
PEKANBARU (Hidayatullah.or.id) — Pembukaan Musyawarah Wilayah (Muswil) VI Hidayatullah Provinsi Riau berlangsung semarak dengan agenda gelar wicara bertajuk Muslimpreneur Talk, Sabtu, 29 Jumadil Akhir 1447 (20/12/2025).
Talkshow ini mengangkat tema “Berani Berbisnis: Kuatkan Ekonomi Keluarga dan Organisasi, Mandiri Finansial Maksimal dalam Beramal”, sebagai bagian dari ikhtiar penguatan kemandirian ekonomi kader, lembaga, dan umat secara luas.
Kegiatan tersebut menghadirkan dua narasumber dengan latar belakang keilmuan dan pengalaman berbeda. Pemateri pertama, Drs. Wahyu Rahman, S.E., M.E., Ketua Bidang Ekonomi Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, memaparkan perspektif konseptual tentang pentingnya jiwa kewirausahaan.
Narasumber kedua, Ashari, praktisi bisnis properti dan pengelola middle kost, menyampaikan pengalaman empirisnya sebagai pelaku usaha. Diskusi dipandu oleh Rizky Hidayat, S.Sos., M.Pd., yang mengarahkan dialog secara sistematis dan interaktif.
Dalam paparannya, Wahyu Rahman menekankan bahwa fondasi utama dalam berbisnis adalah pembentukan mindset yang tepat. Menurutnya, orientasi niat menjadi penentu lahirnya semangat dan ketekunan dalam dunia usaha.
“Hal yang paling mendasar dalam berbisnis adalah membangun jiwa bisnis yang benar. Ketika niatnya baik, maka energi untuk berusaha akan tumbuh dengan sendirinya,” ujarnya.
Ia mengaitkan hal tersebut dengan teladan Rasulullah SAW yang sejak usia muda telah menapaki dunia usaha hingga menjelang masa kerasulan, serta para sahabat yang dikenal memiliki kemandirian ekonomi.
Lebih lanjut, Wahyu Rahman menjelaskan bahwa lembaga yang dikelola dengan pendekatan manajemen bisnis berpeluang memberikan kontribusi berkelanjutan bagi organisasi. Ia menegaskan bahwa tidak semua orang harus menjadi pebisnis, namun setiap kader perlu memiliki karakter kewirausahaan.
“Jiwa pebisnis itu mencakup kemandirian, disiplin, kegigihan, inovasi, dan kepedulian. Nilai-nilai ini penting untuk menopang kerja organisasi,” katanya.
Pada sesi penutup, Wahyu Rahman menyoroti pentingnya ketahanan mental dalam berwirausaha. Ia menegaskan bahwa orientasi bisnis yang sehat adalah menghadirkan manfaat dan kebahagiaan bagi orang lain.
“Mental pebisnis itu senang melihat orang lain bahagia. Prinsip ini harus tercermin dalam cara kita berusaha dan berinteraksi,” tuturnya, seraya menambahkan bahwa keselarasan antara minat usaha dan penampilan profesional juga menjadi bagian dari etos kerja.

Sementara itu, Ashari menyampaikan pandangannya dari sudut praktisi. Ia mengawali dengan menegaskan bahwa dunia usaha sarat dengan ketidakpastian dan dinamika. “Bisnis adalah ruang yang penuh fluktuasi. Setiap keputusan membawa risiko, tetapi di situlah proses pembelajaran berlangsung,” ujarnya.
Pengalamannya membangun usaha properti, termasuk pengelolaan hunian kost eksekutif, menjadi gambaran konkret tentang tantangan dan peluang yang dihadapi pelaku usaha.
Ashari menekankan bahwa keberlanjutan organisasi memerlukan diversifikasi sumber pendanaan. Menurutnya, ketergantungan pada donasi semata perlu dilengkapi dengan unit usaha yang dikelola secara profesional.
“Sumber pemasukan organisasi idealnya tidak hanya bertumpu pada donasi. Basis usaha perlu diperkuat, dan manajemennya harus dipertajam agar berkelanjutan,” katanya, seraya menyebut bahwa langkah-langkah awal telah dilakukan dan memerlukan penguatan sistem.
Di akhir sesi, moderator Rizky merangkum diskusi dengan mengajak kader dan anggota Hidayatullah Riau untuk menumbuhkan semangat berwirausaha sebagai bagian dari sunnah Rasulullah SAW.
“Kemandirian finansial sebagai penopang peningkatan kualitas amal dan kontribusi sosial, sejalan dengan tujuan penguatan ekonomi keluarga dan organisasi dalam bingkai Muswil,” kata Ketua Departemen Dakwah dan Pelayanan Umat DPW Hidayatullah Riau periode 2025-2030 tersebut menutup forum temu wicara itu.






