AdvertisementAdvertisement

Ramadhan: Menjalani Hidup yang Ditangisi Jutaan Ahli Kubur

Content Partner

ALHAMDULILLAH, detik ini Allah masih memilih kita untuk bertemu Ramadhan dalam kondisi sehat wal afiat. Lihatlah ke kanan dan kiri, betapa banyak saudara kita yang merindukan Ramadhan, namun mereka hanya bisa menatapnya dari ranjang rumah sakit. Mereka ingin sujud, tapi raga tak lagi mampu. Mereka mau membaca al-Qur’an tapi lidah tak mampu, mereka ingin shaum, tapi fisik tak lagi mengizinkan.

Bahkan, ingatlah kembali wajah-wajah sahabat, kerabat, atau orang tua yang tahun lalu masih duduk bersujud di samping kita. Tahun lalu kita masih berbuka, tarawih, dan beriktikaf bersama mereka. Namun hari ini, mereka telah dipanggil ke Rahmatullah. Mereka telah berpindah alam, terputus dari kesempatan amal, dan tidak mungkin lagi bisa menikmati istimewanya Ramadhan tahun ini.

Jarak antara kita dan mereka hanyalah waktu. Kita adalah calon penduduk kubur yang sedang menunggu giliran. Maka, saat Allah memberikan kita ‘mukjizat kesempatan Ramadhan, jangan pernah merasa ini adalah hal yang biasa. Ini adalah pemberian eksklusif yang diinginkan oleh setiap jiwa yang telah wafat. Jangan sampai kesehatan kita hari ini menjadi saksi kelalaian kita di hadapan Allah kelak

Mereka yang di alam kubur sebenarnya sangat menginginkan untuk bertemu Ramadhan, sebagaimana digambarkan oleh Syekh Ibnu Jauzi rahimahullah

“تالله لو قيل لأهل القبور تمنوا لتمنوا يوما من رمضان.”

Demi Allah, kalau seandainya dikatakan kepada penghuni kubur berangan-anganlah kalian, niscaya mereka akan berangan-angan agar mendapati Ramadhan (meskipun hanya satu hari saja)

Perhatikan diksi beliau. Mereka tidak minta kembali ke dunia untuk melihat keluarga istri dan anaknya tercinta. Mereka tidak minta kembali untuk mengecek saldo rekening atau menyelesaikan proyek yang tertunda. Mereka minta satu hari di bulan Ramadhan.

Mengapa mereka, para penduduk kubur itu hanya meminta satu hari saja di bulan Ramadhan?

Bukan karena mereka rindu dunia, tapi karena mata mereka telah tersingkap melihat hakikat timbangan akhirat. Mereka kini paham, di sana ada satu malam yang lebih mulia dari seribu bulan. Mereka sadar sesadar-sadarnya, bahwa satu kali saja dahi menempel di bumi untuk bersujud di bulan Ramadhan, timbangannya jauh lebih berat daripada emas sebesar Gunung Uhud sekalipun.

Bagi mereka, satu detik di bulan Ramadhan kini terlihat jauh lebih mewah dan lebih berharga daripada seluruh dunia beserta isinya. Mereka telah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana pahala sedekah, tilawah, dan dzikir dilipatgandakan tanpa batas. Mereka telah menyaksikan betapa lebarnya pintu surga dan ampunan dibuka oleh Allah Azza wa Jalla di bulan Ramadhan.

Maka, sungguh merugi kita yang memegang ‘harta karun’ yang mereka tangiskan, namun kita justru memperlakukannya seperti sampah yang tak berharga.

Maka, ketika kita hari ini masih bisa menghirup udara di bulan suci ini, ketahuilah bahwa kita sedang menjalani “Mimpi Terbesar” jutaan manusia yang sudah wafat di alam kubur. Kita  memiliki apa yang mereka tangiskan yaitu bertemu bulan Ramadhan. Maka sungguh kurang bersyukur dan terlalu bagi seorang hamba, jika ia diberikan kesempatan yang ditangisi jutaan orang, tapi ia justru membunuh waktunya dengan sia-sia.

Lihatlah betapa mahal nikmat umur yang Allah berikan hari ini. Anda masih bernapas, sementara jutaan orang di bawah tanah sedang meratap, memohon kepada Allah hanya untuk diberikan satu hari saja di bulan Ramadhan.

Maka sungguh tidak masuk akal, jika ‘undangan eksklusif’ yang tak ternilai harganya ini, justru Anda tukar dengan kesia-siaan. Sungguh ironis jika waktu Ramadhan yang penuh rahmat, habis menguap hanya untuk scroll layar ponsel tanpa makna.

Gadget Anda tidak akan menolong di alam kubur. Media sosial tidak akan memberatkan timbangan amal jika hanya untuk menonton hiburan dan main game. Berhentilah menukar permata akhirat dengan sampah duniawi. Sadarilah, detik yang Anda buang hari ini adalah mimpi terbesar yang takkan pernah tercapai bagi ahli kubur.

Jika langit saja menyambut Ramadhan dengan membuka seluruh pintu surga, dan Allah memerintahkan setan-setan dibelenggu demi menghormati tamu agung ini, maka di mana posisi iman kita jika kita menyambutnya dengan ‘biasa-biasa saja’? Sungguh naif jika penghuni langit sibuk memuliakan Ramadhan, sementara kita yang di bumi justru abai dan tak acuh.

Ingat, Ramadhan ini hanya 30 hari, sebuah waktu yang amat singkat, sekarang sudah berkurang 3 hari. Tidak ada jaminan tahun depan nama kita masih ada di daftar orang yang bernapas. Bisa jadi, inilah Ramadhan terakhir kita.

Maka, berhentilah membunuh waktu. Fokuslah! Karena di dalam sunyinya dialog Anda dengan Allah, terdapat keselamatan yang takkan kita temukan dalam riuhnya dunia

Ramadhan kali ini, saatnya kita ‘pulang’ kepada Allah. Perbanyaklah dialog dengan-Nya melalui tilawah, tadabbur, infak, shodaqah dan hamparan sajadah di keheningan malam. Begitu banyak pintu amal shalih yang Allah bukakan dan mudahkan bagi kita hari ini—mulai dari sedekah hingga menjamu orang berbuka. Semuanya ada di depan mata.

Namun ingatlah sebuah kaidah: Jika di bulan Ramadhan saja, saat pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu, kita masih tidak memiliki keinginan untuk meningkatkan ibadah, maka jangan harap kita bisa melakukannya di luar Ramadhan.

Jika di saat Allah sudah memberi segala kemudahan dan kita tetap tidak bergerak, lalu kapan lagi? Jangan sampai Anda terbangun dari kelalaian ini saat malaikat maut sudah berada di ujung kerongkongan. Mari jadikan detik-detik ini sebagai sujud terbaik kita, sebelum kesempatan ini hilang selamanya

Jangan-jangan, kita termasuk golongan orang yang memang tidak memiliki keinginan baik, atau yang lebih mengerikan lagi, kita termasuk orang yang memang tidak diinginkan oleh Allah untuk masuk ke dalam surga-Nya.

Sebab, jika di masa ‘diskon’ pahala besar-besaran ini saja kita tidak mau menjemputnya, lantas di waktu mana lagi kita akan bertaubat? Na’udzubillahi min dzalik. Jangan sampai Allah membiarkan hati kita membatu hingga kesempatan terakhir ini pun berlalu tanpa arti.[]

*) Dr Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Ketua Bidang Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Kajian Ramadhan Suharsono Bahas Intelektualitas dan Identitas Muslim Remaja di Tengah Budaya Viral

DEPOK (Hidayatullah.or.id) -- Intelektual Muslim dan pendiri Ulul Albab Media, Ustadz Suharsono Darbi, memaparkan keterkaitan antara spiritualitas, pengendalian pikiran,...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img