
MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Badan Pembina Pondok Pesantren Hidayatullah, Dr. Paryadi Abdul Ghofar Hadi, S.Sos.I., M.Si., menyampaikan analogi tentang penempaan tumbuhan bambu moso yang menurutnya memuat pesan pentingnya kesabaran bagi keberlanjutan dakwah.
“Bambu Moso membutuhkan waktu hingga lima tahun untuk membangun akar sebelum mampu tumbuh lebih dari 30 meter ke atas,” ujarnya di hadapan peserta Rapat Kerja (Raker) Hidayatullah Medan Tahun 2026 yang dilaksanakan pada Kamis, 17 Syaban 1447 (5/12/2026).
Ia menguraikan mengenai tahapan pertumbuhan yang tidak selalu tampak secara kasat mata pada periode awal. Dr. Paryadi menyampaikan ilustrasi mengenai proses pembangunan diri dan organisasi dengan merujuk pada karakteristik pertumbuhan bambu Moso.
Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Bidang Perkaderan ini menjelaskan bahwa bambu tersebut dikenal memerlukan waktu yang panjang pada fase awal pertumbuhannya sebelum menunjukkan perkembangan yang signifikan secara fisik.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa proses tersebut dapat menjadi gambaran tentang pentingnya kesabaran dalam membangun sesuatu, termasuk dalam konteks organisasi. Menurutnya, tahapan awal yang tidak terlihat hasilnya secara langsung tetap memiliki fungsi yang menentukan bagi keberlanjutan proses berikutnya.
Dia pun menegaskan perlunya kesabaran dalam menanamkan nilai-nilai, menegakkan disiplin tata kelola, serta memperkuat struktur organisasi. Ia menyampaikan bahwa langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari proses yang harus dijalani secara konsisten.
“Demikian pula Hidayatullah Medan, kita perlu bersabar dalam menanam nilai, menegakkan disiplin tata kelola, dan mengokohkan struktur organisasi. Dari akar yang kuat itulah, insyaAllah, akan lahir pertumbuhan yang tinggi dan memberi manfaat luas,” katanya.
Untuk Kemajuan Islam
Selain menyinggung aspek pembangunan organisasi, Dr. Paryadi juga menyampaikan penegasan mengenai orientasi kehadiran Hidayatullah. Ia menyatakan bahwa keberadaan Hidayatullah ditujukan untuk kemajuan Islam. Dalam kerangka tersebut, ia menjelaskan bahwa gerakan dakwah Hidayatullah senantiasa diarahkan pada pendekatan yang merangkul dan dilaksanakan dengan hikmah.
Ia juga menyampaikan bahwa berbagai lembaga yang berada dalam lingkup Hidayatullah, termasuk yayasan-yayasan yang ada, dibentuk sebagai bagian dari pengabdian kepada Allah. Oleh karena itu, menurutnya, aspek niat menjadi hal yang harus senantiasa dijaga dan diluruskan dalam setiap aktivitas kelembagaan.
Ia mengingatkan agar seluruh pihak yang terlibat dalam pengelolaan lembaga Hidayatullah memahami bahwa aktivitas tersebut berkaitan dengan pengurusan agama Allah. Ia menekankan pentingnya menjaga konsistensi niat agar tidak menyimpang dari tujuan tersebut dan senantiasa berada pada garis yang lurus.
Kegiatan Raker sendiri dilaksanakan sebagai agenda rutin untuk membahas program, penguatan struktur, serta penyelarasan langkah organisasi ke depan sesuai dengan nilai dan tujuan yang telah ditetapkan.






