
NABIRE (Hidayatullah.or.id) — Upaya membangun peradaban tidak pernah terpisah dari tradisi literasi. Kesadaran inilah yang mewarnai pelaksanaan pembukaan Musyawarah Wilayah (Muswil) ke-1 Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Papua Tengah.
Di tengah agenda konsolidasi organisasi, DPW Hidayatullah Papua Tengah menghadirkan kegiatan yang bernuansa reflektif dan edukatif melalui bedah buku “Ketika Suami…” yang digelar di Kampus Madya Pondok Pesantren Hidayatullah Nabire, Selasa, 25 Jumadil Akhir 1447 (16/12/2025).
Kegiatan bedah buku ini dimaksudkan sebagai ikhtiar menumbuhkan budaya membaca dan berpikir kritis di kalangan guru, orang tua, serta santri. Literasi dipandang sebagai fondasi penting dalam membangun kualitas keluarga, pendidikan, dan masyarakat.
Dalam konteks kehidupan masa kini dengan beragam dinamikanya, literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan teknis membaca dan menulis, tetapi juga sebagai kesanggupan memahami persoalan hidup secara arif dan berlandaskan nilai keislaman.
Abdul Syakir, yang bertindak sebagai resensator, mengulas buku “Ketika Suami…” karya Ketua DPP Hidayatullah, Dr. Abdul Ghofar Hadi. Menurutnya, buku tersebut memiliki relevansi kuat dengan realitas sosial masyarakat saat ini, khususnya meningkatnya angka perceraian yang banyak dipicu oleh konflik berkepanjangan dalam rumah tangga.
“Banyak percekcokan suami istri berujung pada perceraian karena minimnya literasi dalam memahami peran dan kondisi pasangan. Ketika pengetahuan dan kedewasaan emosional rendah, masalah kecil mudah berubah menjadi konflik besar,” ujar Abdul Syakir dalam pemaparannya.
Ia menambahkan bahwa rendahnya literasi keluarga sering membuat pasangan, khususnya istri, mudah mengalami kelelahan emosional dan frustrasi. Buku ini, menurutnya, hadir sebagai jawaban atas banyaknya keluhan dan kegelisahan para istri dalam memahami dinamika suami dalam kehidupan rumah tangga.
Penulis buku, Dr. Abdul Ghofar Hadi, menjelaskan bahwa karya tersebut lahir dari pengamatannya terhadap kebingungan banyak istri dalam membaca karakter dan kondisi suami. Ia menegaskan bahwa suami adalah manusia biasa yang memiliki fase naik dan turun secara psikologis maupun emosional.
“Sengaja judulnya ‘Ketika Suami…‘ menggunakan titik-titik, karena ada banyak sisi misteri dalam diri suami dan cara menyikapinya. Ada fase marah, sakit, cemburu, berubah sikap, hingga menghadapi persoalan ekonomi atau keinginan tertentu dalam hidup,” jelas Ghofar.
Ia menekankan bahwa buku ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi, melainkan memberikan panduan berbasis ilmu dan pengalaman agar istri mampu menyikapi perubahan sikap suami dengan tenang, tidak terburu-buru berprasangka, serta mampu mencari solusi secara bijak. Menurutnya, literasi dalam kehidupan rumah tangga menjadi kunci untuk menjaga keharmonisan dan keutuhan keluarga.

Abdul Syakir menimpali bahwa buku tersebut membantu membuka sudut pandang baru dalam memahami relasi suami istri. “Buku ini menolong para istri agar tidak panik dan tidak salah paham ketika menghadapi kondisi suami yang sedang tidak stabil,” ujarnya.
Kegiatan bedah buku ini disambut antusias oleh peserta Muswil. Diskusi berlangsung hangat, dengan perhatian serius dari para peserta, baik laki-laki maupun perempuan. Sesi tanya jawab yang didominasi oleh para ibu berlangsung interaktif, menandai tingginya kebutuhan akan literasi keluarga yang berakar pada nilai Islam dan relevan dengan realitas masyarakat Indonesia.
Melalui kegiatan ini, DPW Hidayatullah Papua Tengah menegaskan bahwa literasi adalah bagian tak terpisahkan dari dakwah dan pembangunan manusia, dimulai dari keluarga sebagai pilar utama peradaban.






