AdvertisementAdvertisement

Puasa Ramadhan Cara Allah Mengajar Kita Menghargai Nikmat

Content Partner

RAMADHAN itu bukan sekadar pindah jam makan, bukan hanya menahan haus dan lapar. Ramadhan adalah madrasah ruhani, tarbiyah ruhiyah. Allah seakan “memaksa” kita berhenti sejenak, supaya kita sadar, betapa banyak nikmat yang sering kita abaikan karena terlalu terbiasa menikmatinya.

Manusia itu, biasanya baru sadar berharganya sehat ketika sakit. Baru merasa mahalnya seteguk air ketika tenggorokan kering karena puasa. Inilah cara indah Allah mendidik kita.

Dalam surat Ibrahim ayat 7, Allah berfirman:

لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْد

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”

Puasa adalah latihan nyata untuk mempraktikkan ayat ini. Saat kita menahan diri, sebenarnya kita sedang membangun energi syukur. Itulah sebabnya sebutir kurma saat berbuka terasa begitu nikmat, berbeda dengan orang yang makan tanpa didahului rasa lapar karena perintah-Nya.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin, Kitab Ash-Shabr wa Asy-Syukr, menjelaskan bahwa syukur punya empat rukun, yaitu: hati yang sadar bahwa nikmat berasal dari Allah, lisan yang senantiasa memuji-Nya, anggota tubuh yang digunakan untuk taat, dan menjaga nikmat agar tidak dipakai dalam kemaksiatan.

Di bulan suci ini, kita diajak menyelaraskan keempatnya. Hati bergetar karena Allah masih memberi kesempatan bertemu Ramadhan. Lisan tak henti berzikir. Tubuh bergerak dalam sedekah dan shalat malam. Rasulullah SAW bersabda:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin, seluruh urusannya adalah baik. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu baik baginya.” (HR. Muslim)

Puasa menyatukan keduanya: sabar saat menahan, syukur saat berbuka.

Momentum Menguatkan Syukur

Syukur itu jangan berhenti pada diri kita saja. Sebagai orang tua, kita punya amanah menanamkan rasa syukur pada keluarga khususnya anak-anak kita. Mengajarkan syukur bukan sekadar teori, tapi lewat dialog yang menyentuh hati.

Bayangkan, anak mengeluh lapar di siang hari. Kita bisa mendekapnya, lalu berkata lembut:

“Nak, rasanya lapar ya? Inilah cara Allah mengingatkan kita betapa berharganya sepiring nasi yang biasanya kamu makan. Di luar sana, banyak orang yang merasakan lapar seperti ini setiap hari tanpa tahu kapan bisa makan. Yuk, kita belajar bilang ‘Alhamdulillah ya Allah, terima kasih atas rezeki-Mu’.”

Menjelang berbuka, ajaklah mereka melihat hidangan dengan pandangan syukur. Katakan:

“Nak, lihat air bening ini. Tadi siang rasanya sangat berharga, bukan? Allah sengaja membuat kita haus sebentar, supaya saat minum nanti kita ingat betapa baiknya Allah. Yuk, gunakan tenaga setelah makan untuk shalat tarawih sebagai tanda terima kasih kita.”

Dengan bahasa penuh kasih, anak-anak akan paham bahwa syukur bukan sekadar ucapan, tapi tindakan nyata: menggunakan nikmat Allah di jalan yang diridhai-Nya.

Saya pribadi sering merasakan keindahan itu. Duduk bersama keluarga menjelang berbuka, adzan hampir berkumandang, kami berdoa penuh harap:

“Ya Allah, berkahi kami, berkahi keluarga kami, terimalah puasa kami, kuatkan syukur kami, dan jadikan setiap tetes air yang kami minum sebagai nikmat yang mendekatkan kami kepada-Mu.”

Begitu doa selesai dengan lafadz Aamiin.., seteguk air putih terasa jauh lebih berharga. Senyum istri dan anak-anak saat menyebut “Alhamdulillah” membuat hati bergetar.

Di momen sederhana seperti itu itulah kita belajar bahwa syukur bukan teori, tapi pengalaman nyata yang menguatkan iman dan mempererat kasih sayang dalam keluarga.

Jangan biarkan puasa berlalu hanya sebagai rutinitas. Jadikan setiap rasa lapar sebagai pengingat betapa fakirnya kita di hadapan Allah. Jadikan setiap tetes keringat sebagai bukti cinta kita kepada-Nya.

Kekuatan syukur adalah kunci pembuka pintu keberkahan. Semoga Allah menerima ibadah kita, menguatkan rasa syukur kita, dan menjadikan kita hamba-hamba yang beruntung di dunia dan akhirat.

Tetap bersemangat, teruslah berbuat baik. Setiap kebaikan yang dilakukan dengan syukur akan kembali kepada kita dengan berlipat ganda. Selamat menjalankan ibadah puasa dengan hati yang penuh syukur.[]

*) KH. Akhmad Yunus, M.Pd.I., penulis Anggota Dewam Murabbi Wilayah Hidayatullah DIY- Jawa Tengah bagaian selatan dan Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Yayasan Al Iman Kebumen

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Hidayatullah Jawa Barat Dorong Kehadiran Pusat Dakwah sebagai Sentral Konsolidasi Gerakan

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) -- Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Barat, Ahmad Maghfur, menegaskan pentingnya menghadirkan Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img