaah mengenai sejauh mana perhatian mereka terhadap validitas ibadah harian. Penekanan berupa pertanyaan ini menunjukkan bahwa pemahaman prosedural terhadap syariat, mulai dari tata cara wudu hingga bacaan salat, adalah fondasi teknis yang tidak boleh diabaikan, karena tanpa validitas syariat, ibadah menjadi tidak sah.
“Bukan saja Quran mau di-talaqqi, tetapi sesudah beriman ini bagaimana syariat di-talaqqi? Siapa yang sudah pernah mentalaqikan salatnya? Yang sudah berdiri di depan guru dan melihat, coba lihat salat saya sudah benarkah secara kaifiat,” tegasnya seperti dikutip dari rekaman video siaran live streaming acara Refleksi Akhir Ramadhan & Bekal Perjuangan melalui kanal Youtube Ummulqura Hidayatullah, Kamis, 14 Syawal 1447 (2/4/2026).
Pilar ketiga yang menjadi pelengkap adalah ilmu ihsan. KH Abdurrahman Muhammad mengakui bahwa istilah ihsan memiliki dimensi yang sangat luas dan mendalam, sehingga sulit untuk disederhanakan hanya ke dalam istilah etika atau estetika saja.
Ihsan menurutnya mencakup kesadaran penuh akan kehadiran Tuhan dalam setiap aktivitas, sebagaimana definisi klasik yaitu beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya. Ia mengaitkan konsep ini dengan gelar yang diberikan Allah kepada para nabi dalam Al-Quran.
“Ilmu tentang ihsan, ilmu tentang kebaikan-kebaikan. Ihsan sebenarnya ini sulit juga diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Saya mau mengatakan etika dan estetika belum mencakup juga,” tambahnya.
Keterkaitan ketiga pilar ini, menurut beliau, adalah kunci utama agar sebuah amal dapat diterima di sisi Allah SWT. Syariat memastikan kesesuaian amal dengan tuntunan Nabi, sementara ilmu tentang ihsan dan iman memastikan hadirnya keikhlasan dalam hati. Ia memperingatkan bahwa kegagalan dalam menguasai ketiga ilmu ini menyebabkan macetnya kebangkitan Islam di berbagai sektor. Ini tiga pokoknya ilmu yang harus selesai.
“Tidak selesai ini ilmu tidak ada landasannya amal. Karena di sinilah lahir di mana ibadah itu diterima kalau sesuai dengan syariat Nabi. Ibadah itu bisa diterima kalau dia ikhlas. Tapi kalau tidak ada ilmunya tentang ikhlas, bagaimana bisa ikhlas”, katanya menekankan.
KH Abdurrahman Muhammad lantas memaparkan ini dalam perspektif sejarah dengan memberikan tamsil mengenai kebangkitan bangsa Jepang setelah kehancuran luar biasa pada Perang Dunia Kedua. Ia mengisahkan bagaimana Kaisar Hirohito lebih memilih untuk mengumpulkan para guru yang masih hidup sebagai langkah pertama rekonstruksi bangsa daripada fokus pada pembangunan infrastruktur fisik semata.
Hasilnya, Jepang mampu bertransformasi menjadi negara modern dengan etos kerja yang kuat karena landasan pendidikan yang diletakkan oleh para guru.
Beliau membandingkan etos tersebut dengan apa yang seharusnya dimiliki oleh orang beriman. Jika masyarakat Jepang memiliki loyalitas tinggi kepada Kaisar, maka orang beriman seharusnya memiliki etos yang bersumber dari Rabbul Alamin.
Namun, beliau menyadari, bahwa visi besar ini memerlukan kehadiran sosok pendidik dan pejuang yang mumpuni. Beliau mengajak para mujahid dakwah dan kaum terpelajar untuk datang dan berjuang di Kampus Ummulqura Hidayatullah Balikpapan, meskipun jalan yang ditempuh tidaklah mudah.
“Panggil para pejuang, kalau engkau mau mengabdikan ilmu datang di Gunung Tembak. Tetapi di Gunung Tembak itu sulit, susah, berat. Tapi kalau kamu mau mengabdikan ya ilmumu itu, datang di sini dan persiapkan diri untuk berjuang,” pesannya, seraya menyeru untuk mentransformasikan ilmu yang dimiliki menjadi sebuah gerakan peradaban yang sistematis di bawah kepemimpinan dan manajemen yang baik.
Secara keseluruhan, pesan yang disampaikan KH Abdurrahman Muhammad di Masjid Ar Riyadh ini merupakan refleksi filosofis sekaligus praktis bagi seluruh civitas akademika dan jamaah Hidayatullah.
KH Abdurrahman mengingatkan bahwa amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan, dan ilmu tanpa integrasi antara iman, syariat, serta ihsan hanya akan menghasilkan aktivitas tanpa ruh. Kebangkitan umat hanya dapat dimulai ketika fondasi keilmuan ini telah tuntas dipahami dan diterapkan dalam sebuah bingkai jamaah yang solid.






