AdvertisementAdvertisement

Kyai Muhammad Jazir dan Khidmatnya yang Mengakar di Hati Umat

Content Partner

YOGYAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Umat Islam berduka atas berpulangnya seorang figur panutan yang selama ini menghidupkan denyut dakwah di tengah masyarakat. KH Muhammad Jazir ASP, sosok kharismatik yang dikenal luas sebagai Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan, wafat di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta pada Senin, 2 Rajab 1447 (22/12/2025) dini hari sekitar pukul 03.00 WIB.

Kabar duka ini menyebar cepat dan mengetuk kesadaran banyak hati, sebagaimana diumumkan melalui akun Instagram resmi masjid yang selama ini menjadi rumah pengabdian beliau.

Kepergian KH Muhammad Jazir ASP meninggalkan jejak keheningan yang dalam. Jenazah almarhum disemayamkan di Masjid Jogokariyan—tempat yang ia rawat bukan hanya sebagai bangunan ibadah, tetapi sebagai pusat pembinaan umat dan simpul persaudaraan.

Dari masjid inilah beliau akan dimandikan, dishalatkan, dan dilepas untuk peristirahatan terakhirnya usai salat Zuhur pada hari yang sama, diiringi doa dan isak yang menyatu.

Di mata jamaah dan masyarakat luas, sosok kharismatik ini adalah penggerak dakwah yang setia bekerja di akar rumput, merangkul yang lemah, menguatkan yang ragu, dan menyalakan harapan melalui kerja-kerja sunyi yang konsisten.

Kesederhanaan langkah dan keteguhan komitmennya menjadikan dakwah terasa dekat, membumi, dan menghidupkan. Kepergiannya menyisakan duka, namun juga warisan teladan—bahwa dakwah sejati tumbuh dari kedekatan dengan umat dan ketulusan melayani.

Wariskan Jejak Dakwah

Dalam sebuah catatan yang sampai ke meja redaksi, wartawan senior Dzikrullah W. Pramudya menuliskan kesaksiannya tentang seorang tokoh yang hidupnya menyatu dengan denyut umat: aktivis rakyat, da’i, pemikir, sarjana hukum, sarjana tarbiyah, pekerja sosial, pengembang masyarakat, sekaligus pemikir Pancasila yang bekerja dalam sunyi namun berdampak luas.

Jejak awal perkenalan Dzikrullah dengan Muhammad Jazir bermula pada pertengahan 1988, bukan lewat perjumpaan atau percakapan, melainkan dari sebuah album kecil berisi foto-foto dokumentasi dakwah.

Foto-foto hitam putih itu tampak sederhana—diambil dari film analog yang di-afdruk—namun menyimpan daya gugah yang kuat, memantulkan ketekunan, keberanian, dan ketulusan perjuangan di tengah keterbatasan.

Pada masa itu, Dzikrullah masih berstatus siswa kelas dua SMA Muhammadiyah 2 Pucang, Surabaya. Di waktu yang sama, ia juga menjadi santri di pesantren mahasiswa Hidayatullah di Jalan Gebang Lor No. 49, Sukolilo, tidak jauh dari kampus ITS. Sejak edisi ketiga Juli 1988, ia turut membantu Tim Redaksi Majalah Suara Hidayatullah—sebuah fase awal yang mempertemukannya dengan kisah-kisah besar para penggerak umat.

Dalam album tersebut, terlihat sosok pemuda bertubuh tinggi dan tegap—Muhammad Jazir—yang hampir selalu berdampingan dengan seorang pria paruh baya berkemeja batik, berkacamata tebal, dengan rambut dan janggut yang hampir memutih.

Pria itu adalah Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, yang dikenal luas sebagai Romo Mangun. Foto-foto itu diambil di berbagai desa di Gunung Kidul pada awal 1980-an, merekam kerja bakti bersama warga, dialog kemanusiaan, serta pendampingan sosial di tengah deraan kekeringan panjang.

Kala itu, Muhammad Jazir yang aktif di Angkatan Muda Masjid memilih mendampingi Romo Mangun dalam pembangunan sumur air bersih bagi warga. Pendampingan tersebut bukan sekadar kerja sosial, melainkan ikhtiar sadar untuk menjaga dan menguatkan akidah masyarakat Muslim di tengah masifnya gerakan Kristenisasi.

Setiap kali satu sumur selesai dibangun, para aktivis dakwah segera menginisiasi peletakan batu pertama musholla. Dana pembangunan dihimpun dari para donatur di Yogyakarta dan sejumlah kota lain, menandai sinergi iman, solidaritas, dan keberpihakan pada rakyat kecil.

Perjumpaan langsung pertama Dzikrullah dengan Jazir terjadi pada Desember 1988, di rumah Jazir di Jalan Jogokariyan, Yogyakarta. Saat itu, Dzikrullah tengah menjalankan tugas jurnalistik untuk mewawancarai sejumlah tokoh nasional, di antaranya KH AR Fachruddin, Dr. Jamaluddin Ancok, dan Dr. M. Amien Rais. Tanpa janji sebelumnya dan tanpa dukungan fasilitas komunikasi modern, Jazir menerima dan membimbing reporter remaja berusia 16 tahun yang masih nyambi SMA itu hingga seluruh tugasnya tuntas.

“Karena waktu itu belum ada telefon seluler, belum ada pesan pendahuluan, tapi Mas Jazir sama sekali tidak kelihatan kaget menerima kami. Setelah mendengar penjelasan tentang maksud kami ke Jogja pun beliau terlihat biasa saja. Hanya tersenyum. Setelah menyuruh mandi dan menyuguhi sarapan, Mas Jazir menjelaskan kendaraan umum menuju ke tiga tokoh tadi, tanpa bikin janji sebelumnya,” kenang Dzikrullah.

Peran strategis Muhammad Jazir kembali menonjol pada Musyawarah Nasional V BKPRMI tahun 1989 di Masjid Al-Falah, Surabaya. Ia tampil sebagai penggerak lahirnya Gerakan Nasional Pendirian Taman Pendidikan Al-Qur’an dan TK Al-Qur’an. Gerakan ini memperoleh dukungan Menteri Agama Prof. Munawir Syadzali dan Menteri Penerangan Harmoko, lalu berkembang pesat hingga menjangkau seluruh Indonesia, bahkan meluas ke Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand.

Ustadz Muhammad Jazir tercatat dalam sejarah sebagai aktivis dakwah, pemikir, pekerja sosial, dan motor penggerak pendidikan Al-Qur’an lintas generasi. Keteladanan sikap, keberanian mengambil peran, serta visi kebangsaannya menempatkan beliau sebagai salah satu figur penting dalam perjalanan dakwah dan pemberdayaan umat di Indonesia.

Kepergian Ustadz Muhammad Jazir meninggalkan jejak dan warisan dakwah masjid yang kokoh. Ia menjadi pengingat kolektif bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai ruang ibadah, melainkan pusat pembinaan iman, penguatan Al-Qur’an, dan fondasi peradaban Islam yang hidup dan membumi.

Editor: Adam Sukiman
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Sambut Ramadhan, Dana Umat Hadirkan Air Bersih untuk Santri dan Warga Cimanggu

BANDUNG BARAT (Hidayatullah.or.id) -- Menjelang Ramadhan 1447 H, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) rampungkan program pipanisasi...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img