
PERANG antarnegara menceritakan banyak hal. Satu yang mencolok adalah cerita tentang alutsista dari negara-negara tersebut. Lebih jauh ada cerita tentang sejarah peradaban dan rantai kaderisasi kepemimpinan.
Sementara itu, sebagaimana disepakati para ahli pengembangan sumber daya insani, kaderisasi kepemimpinan perlu bersifat holistik. Seluruh potensi yang ada pada individu perlu dikembangkan secara simultan. Oleh karena itu dibutuhkan perencanaan yang seksama, minimal sebuah pengantar yang memuat prinsip-prinsip fundamental.
Potensi Spiritual
Manusia diberi kekuatan spiritual agar tahu arah perjalanan hidupnya. Sehingga ia bisa mengarahkan segenap energi yang dimilikinya ke arah yang benar. Setiap kejadian juga diresponnya dengan tepat.
Dalam konteks kaderisasi kepemimpinan, potensi spiritual dikembangkan agar seorang kader pemimpin memiliki visi hidup yang benar sekaligus kokoh. Berikutnya dari visi hidup tersebut ia bisa menyusun serangkaian penjelasan dan juga tindakan, baik personal dan kolektif, secara sistematis. Sehingga visinya mewujud dalam kekuatan nyata yang berpengaruh.
Tentu saja akan banyak tantangan dalam mewujudkan orientasinya. Spiritualitas jugalah yang memberi kekuatan kepada sang kader pemimpin untuk mampu bertahan. Dalam hal ini seorang kader pemimpin perlu belajar untuk merasakan energi dari munajat-munajat khusyu’-nya.
Potensi Intelektual
Manusia diberi potensi intelektual sebagai alat utama untuk mempertajam dan mencapai visi hidupnya. Demikian pula dalam konteks kaderisasi kepemimpinan, potensi intelektual amat penting dikembangkan agar visi bisa terus ditingkatkan kualitasnya. Strategi pencapaian visi juga memerlukan intelektual yang mumpuni.
Dalam hal ini para kader pemimpin perlu dididik untuk memiliki mentalitas pembelajar mandiri, tidak sekedar menelan berbagai pengetahuan. Karena mentalitas pembelajar mandiri akan mengantarkan sang kader pemimpin untuk menjadi pemberi solusi (problem solver) yang unggul. Sehingga kehadirannya senantiasa berarti.
Di tingkatan yang lebih tinggi, problem solver akan menjelma menjadi developer (pengembang). Sifatnya proaktif. Situasi yang baik akan semakin ditingkatkan kebaikannya.
Sisi lain dari developer adalah defence (pertahanan dari bahaya). Sebagian sumber daya digunakan untuk membangun sistem pertahanan. Agar saat bahaya datang, situasi tidak kolaps.
Potensi Emosional
Kehidupan di dunia adalah lahan ujian. Wujudnya bisa kenikmatan, bisa pula kesengsaraan. Manusia mungkin sudah berpengetahuan untuk bisa menjalani semua ujian dengan baik. Akan tetapi pengetahuan ternyata tidak cukup. Seseorang perlu energi gerak agar pengetahuannya mewujud. Energi gerak itu ada pada potensi emosionalnya.
Emosi yang terkendali akan melahirkan gerak manusia yang relatif terkendali. Respon yang dihasilkan tidak serampangan, tapi pas. Sehingga berbagai situasi yang dihadapi, pada akhirnya, tidak menguras emosi terlalu banyak.
Dalam konteks kaderisasi kepemimpinan, seorang kader pemimpin butuh memahami urgensi emosi terhadap kepemimpinan. Ia perlu memahami sisi positif dan negatif emosi. Selanjutnya ia memahami kadar emosi terbaik di setiap situasi.
Dalam khazanah pendidikan Islam, penguatan potensi emosi berkaitan erat dengan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Sedangkan basis tazkiyatun nafs adalah mengeluarkan semua potensi buruk di satu sisi, serta menguatkan potensi baik di sisi lainnya. Seorang kader pemimpin perlu dididik dalam kerangka tazkiyatun nafs ini. Agar kebersihan jiwa memiliki akar yang teguh, berbuah emosi yang sangat terkendali.
Potensi Sosial
Manusia tidak bisa hidup sendiri. Ia membutuhkan orang lain. Karena ada proses saling memberi dan saling bantu dalam kehidupan yang dijalaninya.
Oleh karena itu manusia perlu memiliki mengaktifkan potensi sosialnya. Sehingga empatinya tumbuh, mengawali komunikasi dan interaksi yang nyaman. Semoga hidupnya dikelilingi oleh kebajikan-kebajikan.
Dalam konteks kaderisasi kepemimpinan, seorang kader pemimpin perlu dididik dengan banyak cara agar empatinya tumbuh. Dialog, praktik kerja, pengamatan, dan keteladanan merupakan beberapa cara yang bisa ditempuh. Satu hal yang tidak boleh tertinggal dari setiap cara pendidikan sosial adalah refleksi. Sang kader pemimpin memahami betul apa yang menjadi pesan dari setiap fragmen pendidikan yang dilaluinya.
Seorang pemimpin sering diukur dengan empatinya. Oleh karena itu kiranya penting untuk sang kader pemimpin terus mengasahnya. Bergaul dengan banyak kalangan secara terkendali itu salah satu cara yang bisa dipilihnya.
Menyuarakan empati merupakan aktivitas sosial yang tidak boleh dilewatkan. Maka sang kader pemimpin perlu disiapkan untuk memiliki keterampilan komunikasi yang baik, mencakup lisan serta tulis, individual atau publik.
Potensi Finansial
Manusia memiliki kebutuhan hidup. Ia harus berusaha agar kebutuhan hidupnya terpenuhi. Kemandirian perlu tumbuh dalam dirinya.
Dengan kemandirian, seorang manusia akan berusaha bekerja mencari uang. Berikutnya ia akan mengelola keuangannya agar cukup. Di tahap lebih tinggi, ia tidak segan menabung atau berinvestasi.
Dalam konteks kaderisasi kepemimpinan, seorang kader pemimpin diantarkan untuk memiliki sikap mandiri. Tidak hanya keuangan, tapi pemikiran dan sikap. Sehingga ia memiliki keterampilan dalam pengelolaan sekaligus standing position yang jelas.
Kaderisasi kepemimpinan itu satu bagian penting dari lestarinya komunitas, organisasi, atau apapun. Menguatkan prosesnya terus-menerus semoga jadi investasi jangka panjang. Satu pemimpin selesai dalam khidmatnya, kader pemimpin lain sudah siap melanjutkan. Terbentuk rantai penjagaan komunitas yang tidak terputus.
Wallah a’lam.






