AdvertisementAdvertisement

KHUTBAH JUM’AT Mengetuk Pintu Qolbu yang Lalai

Content Partner

الحمد لله الحمد لله الذي خلق القلوب وجعل فيها النور لمن أطاعه، والظلمة لمن عصاه…
أما بعد، فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله، فقد فاز المتقون

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Di dalam dada kita ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh kehidupan kita. Jika ia rusak, maka rusaklah arah hidup kita. Itulah qolbu.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:

يَوۡمَ لَا يَنۡفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوۡنَۙ‏ اِلَّا مَنۡ اَتَى اللّٰهَ بِقَلۡبٍ سَلِيۡمٍؕ‏

“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu‘ara: 88–89)

Betapa sering kita membersihkan wajah, pakaian, dan rumah kita. Namun kapan terakhir kita membersihkan hati kita?

Hati yang dahulu lembut kini menjadi keras. Hati yang dahulu mudah menangis karena ayat-ayat Allah, kini sulit tersentuh.
Dahulu kita takut berbuat dosa, kini dosa terasa biasa.

Ma’asyiral Muslimin,

Hati menjadi keras bukan karena kurangnya harta, bukan karena kurangnya jabatan. Hati menjadi keras karena terlalu sering bermaksiat dan terlalu jarang berdzikir.

Allah ﷻ berfirman:

اَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللّٰهِ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?” (QS. Al-Hadid: 16)

Ayat ini seperti teguran langsung kepada kita.
Belumkah datang waktunya kita berubah?
Belumkah datang waktunya kita berhenti menunda taubat?

Kita sering berkata, “Nanti kalau sudah tua.”
Padahal tidak ada yang tahu apakah kita sampai pada usia tua.

Kematian tidak menunggu kesiapan kita.
Kubur tidak menunggu taubat kita.
Dan Allah tidak pernah lalai dari apa yang kita lakukan.

Ma’asyiral Muslimin,

Ciri hati yang hidup adalah:

  • Mudah tersentuh dengan ayat Al-Qur’an
  • Takut ketika disebut nama Allah
  • Malu ketika berbuat dosa
  • Rindu untuk sujud dan berdoa

Sedangkan hati yang mati:

  • Berat untuk shalat
  • Ringan untuk maksiat
  • Tidak peduli halal dan haram
  • Tidak merasa bersalah ketika menyakiti sesama

Maka hari ini, sebelum kita pulang ke rumah masing-masing, mari kita bertanya pada diri kita:
Bagaimana keadaan hati kita?

Jika hati kita keras, masih ada harapan.
Jika hati kita gelap, masih ada cahaya.
Selama nyawa belum sampai di tenggorokan, pintu taubat masih terbuka.

Khutbah Kedua

….الحمد لله رب العالمين

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Jangan pernah merasa terlambat untuk kembali kepada Allah. Bahkan jika dosa kita setinggi langit, rahmat Allah lebih tinggi lagi.

Ingatlah kisah para pendosa yang Allah ampuni karena satu taubat yang tulus.

Ingatlah bahwa Allah lebih bahagia menerima taubat hamba-Nya daripada seorang musafir yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang pasir.

Maka mulai hari ini:

Perbaiki shalat kita.
Perbanyak istighfar kita.
Lembutkan hati dengan membaca Al-Qur’an.
Hapus dendam, hilangkan iri, perbaiki hubungan dengan sesama.

Karena yang akan menemani kita di alam kubur bukan jabatan, bukan harta, bukan popularitas — tetapi hati yang bersih dan amal yang ikhlas.

اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلوبنا على دينك
اللهم طهر قلوبنا من النفاق والرياء والحسد
اللهم اختم لنا بخاتمة حسنة

عباد الله….، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى

Aqimish shalah!

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

KH Naspi Arsyad Maknai Bulan Ramadhan sebagai Instrumen Penyatu Idealisme Umat

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) -- Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc, memberi makna di balik bulan...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img