
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Rais ’Aam Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad menekankan makna strategis Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah sebagai forum kerja yang menuntut kesungguhan, ketekunan, dan tanggung jawab kolektif dalam membangun peradaban Islam.
Hal itu disampaikan beliau dalam taujih pada pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah 2026 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, pada Senin, 23 Rajab 1447 (12/1/2025).
Ia mengawali taujih dengan ungkapan syukur atas kesempatan berkumpul dalam forum nasional tersebut. Menurutnya, pertemuan ini momentum untuk mempertegas orientasi kerja dan pengabdian organisasi ke depan.
Ia kemudian menekankan urgensi Rakernas sebagai rapat kerja yang sesungguhnya. Forum ini, katanya, tidak boleh berhenti pada formalitas atau kenyamanan seremonial, tetapi harus melahirkan daya dorong kerja yang nyata.
“Karena ini rapat kerja, maka kita harus kuat kerja. Jangan ada rapat kerja hanya kuat makan, tapi tidak kuat kerja. Rakernas ini menuntut kerja keras,” tegasnya.
Dalam penjelasannya, Rais ’Aam mengaitkan etos kerja dengan pesan Al-Qur’an. Ia mengingatkan penggalan Surah Al-Ahqaf ayat 19 yang menegaskan bahwa setiap manusia memperoleh tingkatan sesuai dengan apa yang dikerjakannya. Ayat ini, menurutnya, menanamkan prinsip keadilan Ilahiah bahwa keberhasilan tidak hadir tanpa usaha.
“Semua keberhasilan hanya bisa karena dikerjakan. Masing-masing orang memperoleh derajat sesuai dengan apa dikerjakan,” katanya.
Lebih lanjut, KH. Abdurrahman Muhammad mengajak seluruh pengurus, baik di tingkat pusat maupun wilayah, untuk memposisikan diri sebagai penegak peradaban. Ia menegaskan bahwa setiap kader memikul peran kepemimpinan dalam skala dan tanggung jawab masing-masing.
“Kita semua pengembang peradaban. Kita semua pemimpin. Kita semua harus memperhatikan kerja keras,” imbuhnya.
Dalam konteks itu, ia mengutip makna Surah At-Taubah ayat 105, yang memerintahkan untuk bekerja karena Allah, Rasul, dan kaum beriman akan melihat hasil kerja tersebut. Ayat ini, menurutnya, menegaskan bahwa kerja bukan hanya aktivitas duniawi, tetapi juga bentuk pertanggungjawaban ruhani.
Ia kemudian menekankan peran pemimpin sebagai penggerak utama perubahan. Namun, kepemimpinan yang efektif harus ditopang oleh dua kekuatan utama, yakni ilmu dan amal.
“Pemimpin itu lokomotif utama dari sebuah perubahan. Namun, pemimpin harus memiliki dua kekuatan, yaitu harus memiliki kekuatan ilmu dan amal,” jelasnya.
Rais ’Aam menjelaskan bahwa ilmu yang dimaksud tidak terbatas pada aspek lahiriah semata. Ia membagi ilmu ke dalam dua ranah, yakni ilmu fisik dan ilmu metafisik, seraya mengingatkan bahwa Allah Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dengan demikian, kepemimpinan harus dilandasi pemahaman rasional sekaligus kesadaran spiritual.
“Ilmu itu ada dua, ilmu fisik dan metafisik. Allah menjelaskan dirinya bahwa Dia mengetahui yang ghaib dan nyata,” terangnya.
Dalam taujihnya, ia juga menarik pelajaran dari perjalanan para peserta Rakernas yang datang dari berbagai daerah. Ia menyadari bahwa kehadiran mereka tidak lepas dari keterbatasan dan rintangan, mulai dari persiapan hingga perjalanan. Kondisi ini, menurutnya, mencerminkan sunnatullah dalam perjuangan.
“Kamu akan diuji dengan sungai, dengan tawaran-tawaran untuk minum. Ini tantangan, dan semua menawarkan kemudahan. Menawarkan urusan dunia. Ini tantangan,” katanya.
Afirmasi Sejati

Masih dalam taujihnya, Rais ’Aam Hidayatullah ini kemudian menekankan pentingnya dzikir sebagai sumber afirmasi sejati. Menurutnya, kekuatan tidak lahir dari pembesaran diri, tetapi dari penguatan hubungan dengan Allah melalui dzikir yang terus-menerus.
“Bagi saya, dzikir itu sebuah afirmasi. Yang selalu diulang dan akan menghasilkan kekuatan,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahaya ketidaksinkronan antara ucapan dan perbuatan. Ilmu yang hanya berhenti pada kata-kata tanpa menghasilkan kerja nyata, katanya, tidak bernilai di sisi Allah.
“Ilmu qaul yang tidak menghasilkan sesuatu, maka itu kaburamaktan indallah. Bahwa kekuatan itu sesungguhnya terlihat dari hasilnya,” terangnya.
Menutup taujihnya, KH. Abdurrahman Muhammad menegaskan identitas Rakernas sebagai forum para pejuang nilai, ideologi, dan peradaban. Ia mengingatkan bahwa dampak Rakernas harus dirasakan umat dan bangsa, termasuk dalam ranah politik yang dipahami sebagai amanah dan kehormatan.
“Karena kepemimpinan itu amanah kenabian, tanggung jawab rasul. Jangan berdakwah kamuflase dalam nilai itu. Jangan dakwah karena ada keinginan dunia,” katanya.
Ia menutup dengan peringatan agar tidak terjebak pada kamuflase amal, seraya mengutip makna Surah An-Nazi’at ayat 40 tentang keutamaan orang yang menahan diri dari hawa nafsu dan takut kepada Tuhannya.
“Kita harus menghindari kamuflase-kamuflase dunia. Kelihatannya kerja akhirat, tapi dunia yang dikejar. Ada juga kelihatannya kerja dunia tapi akhirat yang dikejar,” tandasnya.






