AdvertisementAdvertisement

Rais Aam Hidayatullah Ingatkan Soal “Protap” dalam Berinteraksi dengan Al Quran

Content Partner

Rais ‘Aam Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad (Foto: Bilal Tadzkir/ hidayatullah.or.id)

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Rais ‘Aam Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, menyampaikan bahwa ada standar protokol tetap (protap) yang hendaknya diperhatikan dalam interaksi dengan Al Qur’an. Hal itu disampaikan dia dalam acara yang bertajuk Refleksi Akhir Ramadhan dan Bekal Perjuangan di Kampus Ummulquraa Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan dan disiarkan secara daring melalui kanal Youtube Ummulqura Hidayatullah pada Kamis, 29 Ramadhan 1447 (19/3/2026).

KH Abdurrahman Muhammad menegaskan bahwa keberhasilan sebuah perjuangan sangat bergantung pada bagaimana seorang mukmin memosisikan kitab suci Al Qur’an sebagai media komunikasi sakral dengan Sang Pencipta.

Ia memaparkan filosofi waktu dan perjalanan hidup manusia. Menurutnya, hidup adalah rangkaian gerak dari detik ke detik dan dari tahun ke tahun yang penuh dengan ketidakpastian. Dalam dinamika tersebut, Allah SWT memberikan ruang khusus berupa bulan Ramadhan sebagai titik henti sementara bagi manusia. Beliau mengibaratkan Ramadhan sebagai sebuah terminal kehidupan yang strategis.

Di terminal inilah, terangnya, setiap individu memiliki kesempatan untuk berhenti sejenak guna mengumpulkan bekal sebelum melanjutkan perjalanan panjang yang penuh dengan tantangan berat di masa depan.

Urgensi komunikasi dengan Allah menjadi inti dari refleksi yang disampaikan oleh Rais Aam Hidayatullah dalam forum yang digelar secara hibrida tersebut. Ia menekankan bahwa membaca Al Quran pada hakikatnya adalah sebuah dialog antara hamba dengan Tuhannya.

Mengutip sebuah kaidah, beliau menyatakan, Barang siapa yang ingin bercakap-cakap dengan Tuhannya, baca Quran. Namun, beliau memberikan catatan kritis bahwa percakapan ini tidak boleh dilakukan dengan sembarangan karena terdapat protokol tetap atau protap yang menyertainya.

Ia mengambil tamsil dari tradisi kebudayaan di Yogyakarta, khususnya mengenai kehidupan abdi dalem saat hendak menghadap Sultan di Keraton.

Dia menjelaskan, jika untuk menghadap raja di dunia saja seseorang harus mengikuti aturan protokoler yang sangat ketat agar tidak mendapatkan hukuman, maka sudah sepatutnya seorang mukmin memiliki adab yang jauh lebih tinggi saat menghadap Penguasa Semesta melalui Al Quran.

Adab Berinteraksi dengan Al Qur’an

Oleh karena itu, masih dalam taushiyahnya, Rais Aam Hidayatullah menekankan pentingnya membangun sikap mental yang tepat sebelum menyentuh dan membaca kitab suci. “Ini Quran bukan hal biasa biasa, sehingga kita harus berwudu, kita harus istighfar, kita harus beradab,” tegasnya.

Beliau menyebutkan bahwa pembahasan mengenai adab terhadap Al Quran sering kali dianggap sederhana, padahal cakupannya sangat luas dan belum tuntas untuk digali. Tanpa wasilah atau perantara berupa adab dan sikap mental yang benar, Al Quran tidak akan memberikan pengaruh mukjizat atau ilham pada diri pembacanya.

Menurut pandangannya, hubungan antara Al Quran, takwa, dan iman adalah satu kesatuan asasi yang tidak dapat dipisahkan. Ia mengingatkan bahwa tanpa landasan iman yang kokoh, ilmu tentang Al Quran tidak akan pernah dicapai secara hakiki maupun zahiri.

Disamping itu, kesungguhan dalam berinteraksi dengan Al Quran juga memerlukan refleksi atas sejarah perjuangan para nabi dan sahabat terdahulu. KH Abdurrahman Muhammad mengingatkan mengenai betapa mahalnya nilai keimanan yang mereka pegang saat ini. Ia merujuk pada penderitaan nabi-nabi Bani Israil yang dibelah kepalanya, hingga penyiksaan fisik yang dialami oleh Bilal bin Rabah serta keluarga Yasir demi mempertahankan prinsip tauhid.

Nilai mahal dari iman inilah yang menurutnya seharusnya menjadi pendorong bagi setiap individu untuk memberikan penghormatan tertinggi kepada Al Quran melalui pembacaan yang benar atau haqqa tilawati. Beliau menegaskan bahwa program utama di Ummulqura haruslah dimulai dengan mengilmui iman terhadap kitab suci tersebut.

Menyeimbangkan Kuanitas dan Tadabbur

Masih dalam kesempatan yang sama, Rais Aam Hidayatullah ini juga memberikan kritik terhadap kecenderungan membaca Al Quran secara terburu-buru demi mengejar target kuantitas tanpa kualitas tadabbur yang memadai.

Ia berpendapat bahwa jika menggunakan standar yang benar, membaca satu juz Al Quran memerlukan waktu lebih dari satu jam karena tuntutan untuk merenungi setiap ayat. Beliau memperingatkan adanya ancaman berupa hati yang terkunci bagi mereka yang enggan melakukan tadabbur.

“Interaksi yang ideal dengan Al Quran adalah ketika bacaan tersebut mampu menyampaikan hati seseorang hingga seolah-olah melihat realitas surga dan neraka,” katanya.

Abdurrahman menekankan bahwa meletakkan jejak iman terhadap Al Quran adalah pekerjaan besar yang membutuhkan mujahadah atau kesungguhan luar biasa, karena tanpa hal tersebut, semangat jihad tidak akan pernah lahir secara otentik.

Lebih lanjut, KH Abdurrahman Muhammad mengarahkan perhatian pada pentingnya penguatan akidah melalui perenungan terhadap surat-surat terakhir dalam Al Quran, yakni Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas.

Surat-surat tersebut menurutnya merupakan sandaran akidah yang mengajarkan tentang keesaan Allah serta memberikan perlindungan dari penyakit hati seperti hasad atau dengki yang dapat menghancurkan amal manusia.

Beliau menegaskan bahwa penataan tauhid, baik itu tauhid mulkiah, ibadah, maupun rububiyah, harus diperbaiki secara menyeluruh. Segala bentuk ibadah, termasuk salat, akan terasa hambar dan berlalu begitu saja jika seseorang tidak merasakan kehadiran Allah dalam setiap prosesinya.

Memperbaiki Interaksi dengan Qur’an

Rais Aam Hidayatullah mengajak untuk membangun satu sistem kesadaran bahwa Al Quran adalah wasilah utama untuk menghindarkan diri dari neraka dan meraih surga.

Ia berharap agar setiap kader Hidayatullah memiliki komitmen kuat dalam memperbaiki interaksi mereka dengan Al Quran, dimulai dari penataan adab hingga pendalaman makna melalui tadabbur yang berkelanjutan.

Bekal perjuangan yang paling hakiki dalam pandangannya bukanlah pada kekuatan fisik atau materi semata, melainkan pada kedalaman spiritualitas yang bersumber dari dialog intensif dengan Allah SWT melalui kitab suci-Nya.

Dengan demikian, refleksi akhir Ramadhan ini diharapkan mampu melahirkan semangat baru dalam menjalankan amanah perjuangan dakwah di masa depan.[]

Editor: Abu Muhammad
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Pesan Rais Aam Hidayatullah dalam Menyikapi Dinamika Penetapan Idulfitri 1447

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Rais 'Aam Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad sampaikan pandangan terkait dinamika penentuan Hari Raya Idulfitri 1 Syawal...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img