AdvertisementAdvertisement

Taushiyah Ramadhan, Naspi Arsyad Sebut Ketakwaan Kolektif Kunci Kehadiran Keberkahan bagi Bangsa

Content Partner

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah KH Naspi Arsyad, Lc menyampaikan bahwa salah satu persoalan yang dihadapi bangsa saat ini bukan semata-mata berkaitan dengan keterbatasan sumber daya, melainkan berkaitan dengan berkurangnya keberkahan yang lahir dari ketakwaan kolektif masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam tausiyah bertema Persiapan Menjelang 10 Hari Terakhir Ramadhan yang berlangsung di Masjid Al Istiqomah, Kantor Pusat PT Perusahaan Gas Negara (PGN), Jakarta, pada Rabu, 14 Ramadan 1447 (4/3/2026).

Naspi Arsyad menjelaskan bahwa sepuluh hari terakhir Ramadhan merupakan fase yang memiliki kedudukan istimewa dalam perjalanan ibadah umat Islam. Ia menyebut periode tersebut sebagai momentum penentuan yang menuntut kesungguhan spiritual dari setiap mukmin.

“Sepuluh hari terakhir adalah pertarungan terakhir. Di sinilah totalitas seorang mukmin diuji,” ujar Naspi.

Menurutnya, fase ini menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah sekaligus memperdalam hubungan spiritual dengan Allah SWT. Ia menilai bahwa sebagian umat masih memahami ibadah puasa sebatas menahan lapar dan haus, padahal tujuan puasa jauh melampaui dimensi fisik tersebut.

Naspi Arsyad menjelaskan bahwa puasa pada hakikatnya merupakan latihan spiritual yang membentuk ketakwaan melalui pengendalian diri serta peningkatan kualitas ibadah. Dalam konteks ini, ia mengingatkan pentingnya memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an selama bulan Ramadhan.

Ia menyinggung bahwa masih terdapat individu yang menjalankan ibadah puasa, namun tidak diiringi dengan aktivitas spiritual seperti tadarus Al-Qur’an atau memperdalam pemahaman terhadap kitab suci. Hal tersebut menurutnya menunjukkan bahwa pemaknaan ibadah puasa belum sepenuhnya menyentuh dimensi spiritual yang lebih mendalam.

“Puasa bukan sekadar menahan diri secara fisik, tetapi momentum membangun kedekatan dengan Allah,” tegasnya.

Naspi Arsyad juga menguraikan dua dimensi peran manusia selama menjalani ibadah Ramadhan. Ia menyebut dimensi pertama berkaitan dengan posisi manusia sebagai hamba yang bertugas memperbaiki hubungan dengan Allah SWT melalui ibadah dan ketaatan.

Dimensi kedua, menurutnya, berkaitan dengan peran manusia sebagai khalifah di muka bumi yang bertanggung jawab mengelola hubungan sosial dengan sesama makhluk. Ia menekankan bahwa keseimbangan antara kedua peran tersebut menjadi fondasi terciptanya kehidupan yang penuh keberkahan.

Lebih lanjut, Naspi Arsyad mengajak jamaah untuk melakukan muhasabah menjelang berakhirnya Ramadhan. Ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Hasyr ayat 18 yang mengingatkan manusia untuk mengevaluasi amal perbuatan sebagai bekal menghadapi kehidupan akhirat.

Dalam konteks ibadah Al-Qur’an, ia juga menyampaikan bahwa para ulama memiliki pandangan yang beragam mengenai durasi waktu yang diperlukan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an. Ia merujuk pada penjelasan dalam kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar al-Asqalani yang menyatakan bahwa tidak terdapat batasan waktu tertentu dalam mengkhatamkan Al-Qur’an.

Menurutnya, faktor yang lebih penting adalah kesungguhan dan kualitas interaksi seseorang dengan Al-Qur’an selama bulan Ramadhan.

“Yang terpenting adalah semangat, kesungguhan, dan kualitas interaksi kita dengan Al-Qur’an,” ungkapnya.

Naspi Arsyad juga menyampaikan harapan agar Ramadhan tidak dipahami sekadar sebagai tradisi tahunan yang dijalankan secara rutin, melainkan sebagai momentum pembentukan karakter keimanan yang berdampak pada kehidupan sosial.

Ia menegaskan bahwa keberkahan dalam kehidupan masyarakat sangat berkaitan dengan tingkat ketakwaan yang dimiliki secara kolektif. Dalam pandangannya, ketakwaan yang terbangun secara bersama-sama akan melahirkan kehidupan sosial yang lebih harmonis dan penuh keberkahan.

Menutup tausiyahnya, Naspi Arsyad mengajak jamaah untuk memanfaatkan sepuluh hari terakhir Ramadhan dengan memperbanyak ibadah seperti qiyamul lail, tadarus Al-Qur’an, doa, dan istighfar. Ia menyampaikan bahwa periode tersebut merupakan kesempatan bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas spiritual sekaligus meraih derajat ketakwaan yang dijanjikan Allah SWT.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Hidayatullah Jawa Barat Dorong Kehadiran Pusat Dakwah sebagai Sentral Konsolidasi Gerakan

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) -- Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Barat, Ahmad Maghfur, menegaskan pentingnya menghadirkan Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img