AdvertisementAdvertisement

Bincang Santai tentang Sistem Kesadaran dengan Generasi Muda di Ciputat

Content Partner

SUASANA sore itu terasa hangat di sebuah kegiatan berbuka puasa bersama yang diselenggarakan oleh Pesantren Mahasiswa Dai (Pesmadai) di kawasan Rempoa, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, pada Senin, 19 Ramadhan 1447 (9/3/2026).

Di senja hari itu, anak-anak usia sekolah dasar hingga menengah atas (SMA) yang menjadi binaan taman Al Qur’an Pesmadai berkumpul dengan penuh antusias.

Mereka duduk berjejer rapi sambil menunggu waktu berbuka, namun kegiatan sore itu tidak hanya diisi dengan menunggu azan magrib. Ada sesi percakapan ringan yang justru membuat suasana menjadi hidup.

Pada kesempatan tersebut, Pembina Pesmadai, Imam Nawawi, hadir menyapa para peserta. Berbeda dengan suasana ketika ia berbicara di hadapan mahasiswa, kali ini Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect) ini memilih pendekatan yang lebih santai.

Imam tidak menyampaikan ceramah panjang dengan istilah yang rumit. Sebaliknya, ia mengajak anak-anak berdialog dengan pertanyaan sederhana.

Imam memulai percakapan dengan satu pertanyaan singkat. Ia memegang mikrofon dan bertanya, “Apa itu berani?” Mikrofon kemudian ia arahkan kepada seorang anak bernama Alfaro yang duduk di barisan kedua.

Alfaro tersenyum dan hanya mengangguk tanpa memberikan jawaban. Imam kemudian memindahkan mikrofon kepada anak lain di sampingnya.

Ia kembali bertanya dengan nada bersahabat, “Ayo, ada yang mau jawab?” Namun anak-anak tampak saling menoleh dan tersenyum malu. Tidak ada yang mengangkat tangan.

Melihat situasi itu, Imam meminta disiapkan papan tulis dan spidol. Ia lalu berkata kepada anak-anak bahwa mereka akan diajak berpikir bersama. Dia meminta anak anak untuk memusatkan pendengaran. “Karena tadi tidak ada yang mau bicara, sekarang saya minta kalian fokuskan telinga untuk mendengar,” katanya.

Di papan tulis tersebut ia menggambar dua bagan sederhana. Bagan pertama berjudul manfaat belajar, sementara bagan kedua berjudul manfaat bermain telepon genggam. Satu per satu anak diminta maju untuk mengisi kedua bagan tersebut.

Ketika mengisi bagian manfaat belajar, anak-anak tampak cukup mudah menuliskan berbagai jawaban. Mereka menyebutkan bahwa belajar dapat menambah pengetahuan, membantu memahami pelajaran di sekolah, dan membuat mereka menjadi lebih pintar.

Namun ketika giliran mengisi bagan manfaat bermain telepon genggam, sebagian anak terlihat ragu. Beberapa dari mereka tampak berpikir cukup lama sebelum menuliskan jawaban. Ada yang terdiam sejenak sebelum akhirnya menuliskan satu atau dua poin.

Setelah semua anak kembali ke tempat duduknya, Imam menjelaskan apa yang baru saja terjadi. Ia menyampaikan bahwa sebelumnya anak-anak sempat kesulitan menjawab pertanyaan karena belum mencoba berpikir secara mendalam. Melalui kegiatan sederhana di papan tulis, mereka mulai mencoba menyusun alasan dan menemukan jawaban sendiri.

Bangun Tradisi Berpikir Sejak Dini

Dalam kesempatan itu, Imam menjelaskan bahwa keberanian yang paling penting dalam kehidupan adalah keberanian untuk berpikir. Menurutnya, seseorang yang terbiasa berpikir akan lebih mudah memahami alasan dari setiap tindakan yang dilakukan.

“Sebaliknya, orang yang tidak membiasakan diri berpikir dapat mengalami kebingungan ketika harus menentukan pilihan dalam hidupnya,” katanya.

Penjelasan tersebut kemudian mengarah pada pesan yang lebih luas tentang pentingnya kesadaran dalam menjalani kehidupan. Setiap aktivitas manusia pada dasarnya memerlukan pemahaman tentang tujuan yang ingin dicapai.

“Kesadaran mengenai tujuan inilah yang membantu seseorang menentukan arah hidup, menyusun cita-cita, serta memahami alasan dari setiap keputusan yang diambil,” terang Imam di hadapan anak anak yang kini semakin antusias menyimak.

Imam lalu menjelaskan pelan pelan bahwa proses memahami tujuan hidup dimulai dari aktivitas membaca dan berpikir. Al-Qur’an dalam Surah Al-‘Alaq ayat pertama memerintahkan manusia untuk membaca dengan menyebut nama Allah: “Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq.”

“Ayat ini menunjukkan bahwa proses belajar dan memahami kehidupan harus dimulai dengan kesadaran tentang hubungan manusia dengan Penciptanya,” terangnya.

Dia menjelaskan bahwa membaca dalam ayat tersebut tidak hanya berarti membaca tulisan, tetapi juga memahami realitas kehidupan. Dengan demikian, berpikir menjadi bagian penting dalam proses belajar. Melalui berpikir, seseorang dapat memahami tujuan dari perbuatannya dan menentukan arah kehidupannya secara lebih jelas.

Oleh karena itu, Imam berpesan, membiasakan anak-anak untuk berpikir sejak dini merupakan bagian penting dari pendidikan. Lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat dapat berperan membantu anak memahami alasan dari setiap aktivitas yang mereka lakukan.

“Dengan kesadaran tersebut, anak-anak dapat belajar menjalani kehidupan dengan tujuan yang lebih terarah,” tandasnya.

Reporter: Khoirul Hilmi
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Peran Lembaga Filantropi Menjembatani Kebaikan hingga ke Akar Rumput

MEMBANGUN kesejahteraan bagi sesama adalah kebutuhan utama bangsa Indonesia. Namun kesejahteraan tidak lahir begitu saja; ia biasanya tumbuh dari...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img