
SUATU ketika, saat Rasulullah menaiki mimbar, beliau berucap “Amin” sebanyak tiga kali. Para sahabat bertanya-tanya penasaran, dan beliau menjelaskan bahwa saat itu Malaikat Jibril sang penghulu malaikat sedang memanjatkan doa-doa yang dahsyat. Salah satu petikan doa Jibril adalah:
“Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan, namun ia membiarkan bulan itu berlalu tanpa ia berhasil meraih ampunan dari Allah.”
Biasanya nabi Muhammad yang berdoa dan malaikat Jibril yang mengaminkan, namun ini Jibril sebagai malaikat terbaik berdoa dan diaminkan oleh Nabi Muhammad sebagai mahluk terbaik di dunia. Betapa dahsyatnya doa ini dan kemungkinan besar diijabah oleh Allah.
Doa yang diaminkan oleh Rasulullah ini bukan sekadar deretan kata, melainkan sebuah manifestasi ancaman mengerikan bagi siapa pun yang terjebak dalam kelalaian di bulan suci. Ramadhan seharusnya menjadi momentum mengejar ampunan di mana pintu ampunan dibuka lebar tanpa sekat, namun bagi jiwa yang bebal, bulan ini berlalu layaknya angin yang tak berbekas.
Mereka yang gagal mengoptimalisasi setiap detik berharga ini sebenarnya sedang mempertaruhkan keselamatan abadi mereka. Logikanya sangat mengerikan: jika di musim di mana rahmat Allah tercurah paling deras seseorang tetap gagal meraih ampunan, maka itu menunjukkan adanya kerusakan sistemik dalam jiwanya yang telah terbiasa menolak cahaya kebenaran.
Inilah tragedi bagi mereka yang secara sadar lebih memprioritaskan kesenangan duniawi yang fana daripada mengejar amnesti agung dari Sang Khalik. Ketika energi lebih banyak dihabiskan untuk memuaskan syahwat konsumtif dan hiburan yang melalaikan, manusia sebenarnya sedang membangun jurang kecelakaan bagi dirinya sendiri di tengah suasana kemerdekaan Ramadhan.
Doa ini karena ada sebuah paradoks spiritual yang memilukan dan mengenaskan. Bagaimana mungkin seorang hamba bisa celaka di musim di mana pintu neraka digembok rapat, pintu dan ampunan dibuka selebar-lebarnya, dan setan-setan dibelenggu dalam kehinaan?
Logika akademisnya sederhana namun menakutkan: Jika di saat fasilitas menuju kebaikan telah dibuka secara maksimal dan hambatan menuju keburukan telah diminimalisir sedemikian rupa, seseorang tetap gagal bertaubat dalam meraih ampunan, maka itu menunjukkan bahwa kerusakan jiwanya sudah bersifat sistemik.
Ironis memang, kehidupan dunia ini tidak hitam putih namun di momentum tertentu Allah memberikan keistimewaan kepada bulan Ramadhan. Salah satunya membuka pintu ampunan seluas-luasnya, parahnya adalah ada orang yang 24 jam kali 30 hari ada di bulan Ramadhan tapi tidak sempat beristighfar atau tidak sempat bertaubat meski hanya sekali saja entah karena kesibukan atau tidakpahamannya.
Ia ibarat seseorang yang berada di tengah hujan deras namun tetap kering karena ia sengaja memakai “payung” kesombongan dan keangkuhan untuk menolak rahmat Allah. Inilah kebinasaan yang sesungguhnya dan menjadi penyesalan yang luar biasa.
Permisalan umum di negeri ini, “ayam mati kelaparan di lumbung padi”artinya sangat terlalu dan tidak bisa diterima akal nomal. Secara logika, ayam itu tidak mungkin mati karena banyaknya padi sebagai makanannya, namun mengapa ada ayam ini bisa mati kelaparan, tentu ironis sekali.
Inilah kecemasan yang seharusnya menghantui setiap jiwa; ketika detik-detik emas Ramadhan membentang nyata di depan mata, namun ia dibiarkan berlalu sebagai aliran waktu yang hambar tanpa makna. Fenomena ini bukan sekadar kelalaian biasa, melainkan sebuah anomali spiritual yang mengerikan.
Ketidakmampuan untuk menggerakkan batin dalam ritual ibadah, amal saleh, dan pertaubatan di saat fasilitas langit dibuka secara maksimal adalah indikasi bahwa hati telah tertutup. Entah oleh oleh selaput keangkuhan, kemunafikan, kemaksiatan, kedurhakaan..
Mereka yang terjebak dalam ritme konsumerisme dan hiburan yang melalaikan selama Ramadhan sebenarnya sedang melakukan “bunuh diri spiritual” secara perlahan. Mereka berada di episentrum samudera rahmat, namun tetap kering karena dengan sengaja menggunakan payung kesombongan untuk menolak sentuhan hidayah. Inilah kecelakaan yang didoakan malaikat Jibril dan diaminkan Nabi Muhammad.
Dr. ABDUL GHOFAR HADI






