AdvertisementAdvertisement

Hidayatullah Tegaskan Dakwah yang Hidup dan Keberlanjutan Pembinaan Umat

Content Partner

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Bidang Perkaderan Nasional Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menyelenggarakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) pada Sabtu, 28 Rajab 1447 (17/1/2025). Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom dan diikuti oleh jajaran pengelola perkaderan dari berbagai wilayah.

Rakornas digelar sebagai tindak lanjut dari Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah, sekaligus menjadi forum penguatan arah dan konsolidasi program perkaderan di tingkat nasional.

Rakornas dipimpin langsung oleh Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Bidang Perkaderan, Ust. H. Dr. Abdul Ghofar Hadi. Dalam pengantarnya, ia menegaskan pentingnya kesiapan struktural dan konseptual seluruh jajaran perkaderan wilayah dalam mengemban amanah organisasi. Menurutnya, perkaderan menempati posisi strategis karena menyangkut keberlanjutan dakwah dan pembinaan umat secara sistematis.

Ghofar menjelaskan bahwa Rakornas bertujuan memperjelas desain dan teknis pelaksanaan program perkaderan yang telah disusun oleh DPP. Dengan kejelasan tersebut, para kepala departemen perkaderan di tingkat wilayah diharapkan dapat mengimplementasikan program secara lebih terarah, terukur, dan selaras dengan kebijakan nasional organisasi.

“Kita ingin menegaskan kepada seluruh kepala departemen perkaderan wilayah agar mudah dalam menerapkan program yang telah disiapkan oleh DPP,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Ghofar menekankan bahwa perkaderan tidak dapat dipahami sebatas agenda administratif atau teknis organisasi belaka. Lebih dari itu, perkaderan menurutnya merupakan amanah besar yang harus dijalankan dengan kesungguhan, perencanaan yang matang, serta orientasi jangka panjang. Karena itu, seluruh prosesnya perlu dilandasi kesadaran dakwah dan tanggung jawab keumatan.

Tiga Tugas Pokok Perkaderan

Lebih lanjut, Ghofar menguraikan tiga tugas pokok perkaderan yang harus dipahami dan dijalankan oleh seluruh wilayah, yakni rekrutmen, pembinaan anggota, dan kaderisasi.

Ketiga aspek tersebut dipandang sebagai fondasi utama dalam membangun kekuatan gerakan. Rekrutmen diarahkan untuk menjangkau individu-individu yang memiliki keinginan untuk berubah dan bertumbuh ke arah yang lebih baik. Pembinaan berfungsi menguatkan pemahaman, sikap, dan praktik keislaman anggota, sementara kaderisasi memastikan keberlanjutan kepemimpinan dan visi perjuangan organisasi.

Dalam konteks dakwah nasional, Ghofar menyoroti masih luasnya medan pengabdian umat Islam di Indonesia. Ia menyampaikan bahwa masih banyak masyarakat Muslim yang belum memiliki kemampuan dasar membaca Al-Qur’an.

Ia menyebutkan angka sekitar 150 juta Muslim di Indonesia yang memerlukan pendampingan agar dapat merasakan ajaran Islam secara lebih dekat dan substantif. “Mereka perlu kita ajak agar dapat merasakan nikmat Islam secara langsung,” katanya.

Dalam keterangannya, ia juga menukil temuan Kementerian Agama Republik Indonesia yang merilis hasil Asesmen Pendidikan Agama Islam (PAI) tahun 2025.

Berdasarkan asesmen tersebut, sebanyak 58,26 persen guru Pendidikan Agama Islam tingkat SD di Indonesia dinyatakan belum fasih membaca Al-Qur’an dan masih berada pada kategori dasar. Data ini diperoleh dari asesmen terhadap 160.143 guru PAI SD dan SDLB di seluruh Indonesia melalui aplikasi Sistem Informasi dan Administrasi Guru Agama (SIAGA) Kementerian Agama.

Menurut Ghofar, temuan tersebut menunjukkan tantangan pembinaan umat yang masih besar. Jika pada level pendidik agama masih ditemukan keterbatasan dalam kemampuan membaca Al-Qur’an, maka kondisi masyarakat secara umum memerlukan perhatian yang lebih serius.

Oleh karena itu, Ghofar menegaskan pentingnya memperkuat kerja-kerja pembinaan umat dengan pendekatan yang mendekatkan masyarakat kepada Al-Qur’an sebagai sumber nilai dan pedoman hidup.

Lebih lanjut, Ghofar menekankan bahwa mengajak dan membimbing masyarakat merupakan tugas mulia yang melekat pada kerja perkaderan. Perkaderan tidak boleh berhenti pada pemenuhan struktur organisasi semata, melainkan harus melahirkan semangat dakwah yang hidup.

Ia menjelaskan, perkaderan sebagai pekerjaan strategis untuk menghadirkan Islam secara nyata, sehingga masyarakat dapat merasakan keindahan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. “Kita punya tugas mengajak orang lain, agar mereka juga bisa merasakan keindahan nilai-nilai Islam,” tegasnya.

Dia berharap Rakornas Bidang Perkaderan Nasional ini menjadi peneguh komitmen bersama seluruh jajaran untuk menjalankan amanah perkaderan secara konsisten. Melalui forum ini, diharapkan terbangun kesiapan kolektif dalam menggerakkan program pembinaan yang berakar pada nilai keislaman dan selaras dengan semangat keindonesiaan, sehingga dakwah dapat terus tumbuh dan memberi kontribusi nyata bagi umat dan bangsa.

Reporter: Herim Achmad
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Sambut Ramadhan, Dana Umat Hadirkan Air Bersih untuk Santri dan Warga Cimanggu

BANDUNG BARAT (Hidayatullah.or.id) -- Menjelang Ramadhan 1447 H, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) rampungkan program pipanisasi...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img