AdvertisementAdvertisement

Muzakkir Usman Sebut Dakwah Wasathiyah Harus Menembus Ruang Digital

Content Partner

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Muzakkir Usman, menegaskan bahwa dakwah Islam di masa kini harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, terutama di tengah puncak digitalisasi, bonus demografi, dan fragmentasi sosial yang kian menguat.

Hal itu disampaikannya dalam kegiatan diskusi bertajuk “Peran Dai dalam Meneguhkan Nilai Wasathiyah di tengah Keragaman Umat di DKI Jakarta”. Bagian dari kegiatan Musyawarah Wilayah VI DPW Hidayatullah DKI Jakarta, 12-14 Desember 2025, di Asrama Haji Pondok Gede.

Mengawali pemaparannya, Muzakkir mengutip data World Economic Forum (WEF) yang menyebutkan bahwa satu dekade ke depan dunia akan berada pada puncak digitalisasi dan otomasi. Menurutnya, umat Islam sejatinya telah berada di era tersebut hari ini.

“Dakwah wasatiyah tidak cukup jika hanya bergerak secara konvensional. Dakwah harus masuk ke ruang digital. Gagal masuk ke ruang digital berarti gagal memenangkan ghazwul fikr,” tegas Muzakkir dalam diskusi Seminar & Upgrading Dai, JSabtu, 22 Jumadil Akhir 1447 (13/12/2025).

Muzakkir menambahkan, tantangan berikutnya adalah bonus demografi Indonesia yang tengah menuju puncaknya. Berdasarkan data BPS DKI Jakarta, sekitar 70 persen penduduk saat ini berada pada usia produktif.

Jika kelompok ini gagal dikelola secara spiritual, intelektual, dan moral, Muzakkir menegaskan, maka akan muncul kesenjangan paradigma antargenerasi.

“Generasi sebelumnya kuat ibadah dan spiritualitasnya. Tetapi jika 70 persen usia produktif ini tidak mendapat pencerahan spiritual dan pembangunan intelektual, maka Indonesia terancam gagal mencapai Indonesia Emas 2045,” ujarnya.

Muzakkir mengingatkan agar dakwah tidak terjebak hanya menyasar kelompok aging population, yakni jamaah usia lanjut yang aktif di masjid dan majelis taklim. Jika dakwah mengabaikan generasi produktif, maka kekuatan spiritual bangsa akan melemah karena mayoritas pengendali masa depan negara justru tertinggal dari nilai-nilai keislaman.

Lebih lanjut, Ia juga menyoroti fenomena fragmentasi modal sosial sebagaimana tesis sosiolog Robert Putnam tentang bowling alone. Generasi saat ini, kata Muzakkir, cenderung individualistis, minim interaksi sosial, dan lebih nyaman beraktivitas sendirian di depan layar.

“Kalau dakwah hanya dilakukan di ruang-ruang besar seperti tabligh akbar dan pengajian massal, kita akan ditinggalkan oleh generasi ini,” ujarnya.

Dalam konteks itu, Muzakkir mengapresiasi strategi DPW Hidayatullah DKI Jakarta yang menyasar dakwah berbasis komunitas kecil, seperti komunitas ojek online (ojol). Menurutnya, di kota padat seperti Jakarta dengan penduduk hampir 11 juta jiwa, dakwah komunitas merupakan strategi yang sangat relevan dan wasathiyah.

Tantangan lain yang disorot dia adalah tekanan ekonomi global. Muzakkir menegaskan bahwa dakwah wasatiyah tidak boleh berhenti pada pencerahan spiritual semata, tetapi juga harus mendorong pembangunan infrastruktur manusia. “Bukan hanya membangun suprastruktur ke langit, tetapi infrastrukturnya di bumi harus kuat,” jelasnya.

Selain itu, ia mengingatkan bahaya polarisasi politik pasca demokrasi terbuka. Dakwah, menurutnya, tidak boleh terjebak pada keberpihakan politik sesaat yang hanya muncul menjelang pemilu.

“Jika keliru, dakwah akan tampak berpihak pada satu warna atau satu partai. Dakwah wasathiyah harus menghadirkan pencerahan, bukan polarisasi,” jelas Muzakkir.

Menjawab tantangan tersebut, Muzakkir menekankan pentingnya penguatan peran dan identitas dakwah Hidayatullah. Ia menilai keberhasilan dakwah tidak diukur semata secara kuantitatif, seperti jumlah lembaga atau anggota, melainkan secara kualitatif melalui kontribusi nyata dan jejaring kolaboratif.

“Kehadiran unsur pemerintah, aparat, dan mitra kolaboratif adalah indikator keberhasilan dakwah wasathiyah. Kita tidak berlomba pada jumlah, tetapi pada kontribusi pencerahan,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa dai tidak cukup tampil sebagai corong kebenaran, tetapi harus menjadi “alat peraga dakwah” yang hidup dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Al-Qur’an Tekankan Ajaran Wasathiyah

Terkait konten dakwah, Muzakkir menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan inti dakwah yang menekankan keteladanan wasathiyah. Menurutnya, Hidayatullah perlu fokus pada gerakan Qur’an tanpa terjebak pada perdebatan teologis maupun metodologis yang berpotensi memecah umat. “Qur’an itu konten dakwah paling wasathiyah. Dari Qur’an lahir transformasi manusia,” katanya.

Ia mencontohkan berbagai inisiatif seperti rumah Qur’an, lorong Qur’an, gerakan ojol mengaji, hingga gagasan penyuluh Qur’an milenial berbasis sebaya sebagai solusi problem sosial, termasuk tawuran pelajar di Jakarta.

“Revolusi industri hanya mengubah alat. Tapi revolusi Qur’an mengubah karakter manusia. Dari rakus menjadi amanah, dari kikir menjadi dermawan,” ujarnya.

Menurut Muzakkir, perubahan besar yang terjadi di Makkah dan Madinah dalam 23 tahun adalah bukti kekuatan revolusi Qur’an yang mengubah peradaban tanpa kekerasan dan tanpa perubahan budaya secara paksa.

“Dakwah wasathiyah di Jakarta harus dakwah yang merangkul semua lapisan umat. Dan inti dari semua itu adalah Al-Qur’an,” pungkasnya.

Editor: Adam Sukiman
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Ramadhan: Menjalani Hidup yang Ditangisi Jutaan Ahli Kubur

ALHAMDULILLAH, detik ini Allah masih memilih kita untuk bertemu Ramadhan dalam kondisi sehat wal afiat. Lihatlah ke kanan dan...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img