AdvertisementAdvertisement

Abdul Ghofar Hadi Ajak Bangun Tradisi Membaca dalam Meniti Jalan Pengabdian Masyarakat

Content Partner

BABEL (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Abdul Ghofar Hadi, menegaskan bahwa amanah pengabdian dakwah dan pengembangan masyarakat melalui organisasi Hidayatullah merupakan tugas yang tidak ringan. Amanah tersebut, menurutnya, menuntut kesiapan spiritual dan intelektual agar dapat dijalankan secara bertanggung jawab.

Pesan itu disampaikan saat penutupan Musyawarah Wilayah (Muswil) ke-III Hidayatullah Bangka Belitung yang berlangsung selama dua hari di Kota Pangkalpinang, Ahad hingga Senin, 1-2 Rajab 1447 (21–22/12/2025).

Ghofar menekankan bahwa iman menjadi fondasi utama dalam memikul amanah. Ia menjelaskan bahwa tanpa keyakinan yang kokoh kepada Allah dan ajaran tentang dosa dan pahala, surga dan neraka, amanah berisiko diselewengkan.

“Sulit untuk bisa amanah jika tidak memiliki iman atau tidak percaya dengan Allah, tidak percaya dengan dosa dan pahala, surga dan neraka. Jika tidak beriman maka cenderung mengkhianati amanah dengan menghalalkan segala cara,” kata Ghofar.

Selain iman, ia menegaskan pentingnya ilmu sebagai penopang profesionalitas dalam menjalankan tugas organisasi. Menurutnya, setiap amanah memerlukan kapasitas keilmuan yang sesuai dengan bidangnya. Jabatan apa pun, baik ketua, sekretaris, bendahara, maupun pengelola departemen, membutuhkan pengetahuan agar tanggung jawab dapat dilaksanakan secara tepat. Ia menyebut bahwa penguatan kompetensi merupakan bagian tak terpisahkan dari amanah kepemimpinan.

Dalam kerangka dinamika tersebut, Ghofar mengajak kader untuk meneladani Rasulullah SAW, atau setidak tidaknya kepada para tokoh pendiri dan pimpinan Hidayatullah. Ia mencontohkan pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said rahimahullah, yang dikenal memiliki kegemaran berefleksi dengan tekun membaca sejak usia muda.

“Beliau menggagas pesantren Hidayatullah sebagai buah dari belajar, membaca, dan menyelami buku-buku. Hobinya sejak kecil adalah membaca buku. Saat di PGA, uang beasiswanya habis untuk membeli buku. Buku tentang sejarah, manajemen, leadership, tafsir, dan berbagai macam buku dibaca habis,” ujarnya.

Ghofar juga menyebut Rais ‘Aam Hidayatullah, K.H. Abdurrahman Muhammad, sebagai figur yang memiliki tradisi keilmuan serupa. “Selain membaca beberapa juz Al-Qur’an setiap hari, beliau pembelajar dan pergi ke mana-mana selalu membawa dan membaca buku,” kata Ghofar.

Tradisi membaca ini, lanjutnya, selaras dengan manhaj Hidayatullah yang berlandaskan Sistematika Wahyu. Ia menegaskan bahwa perintah pertama dalam Al-Qur’an adalah membaca, iqra!, yang ia sebut sebagai perintah revolusioner dalam membangun peradaban.

Selain itu, Ghofar mendorong kader untuk terus belajar dan menekuni literatur yang relevan dengan amanah yang diemban. “Tugas pertama setelah mendapatkan amanah adalah mencari buku-buku tentang amanahnya dan berusaha melaksanakannya dengan baik. Maka, insya Allah, tugas apa pun bisa ditunaikan dengan profesional. Karena semua ada ilmunya dengan basic iman yang kuat,” katanya.

Ghofar pun mengajak menjadikab keseluruhan rangkaian Muswil ini sebagai cermin dalam meneguhkan amanah dakwah yang berpijak pada iman dan ilmu, sejalan dengan nilai keislaman dan keindonesiaan dalam membangun masyarakat secara berkelanjutan.

Sekilas Hidayatullah Bangka Belitung

Muswil ke-III ini juga menjadi momentum refleksi perjalanan Hidayatullah Bangka Belitung. Secara struktural, Dewan Pengurus Wilayah Bangka Belitung terbentuk pada 2015, meski perintisan dakwah telah dimulai sejak 2003 oleh Ustadz Nur Yahya Asa.

Perkembangan berlanjut pada 2012 ketika Ustadz Irwan Sambasong meneruskan perjuangan dengan berbagai tantangan dalam merintis pesantren, membuka sekolah, dan menghadirkan santri di Pondok Pesantren Hidayatullah Pangkalpinang.

Saat ini, Hidayatullah Bangka Belitung telah mengelola sejumlah kampus dan sekolah yang tersebar di empat kabupaten. Perkembangan tersebut menjadi bagian dari proses regenerasi organisasi. Irwan Sambasong kini mengemban amanah baru sebagai Ketua DPW Hidayatullah Sumatera Selatan periode 2025–2030.

Berdasarkan Surat Keputusan DPP Hidayatullah, Dewan Murabbi Wilayah Bangka Belitung diketuai Ustadz Djoko Mustofa, S.Sos.I, dengan anggota Ustadz H. Ahmad Junaidi, S.Pd.I. Kepengurusan DPW dipimpin Ketua Suardin Zalukhu, Sekretaris Taufik Hidayat, Bendahara Winanto, serta jajaran departemen terkait.

Editor: Adam Sukiman
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Sambut Ramadhan, Dana Umat Hadirkan Air Bersih untuk Santri dan Warga Cimanggu

BANDUNG BARAT (Hidayatullah.or.id) -- Menjelang Ramadhan 1447 H, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) rampungkan program pipanisasi...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img