
DELI SERDANG (Hidayatullah.or.id) — Di tengah arus deras budaya visual yang serba cepat dan ringkas, aktivitas menulis kembali ditegaskan sebagai fondasi penting dalam pembentukan tradisi intelektual.
Pesan tersebut mengemuka dalam sesi berbagi literasi bersama mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) Ash-Shiddiq di Deli Serdang, Sumatera Utara, Selasa, 10 Rajab 1447 (30/12/2025). Kegiatan ini menjadi ruang refleksi tentang posisi menulis sebagai instrumen pengolah nalar, bukan sekadar keterampilan akademik formal.
Hadir sebagai narasumber, Imam Nawawi, Ketua Departemen Rekrutmen Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, menyampaikan pandangan yang menempatkan menulis sebagai kerja intelektual yang menuntut kedisiplinan berpikir.
Dengan pengalaman panjang sebagai praktisi literasi sejak tahun 2000, ia menggarisbawahi bahwa tantangan utama mahasiswa hari ini bukan hanya menyelesaikan pendidikan tinggi, melainkan membangun keberanian intelektual melalui kebiasaan membaca dan menulis secara konsisten.
Menurut Imam, menulis memiliki fungsi yang lebih dalam daripada sekadar pemenuhan kewajiban akademik. Ia menegaskan bahwa proses menulis memaksa otak untuk mengorganisir informasi yang diperoleh dari aktivitas membaca menjadi sebuah gagasan yang utuh dan terstruktur. Dengan demikian, menulis berperan sebagai jembatan antara pengetahuan yang tersebar dan pemahaman yang terintegrasi.
Dalam pemaparannya, Imam mengkritisi pandangan yang memosisikan menulis sebagai beban tata laksana rutin, seperti tugas makalah atau skripsi. Ia menyampaikan bahwa kualitas tulisan tidak ditentukan oleh formula instan, melainkan oleh sistem yang dibangun secara sadar dalam kehidupan sehari-hari. Menulis, menurutnya, harus diperlakukan sebagai bagian dari ritme hidup intelektual.
“Jika ingin menghasilkan tulisan yang baik, tidak ada rumus singkat. Yang dibutuhkan adalah membangun sistem agar dalam 24 jam, sepanjang pekan, bulan, hingga tahun, kita terbiasa dan mencintai aktivitas menulis,” ujarnya di hadapan para mahasiswi. Dia menekankan pentingnya pembiasaan sebagai sarana melatih kedisiplinan mental dan ketajaman berpikir.
Imam menjelaskan bahwa dengan membangun sistem menulis, mahasiswa secara simultan sedang membentuk pola pikir yang sistematis. Proses tersebut melatih kemampuan menyusun argumen, memilah informasi, serta menyampaikan gagasan secara runtut.
Dalam konteks keislaman, aktivitas ini ditekankan Imam sebagai sejalan dengan tradisi ilmiah yang menempatkan ilmu dan pena sebagai sarana pencerahan umat. Dalam pada itu, kebiasaan menulis menjadi kontribusi nyata dalam membangun wacana publik yang berakar pada nalar dan nilai.
Lebih lanjut, Imam memaparkan sejumlah manfaat strategis yang dapat diperoleh mahasiswa apabila memulai keseriusan menulis sejak masa kuliah. Pertama, menulis melatih ketajaman analisis karena menuntut penulis memahami secara mendalam apa yang dibacanya sebelum menuangkannya kembali dalam bentuk gagasan.
Kedua, tulisan berfungsi sebagai rekam jejak intelektual yang memungkinkan pemikiran seorang mahasiswa tetap hidup dan dapat ditelusuri melampaui masa studinya. Ketiga, keterampilan menulis merupakan kompetensi profesional yang bernilai tinggi, mengingat dunia kerja membutuhkan individu yang mampu menyampaikan ide secara jelas, logis, dan bertanggung jawab.
Pengalaman pribadi Imam yang telah menekuni dunia literasi selama lebih dari dua dekade menjadi ilustrasi bahwa konsistensi menulis merupakan investasi jangka panjang. Ia menekankan bahwa aspek teknis dalam menulis dapat dipelajari secara bertahap, namun dorongan internal untuk mencintai proses menulis harus dibangun dengan kesadaran penuh.
Menutup sesi tersebut, Imam menegaskan bahwa keberhasilan mahasiswa tidak semata diukur dari kemampuan menyelesaikan tugas akhir.
“Mahasiswa yang berhasil adalah mereka yang mampu menjadikan menulis sebagai bagian dari identitas dirinya,” pungkasnya, seraya menegaskan menulis sebagai jalan pembentukan karakter intelektual yang berkelanjutan.






