AdvertisementAdvertisement

Ghofar Hadi Kaitkan Amanah dan Pengetahuan dalam Pembentukan Karakter Kepemimpinan

Content Partner

DENPASAR (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Bidang Perkaderan dan Pembinaan Anggota, Dr. Abdul Ghofar Hadi, M.Pd.I, menegaskan kembali posisi amanah sebagai fondasi utama dalam kehidupan keorganisasian dan kepemimpinan. Menurut Abdul, amanah bukan sekadar konsep normatif melainkan sebagai nilai inti yang menentukan kualitas individu dan arah gerak institusi.

Hal itu disampaikan Ghofar dalam pembukaan Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah (Rakerwil) Provinsi Bali yang diselenggarakan di Kampus Madya Hidayatullah Denpasar pada Sabtu, 5 Sya’ban 1447 (24/1/2025).

Ghofar menjelaskan, sikap amanah merupakan karakter inheren para nabi, yang secara eksplisit setidaknya disebut sebanyak lima kali dalam Surah Asy-Syu‘araa’, yakni pada ayat 107, 125, 143, 162, dan 178. Penegasan tersebut menunjukkan bahwa amanah adalah syarat dasar legitimasi kepemimpinan dan kepercayaan publik.

Sejalan dengan itu, beliau mengingatkan adanya larangan tegas untuk mengkhianati amanah sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Anfal ayat 27. Pengkhianatan terhadap amanah tidak hanya berdampak pada rusaknya tatanan organisasi atau institusi, tetapi juga mencerminkan problem integritas personal.

“Nabi juga mengingatkan kita, sikap tidak amanah bahkan sebagai salah satu ciri kemunafikan. Oleh karena itu, amanah harus dipahami sebagai tanggung jawab moral, komitmen ruhani, dan fungsi struktural yang melekat pada setiap peran dan jabatan yang diemban,” kata Ghofar yang hadir secara daring tersebut.

Namun demikian, terang Ghofar, amanah tidak dapat dilaksanakan secara optimal tanpa landasan ilmu. Amanah yang dijalankan tanpa pengetahuan berpotensi melahirkan kesalahan kebijakan dan ketidakefisienan kerja. Dalam konteks inilah, terangnya, konsep iqra’ memperoleh relevansi strategis.

Iqra’, jelasnya, tidak dimaknai secara sempit sebagai aktivitas membaca teks semata, melainkan mencakup proses belajar, meneliti, menganalisis, serta melakukan pembaruan diri secara berkelanjutan. “Iqra’ adalah perintah revolusioner yang menjadi pondasi peradaban dan kunci utama kemajuan umat,” katanya.

Ghofar lantas menyinggung keteladanan tokoh-tokoh sentral dalam sejarah Hidayatullah. Ustadz Abdullah Said digambarkan sebagai pembaca ulung dengan kecintaan tinggi terhadap buku, yang beriringan dengan kekuatan spiritual dan ibadahnya.

Demikian pula Rais ‘Am, Ustadz Abdurrahman Muhammad, dikenal sebagai pembaca Al-Qur’an yang konsisten serta penggemar literatur. Keteladanan ini, kata Ghofar, menunjukkan bahwa kapasitas kepemimpinan dan kedalaman spiritual tidak terpisah dari tradisi literasi yang kuat.

Ghofar menarik isu literasi dalam konteks yang lebih luas sehingga perlu menjadi perhatian serius, terutama ketika dihadapkan pada fakta kondisi literasi di Indonesia. Membaca tidak boleh direduksi sebatas sarana memperoleh informasi, pemahaman konseptual, atau pencapaian gelar akademik.

“Tujuan utama dari perintah iqra’ adalah agar kita mampu melaksanakan amanah dan tugas dengan baik. Literasi, dengan demikian, berfungsi sebagai instrumen etis dan praktis untuk memastikan tanggung jawab dijalankan secara profesional dan bertanggung jawab,” katanya.

Implikasi dari pandangan tersebut adalah pengakuan bahwa setiap peran dalam struktur organisasi, baik di tingkat DPW, DMW, DPP, organisasi pendukung, departemen, maupun unit-unit kerja lainnya, menuntut penguasaan ilmu, kesiapan mental, serta keterampilan yang memadai.

Menurutnya, tidak ada satu pun posisi yang dapat dijalankan secara efektif tanpa proses belajar yang serius. Oleh karena itu, membaca, belajar, dan mengikuti program peningkatan kapasitas atau pelatihan pengurus menjadi kebutuhan mendasar.

Pada titik ini, Ghofar memandang penugasan sebagai bentuk perkaderan yang paling nyata dan efektif dimana amanah yang diberikan melalui tugas mendorong seseorang untuk belajar lebih keras, bekerja lebih sungguh-sungguh, dan beribadah secara ikhlas.

“Penugasan tidak hanya menguji kemampuan lapangan, tetapi juga membentuk karakter, etos kerja, dan kedewasaan spiritual kader. Kesemuanya membentuk satu kesatuan proses perkaderan yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia,” imbuhnya menandaskan.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Sambut Ramadhan, Dana Umat Hadirkan Air Bersih untuk Santri dan Warga Cimanggu

BANDUNG BARAT (Hidayatullah.or.id) -- Menjelang Ramadhan 1447 H, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) rampungkan program pipanisasi...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img