
UNGKAPAN bahwa umat Islam adalah umat terbaik telah lama beredar dalam ruang diskursus keislaman. Namun, pemaknaan atas predikat tersebut sering kali berhenti pada klaim normatif tanpa penggalian syarat dan konsekuensinya.
Saya menemukan satu jawaban tegas kala membaca buku Pengantar Tafsir Modern Jilid 1 (Judul asli: Al-Tafsir al-Hadith: Tartib al-Suwar Hasba al-Nuzul) karya Syaikh Muhammad ‘Izzat bin Abdul Hadi bin Darwish bin Ibrahim bin Hasan Darwazah.
Dalam karyanya, pendidik yang lebih dikenal dengan nama Izzat Darwazah ini tidak semata menempatkan predikat umat terbaik sebagai status bawaan, melainkan sebagai capaian yang bergantung pada sikap dan orientasi hidup umat Islam terhadap Al-Qur’an.
Menurut Darwazah, umat Islam hanya dapat disebut sebagai umat terbaik selama mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya, petunjuk, dan peta jalan (road map) dalam menjalani kehidupan dunia.
Dengan kata lain, Darwazah menegaskan bahwa keunggulan umat tidak ditentukan oleh jumlah, identitas formal, atau romantisme sejarah, melainkan oleh kesediaan untuk menundukkan seluruh aspek kehidupan pada nilai-nilai wahyu.
Darwazah menegaskan bahwa predikat tersebut mengandung beban tanggung jawab yang berat. Umat Islam dituntut untuk bersedia menanggung konsekuensi dari amanah yang mereka emban, menyadari peran tersebut, dan melaksanakannya secara nyata.
Amanah itu mencakup kesediaan menyeru manusia kepada jalan kebaikan, kebenaran, dan petunjuk, serta menghidupkan amar makruf nahi munkar dalam pengertian yang substantif dan berkelanjutan.
Lebih jauh, Darwazah juga menekankan pentingnya membangun tradisi saling menguatkan dalam kesabaran dan kebenaran, serta membiasakan diri menghargai kebaikan, keadilan, kebajikan, kasih sayang, ihsan, kedermawanan, kemuliaan, kejujuran, dan komitmen terhadap janji.
Dalam pengembangannya, Syaikh Darwazah yang menulis buku tafsirnya berdasarkan kronologis turunnya ayat (tartib nuzuli) ini mendorong umat Islam untuk benar-benar menyibukkan diri dengan Al-Qur’an.
Kesibukan ini bukan sekadar aktivitas ritual, melainkan keterlibatan intelektual dan spiritual melalui upaya memahami, merenungkan, menafsirkan, menyimpulkan hukum, memetik ilham, dan mereguk inspirasi.
Dorongan yang juga menjadi pesan penting dari Rasulullah ini sejalan dengan prinsip dasar wahyu pertama, iqra’ bismirabbik, serta berbagai perintah Al-Qur’an agar manusia berpikir (yatafakkarun, ta‘qilun, ulul albab).
Kehidupan yang Memiliki Arah
Dari penjelasan tersebut, tampak bahwa kriteria umat terbaik bermuara pada satu hal mendasar, yakni kehidupan yang memiliki arah. Hidup yang terarah berarti menjadikan kebaikan sebagai tujuan, dengan Al-Qur’an sebagai penuntun utama.
Perkataan seseorang menjadi bernilai ketika berpijak pada Al-Qur’an. Perjalanan, tugas, dan silaturahmi menjadi bermakna ketika diarahkan untuk membaca tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Bahkan jabatan dan kekuasaan hanya bernilai sejauh dipahami sebagai amanah dan sarana menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
Dengan demikian, dalam posisi dan peran apa pun, umat Islam dapat diarahkan menjadi unggul selama orientasi hidupnya mengikuti arah yang ditentukan Al-Qur’an. Kebaikan yang dimaksud bukan kebaikan subjektif, melainkan kebaikan yang diridhai Allah dan Rasul-Nya. Prinsip ini menuntut konsistensi antara keyakinan dan praksis sosial.
Pada tataran personal, gagasan Syaikh Darwazah yang lahir di Nablus, Palestina, ini mengajak setiap kita untuk melakukan introspeksi diri. Pertanyaan mendasarnya adalah apakah Al-Qur’an benar-benar menjadi episentrum kesadaran, atau justru nilai-nilai material yang selama ini mengendalikan cara berpikir dan berperilaku.
Upaya menjawab pertanyaan ini dapat dilakukan melalui pendekatan yang dikembangkan oleh Ustadz Abdullah Said, pendiri Hidayatullah, yakni dengan mendalami ayat-ayat dalam surah-surah awal yang turun kepada Nabi Muhammad SAW. Ayat-ayat tersebut meliputi lima ayat Surah Al-‘Alaq, tujuh ayat Surah Al-Qolam, sepuluh ayat Al-Muzammil, sepuluh ayat Al-Mudatsir, serta keseluruhan Surah Al-Fatihah.
Pendekatan ini terbukti membentuk pribadi-pribadi yang memiliki kekuatan spiritual dan kepekaan dakwah. Para murid dan kader Ust. Abdullah Said tampil di tengah masyarakat dengan dakwah yang efektif karena menyampaikan Islam bukan semata-mata secara kognitif, melainkan melalui keindahan ajaran yang mereka hayati dan amalkan.
Praktik seperti tekun membaca dalam arti luas, meyakini Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup, membiasakan tahajud, berdakwah dengan niat membesarkan nama Allah, serta membangun akhlak sebagaimana pesan utama Surah Al-Fatihah, menjadi manifestasi nyata dari kehidupan Qur’ani yang terarah.[]
*) Mas Imam Nawawi, penulis adalah pegiat literasi Hidayatullah






