AdvertisementAdvertisement

Mengapa Membaca Al-Qur’an Harus Sering?

Content Partner

SELEPAS salat Tarawih, seorang kolega mendatangiku. Ia kemudian berkata, “Subhanallah, bagaimana kalau tidak ada Al-Qur’an, pasti sebagian besar waktu saya akan habis untuk scroll-scroll”. Kolegaku yang senior itu sedang memberi pesan bahwa kita harus lebih sering membaca Al-Qur’an daripada aktivitas lainnya, apalagi kalau sebatas urusan scrolling.

Pertanyaannya mengapa demikian? Tidak lain karena membaca Al-Qur’an itu membuat akal lebih aktif, pikiran lebih jernih dan sikap mental jauh lebih lurus. Bukankah kita tidak pernah menemukan orang yang usai membaca Al-Qur’an menjadi bingung dan patah semangat?

Selain itu, orang yang membaca Al-Qur’an dengan intensitas yang cukup akan memiliki struktur batin yang kokoh. Laksana air yang menetes terus menerus, ia akan mampu melubangi batu. Orang yang sering membaca Al-Qur’an akan mampu membuang kerak atau karat dalam hati. Bukankah orang yang sering berlatih akan sampai pada kecakapan?

Pada saat yang sama, kita bisa mengetahui bahwa orang yang terlalu banyak membaca timeline media sosial, biasanya akan sulit konsentrasi, karena mudah lompat dan pindah tema. Kemudian hasilnya pun depresi. Jadi, secara empiris kita bisa melihat ketimpangan besar antara memilih sering membaca Al-Qur’an dengan sering scrolling sangat tegas.

Permasalahannya adalah kesadaran dan pilihan kita sendiri. Tetapi orang yang mau berpikir rasanya tidak sulit untuk mengambil keputusan, bahwa Al-Qur’an lebih menguntungkan untuk dibaca lebih intens dari media sosial.

Gugatan Tuhan

Beberapa waktu setelah pertemuan dengan kolega itu, saya membaca ayat ke-17 Surah Al-Buruj. “Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang.”

Tafsir Al-Muyassar menerangkan bahwa ini pertanyaan retoris dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad tentang orang-orang yang menentang seperti Fir’aun dan Tsamud, yang akhirnya tumbang karena dosa dan pengingkaran mereka terhadap kebenaran.

Bagi kita, yang membaca ayat itu saat ini, artinya kita harus benar-benar memahami siapa sebenarnya Fir’aun dan Tsamud. Mengapa mereka Allah binasakan dan bagaimana kita menjauhi sikap destruktif dalam diri mereka. Dan, kisah mereka tersebar pada banyak ayat Al-Qur’an. Ini bermakna membaca Al-Qur’an tidak bisa sekali setahun apalagi hanya sekali seumur hidup.

Saya tadi menyebut pertanyaan retoris, itu bermakna bahwa pertanyaan itu bukan meminta jawaban, tetapi pertanyaan yang meminta kita menggugah kesadaran. Sebab kita juga bisa mudah memahami, bahwa Allah tidak butuh jawaban kita. Tetapi inilah cara Allah untuk membangun kesadaran kita.

Ketajaman Berpikir

Salah satu hikmah terbesar dari membaca Al-Qur’an dengan sering adalah akal kita yang terus terasah, sehingga muncul kualitas ketajaman dalam berpikir.

Ketajaman berpikir itu terbentuk ketika orang memiliki kesadaran historis yang utuh, kemampuan reflektif dalam membaca dan menuangkan pikiran, baik secara lisan maupun tulisan.

Secara epistemologis, semua kisah dalam Al-Qur’an tentang umat terdahulu adalah data moral. Semakin cerdas seorang Muslim membaca data itu, maka ia akan memahami pola hidup yang baik dan selamat. Dengan begitu orang akan terhindar dari mengulang pola kesalahan yang sama.

Dalam Muqaddimah karya Ibnu Khaldun, ada gagasan tentang siklus peradaban. Tanpa kesadaran sejarah, masyarakat jatuh pada pola yang sama. Al-Qur’an berkali-kali mengajukan pertanyaan retoris tentang umat terdahulu. Itu seperti mengaktifkan “memori peradaban.”

Oleh karena itu kalau kita korelasikan dengan Ramadhan, maka membaca Al-Qur’an memang harus kita lakukan sesering mungkin. Membaca yang mengundang kesadaran dan kebijaksanaan, sehingga kita bisa mendapat pahala satu sisi, mendapat energi pada sisi lain.*/Mas Imam Nawawi

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Hidayatullah Kenang Almarhum Indra Kartasasmita sebagai Penyantun Anak Yatim dan Dhuafa

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) -- Organisasi kemasyarakatan Islam Hidayatullah menyampaikan duka atas wafatnya Ketua Yayasan Dharma Bhakti Sosial (Dharmais), H. Drs....
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img