AdvertisementAdvertisement

Urgensi Tazkiyatun Nafs Kader dalam Menjaga Eksistensi dan Mengembangkan Organisasi

Content Partner

“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Terjemah Q.S. Asy-Syams: 7-10)

Menafsirkan ayat ini, para mufassir sepakat bahwa menyucikan jiwa merupakan hal penting dan mendasar. Karena penyucian jiwa mempengaruhi aspek diri lain manusia seperti akhlak. Semakin suci jiwa, maka seluruh diri dan kehidupan manusia akan berpotensi semakin baik. Demikian pula sebaliknya.

Oleh karena itu setiap insan hendaklah berikhtiar sungguh-sungguh untuk menyucikan jiwa. Salah satu caranya dengan menumbuhsuburkan keimanan. Sehingga kemudian kekufuran menghilang.

Dengan suburnya iman, pikiran akan dipandu oleh orientasi ukhrawi, hati dilembutkan oleh kecintaan terhadap kebaikan-kebaikan, fisik dikelola oleh tindakan-tindakan berkualitas, sementara pergaulan diatur dalam bingkai ta’awun bil birr wat taqwa (kerjasama pada kebaikan serta takwa). Selamatlah seorang insan dari ujian syubhat dan syahwat. Berkualitaslah hidupnya. Bukan hanya lahiriah, kesejahteraan juga meliputi kehidupan batiniyahnya.

Dalam konteks kaderisasi, tazkiyatun nafs tidak hanya berdimensi individual, tapi juga sosial dan organisasional. Di dimensi individual, sebagaimana telah disampaikan, tazkiyatun nafs mengantarkan seorang kader untuk bebas dari ujian syubhat yang menyerang pemikiran dan juga ujian syahwat yang menyerang hawa nafsunya. Alhasil kehidupan kader sedemikian baik, memungkinkan pertumbuhan potensi dirinya secara berkelanjutan.

Di dimensi sosial, dengan bebasnya kader dari ujian syubhat dan syahwat, kader bisa mengoptimalkan kontribusi positifnya kepada lingkungan sekitarnya serta kepada rekan-rekan sesama kader. Sementara kontribusi negatifnya hampir nol. Alhasil kehadirannya berdampak. Sosoknya senantiasa dinantikan.

Di dimensi organisasi, bebasnya kader dari ujian syubhat dan syahwat amat penting. Di satu sisi organisasi terjaga dari human error. Di sisi lainnya terasakan perkembangan yang pesat sebagai dampak dari pengembangan kualitas para kadernya.

Oleh karena itu tazkiyatun nafs kader perlu terus dijaga dan diikhtiarkan oleh organisasi. Suatu sistem kendali kader mesti dibangun. Muatan utamanya pada penjagaan ibadah, penguatan dirasah Islamiyah, dan reviu pelaksanaan tugas-tugas perkaderan. Ketiganya ibarat pilar yang bekerja secara simultan menopang tazikyatun nafs kader.

Sejarah dahulu dan kontemporer mencatat bahwa masalah organisasi/komunitas sering diawali oleh rusaknya seorang tokoh, seorang kader. Memastikan tazkiyatun nafs kader terus berlangsung akan jadi ikhtiar penting dalam menjaga keseluruhan organisasi. Ibarat perahu, tak akan pernah ditemukan lubang. Air dari luar tak akan masuk ke dalamnya. Perahu terus berjalan mencapai tujuan, tanpa sedikitpun kekhawatiran.

Wallah a’lam.

Fu’ad Fahrudin

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Forum Kampus Zakat, Imam Dorong Mahasiswa Bangun Literasi Filantropi Islam Melalui Tradisi Menulis

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) -- Public Relations Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), Imam Nawawi, mendorong mahasiswa bangun literasi...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img