
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc, menekankan pentingnya inovasi berkelanjutan dan adaptabilitas lembaga dalam menghadapi dinamika zaman yang kian kompleks. Hal tersebut disampaikan dalam sambutannya pada acara Rapat Koordinasi Bidang Pelayanan Umat DPP Hidayatullah yang diselenggarakan di Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, pada Rabu, 14 Ramadan 1447 (4/3/2026).
KH Naspi Arsyad menggarisbawahi bahwa dakwah tidak boleh terjebak dalam pola-pola konvensional yang statis. Ia merujuk pada pemikiran pakar manajemen mengenai pentingnya kelincahan organisasi dalam merespons perubahan.
“Era sekarang itu adalah era di mana kita harus mampu relevan dengan kondisi. Profesor Rhenald Kasali pernah mengatakan saat di zaman kita sekarang ini perusahaan yang bisa bertahan bukan perusahaan yang besar tapi perusahaan yang bisa beradaptasi dengan perubahan,” tegasnya.
Salah satu poin yang diangkat dia adalah realitas objektif mengenai tingkat pengakuan masyarakat terhadap Hidayatullah. KH Naspi mengakui secara jujur bahwa meskipun secara ritual memiliki kesamaan dengan organisasi massa Islam besar lainnya, identitas spesifik Hidayatullah masih perlu diperkuat di benak publik. Ia mendorong agar setiap departemen di bawah Bidang Pelayanan Umat memiliki misi strategis untuk memperkenalkan lembaga secara lebih masif dan sistematis.
Target yang ingin dicapai adalah menjadikan Hidayatullah sebagai representasi pertama atau top of mind masyarakat saat berbicara mengenai dakwah. Naspi mengenang masa kejayaan di Balikpapan pada era 90-an di mana nama Hidayatullah identik dengan institusi pesantren.
Transformasi itu menurutnya memerlukan keterlibatan seluruh sektor, mulai dari kesehatan, sosial, hingga seni budaya melalui departemen baru (SBO) yang diharapkan mampu melakukan improvisasi kreatif.
Internalisasi Produk dan Kemandirian Ekonomi
KH Naspi Arsyad juga menyoroti pentingnya internalisasi identitas melalui penguatan produk-produk internal lembaga. Ia memandang bahwa kebanggaan kader terhadap institusi harus dibangun melalui kualitas layanan dan produk yang kompetitif secara nasional. Sebagai contoh, beliau mengapresiasi capaian Search and Rescue (SAR) Hidayatullah dan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) yang telah mendapatkan pengakuan luas di tingkat nasional.
Lebih lanjut, ia mendorong penguatan sektor strategis seperti Lembaga Sembelih Halal (LSH) untuk menjawab kebutuhan pasar akan suplai daging halal yang representatif. Dalam perspektifnya, keberhasilan di sektor ekonomi, seperti perkebunan durian Musang King yang dikelola PosDai, bukan sekadar urusan materi, melainkan instrumen untuk meningkatkan profesionalisme dakwah.
“Kalau itu pertaniannya atau kebunnya itu memproduksi dengan nilai yang sangat tinggi, kita juga bisa me-manage Sekolah Dai itu lebih profesional dan lebih meyakinkan,” jelas KH Naspi.
Menuju Visi 2030, Hidayatullah menargetkan diri untuk menjadi lembaga yang mandiri secara ekonomi dan berpengaruh secara sosial-politik. KH Naspi menegaskan bahwa Bidang Pelayanan Umat memegang peranan vital dalam membangun aspek pengaruh tersebut. Hal ini berkaitan dengan rencana strategis lembaga yang akan bersikap lebih terbuka dalam ruang publik, termasuk memberikan ruang bagi kader untuk berkiprah di politik praktis.
Popularitas dan elektabilitas kader di masa depan sangat bergantung pada sejauh mana lembaga dikenal luas saat ini. “Hidayatullah ini akan bermain lebih ofensif, lebih terbuka. Kita akan membuka ruang seluas-luasnya bagi kader Hidayatullah yang mau terjun ke berbagai sektor kehidupan untuk menghadirkan maslahat untuk masyarakat,” ungkapnya.
Menurutnya, dengan popularitas institusi yang kuat, para kader diharapkan memiliki modal sosial yang cukup untuk berkontribusi dalam kebijakan pembangunan di berbagai tingkatan.
Mengakhiri arahannya, KH Naspi Arsyad mengajak seluruh peserta Rapat Koordinasi untuk melahirkan program-program kerja yang terstruktur, efektif, dan sistematis.
Beliau juga mendorong regenerasi dai muda yang memiliki kemampuan komunikasi modern, fasih dalam literasi agama, dan mampu menjangkau generasi milenial serta Gen-Z agar pesan dakwah Hidayatullah semakin menjulang di kancah nasional.






