spot_img

Lebih Dekat dengan Keluarga Haji Darman, Penghibah Tanah Kampus Induk Hidayatullah

Content Partner

DCIM\100MEDIA\DJI_0103.JPG

APA yang terpikir jika ada orang yang menghibahkan sesuatu dari hartanya? Apa yang terbayang kalau sampai ia menghibahkan sepetak tanah yang terbilang luas?

Tak hanya takjub pada kedemawan orang tersebut. Seringkali yang terlintas adalah pemiliknya punya kekayaan yang melimpah. Bahkan mungkin ada yang mengira hartanya sudah tidak habis dibagi sampai tujuh turunan.

Demikian, umumnya sangkaan itu benar adanya. Tapi itu tidak berlaku pada H. Darman, manusia dermawan yang telah menghibahkan tanahnya seluas 5,4 hektar untuk lokasi perintisan Pondok Pesantren Hidayatullah.

Kelak, di kemudian hari, Walikota Balikpapan, H. Asnawie Arbain berkenan mengganti nama H. Darman menjadi H. Darmawan, karena kedermawan tersebut. Sang Walikota tak ketinggalan memberi hadiah berangkat haji ke Baitullah buat sosok pahlawan tersebut.

Namun di mata anak-anaknya, H, Darman bukanlah orang kaya. Keluarga mereka justru dianggap miskin pada saat itu. Setidaknya itulah kesaksian beberapa orang anak H. Darman.

“Bapak itu bukan orang kaya bahkan bisa dikatakan miskin, tapi pekerja keras dan semua anak-anak dididik untuk bekerja keras, baik anak laki-lakinya maupun anak perempuannya” Kata Hajjah Masamah, anak perempuan dari pasangan H. Darman dan Hj. Marliyah.

Menurut keterangan Hj. Masamah, pekerjaan utama ayahnya adalah bertani dan membuat batu bata di pelosok Gunung Tembak, ujung timur Balikpapan, Kalimantan Timur.

Bersama beberapa orang anaknya, H. Darman berkali-kali ikut kerja serabutan di beberapa tempat. Mulai dari mengangkat barang, kerja tukang, membantu sawah orang lain, hingga memelihara kerbau titipan.

“Salah satu kepercayaan orang kepada Bapak adalah menitipkan tiga ekor kerbau untuk dirawat dan dipekerjakan,” ucap Sayudi, di lain kesempatan.

Sayudi bercerita, dirinya dan Rusani (baru saja meninggal dunia, 15/11/2022) yang kemudian ditugaskan untuk menjaga dan merawat tiga ekor kerbau tersebut.

Soal rumah? Jangan tanya lagi. Sejak hijrah dari Kediri, Jawa Timur ke Balikpapan (tahun 1951) keluarga H. Darman berulangkali pindah tempat tinggal.

Disebutkan, mereka pernah tinggal di bilangan Km. 2 Gunung Samarinda. Setelah itu pindah ke Kampung Baru Ujung lalu pindah lagi ke Gunung Sari, kemudian ke Karang Rejo. Mereka juga pernah bekerja sambil menumpang di rumah orang di Samboja, Kutai Kartanegara.

“Semuanya menumpang di rumah orang lain. Bapak belum ada penghasilan yang mapan,” ungkap Sayudi. Sebagai anak pertama, tampaknya ia punya banyak rekaman dan kenangan bersama kedua orangtuanya.

Lalu bagaimana dengan tanah yang dihibahkan oleh H. Darman? Dahulu tanah itu adalah bekas tempat pembakaran batu bata. Namun, H. Darman sontak menangis, mengucurkan air mata kala mendengar ada keinginan beberapa pemuda Islam untuk membangun pesantren di lokasi tersebut.

“Sudah dua tahun lamanya, saya pernah bermimpi didatangi orang-orang berpakaian putih dengan muka yang bercahaya. Sejak itu saya tidak pernah makan nasi. Saya hanya makan buah-buahan dan minum air putih. Saya juga tidak tahu mengapa saya berbuat demikian. Hanya dalam hati saya ada perasaan bahwa pasti ini kebaikan yang akan muncul di tempat ini,” ujarnya.

Kini, H. Darman dan istrinya Hj. Marliyah telah tiada. Sebagian keluarga juga sudah berpulang kembali ke Sang Pencipta. Namun di saat amalan manusia telah terputus ketika meninggal dunia, pahala kebaikan itu niscaya tetap mengalir dengan deras.

Di atas tanah yang dihibahkan H. Darman, bangunan Masjid Ar-Riyadh berdiri dengan dua kubahnya yang megah lagi kokoh. Setiap azan berkumandang, setidaknya ia dihadiri oleh ratusan jamaah. Masjid yang berarti “Taman Surga” itu bukan hanya bermandikan cahaya di malam hari. Tetapi ia adalah pelita tempat ribuan santri dikader dan dididik dengan cahaya al-Qur’an.*(ybh/hidayatullah.or.id)

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Sistematika Wahyu dan Gerakan Revolusi Sosial Ekonomi Dunia

PADA tahun 2012 di ruang aula sebuah hotel di Kota Malang. Pada sebuah gelaran diskusi yang diselenggarakan Pandawa Institute...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img