
MANADO (Hidayatullah.or.id) –– Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Iwan Abdullah, mengatakan nilai kepemimpinan dalam Islam tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab moral dan sosial seorang pemimpin terhadap umat yang dipimpinnya. Hal ini dikemukakan Iwan dalam pendampingan menutup acara Musyawarah Wilayah (Musywil) Hidayatullah Sulawesi Utara di Kota Manado, Ahad, 23 Jumadil Akhir 1447 (14/12/2025).
Dalam forum tersebut, ia mengajak seluruh peserta untuk membaca dan merenungkan firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 159, sebagai rujukan fundamental dalam membangun kepemimpinan yang berorientasi pada kemaslahatan umat.
Iwan menjelaskan, ayat tersebut menegaskan bahwa kelembutan, musyawarah, dan tawakkal merupakan karakter utama kepemimpinan yang dicontohkan Rasulullah. Menurut Iwan Abdullah, pesan Al-Qur’an itu selain sebagai tuntunan spiritual, juga menjadi panduan praktis bagi para pemimpin dalam menjalankan amanah dakwah dan organisasi.
“Ayat ini memberikan arah yang sangat terang bagi para pemimpin dalam memandang dan mengelola umat,” kata Iwan.
Ia menekankan bahwa pemimpin pertama-tama harus menghadirkan rahmat dalam sikap dan kebijakan. Rahmat dimaknai sebagai cara pandang yang menempatkan umat sebagai subjek yang harus dirangkul, bukan dibebani. Seorang pemimpin, menurutnya, perlu memandang persoalan umat dengan empati dan kepedulian.
“Jika kepemimpinan kehilangan rahmat, umat akan menjauh. Kepemimpinan semacam itu tidak lagi menjadi solusi, tetapi justru melahirkan persoalan baru,” kata Iwan Abdullah.
Aspek berikutnya yang disorot Iwan adalah kebijaksanaan dan kelapangan dada. Dalam realitas kepemimpinan, tidak semua kerja keras selalu direspons dengan apresiasi. Kritik, bahkan yang disampaikan secara tajam, kerap menjadi bagian dari dinamika organisasi.
Iwan Abdullah menegaskan bahwa di sinilah kualitas kepemimpinan diuji. Pemimpin dituntut memiliki jiwa pemaaf, kebesaran hati, dan kesiapan menerima perbedaan pandangan sebagai bagian dari proses kolektif. Sikap tersebut dinilai penting untuk menjaga persatuan dan kesinambungan perjuangan.
Prinsip ketiga yang ditekankan adalah musyawarah. Dalam pandangan Iwan Abdullah, musyawarah bukan sekadar mekanisme organisasi, melainkan syariat yang memiliki dimensi keberkahan. Ia menjelaskan bahwa pemimpin yang membiasakan musyawarah akan memperoleh barakah dalam setiap keputusan.
Barakah, yang dimaknai Iwan sebagai thalab ziyadah al-khair atau bertambahnya kebaikan, menjadi indikator bahwa keputusan yang diambil membawa manfaat luas bagi umat dan organisasi. Musyawarah juga memperkuat rasa memiliki dan tanggung jawab bersama di antara kader.
Prinsip terakhir yang tidak kalah penting adalah tawakkal kepada Allah. Setelah ikhtiar dilakukan secara sungguh-sungguh melalui kerja, kebijaksanaan, dan musyawarah, pemimpin dituntut menyerahkan hasilnya kepada Allah.
“Tawakkal sebagai peneguh ruhani agar pemimpin tidak terjebak pada keangkuhan atau keputusasaan. Dalam konteks gerakan Hidayatullah, tawakkal menjadi fondasi untuk menjaga kemurnian niat dakwah di tengah kompleksitas tantangan zaman,” katanya.
Rangkaian nilai kepemimpinan yang disampaikan Iwan dalam Musywil tersebut merefleksikan semangat keberislaman yang berpijak pada Al-Qur’an dan sunnah, sekaligus selaras dengan konteks keindonesiaan yang menjunjung musyawarah, persatuan, dan kepedulian sosial.
Kepemimpinan yang berlandaskan rahmat, kebijaksanaan, musyawarah, dan tawakkal, terang Iwan menegaskan, menjadi bagian dari ikhtiar membangun umat dan bangsa secara berkelanjutan melalui jalur dakwah dan pendidikan kader.






