AdvertisementAdvertisement

Dari Individu ke Gerakan yang Gemilang

Content Partner

KEMAJUAN tidak pernah lahir secara kebetulan. Ia selalu bertumpu pada kualitas manusia yang menggerakkannya. Di balik setiap perubahan besar, selalu ada pribadi-pribadi yang kuat secara batin, jernih dalam berpikir, dan matang dalam bersikap. Tanpa manusia semacam ini, pembangunan hanya akan berhenti pada slogan, dan kebangkitan tinggal menjadi wacana.

Buya Hamka pernah memberikan gambaran sederhana namun sangat dalam tentang seperti apa pribadi unggul itu. Menurutnya, manusia hebat adalah mereka yang mampu menahan amarah, sanggup menenggang perasaan orang lain, serta memiliki keberanian untuk berpikir dan berpendapat secara mandiri.

Hamka juga menekankan pentingnya tradisi membaca yang aktif dan kreatif. Dalam buku karyanya, Pribadi Hebat, ia menganjurkan agar seseorang “menelan” banyak buku, lalu mengolahnya menjadi pupuk bagi pertumbuhan diri. Artinya, ilmu tidak cukup hanya dikumpulkan. Ia harus dicerna, dipahami, dan diolah hingga melahirkan pandangan yang hidup dan bernilai.

“‘Telan’ buku-buku yang banyak, lalu jadikan pupuk untuk menyuburkan diri sendiri dengan pendapat sendiri,” kata Hamka.

Gagasan ini sejalan dengan pandangan Syeikh Yusuf al-Qaradawi. Dalam bukunya, Kembali dalam Dekapan Tarbiyah, ia menegaskan bahwa kemajuan yang gemilang menuntut prasyarat yang tidak ringan. Salah satu yang paling mendasar adalah keyakinan yang kokoh. Tanpa keyakinan, langkah mudah goyah dan arah mudah kabur.

Keyakinan yang kokoh, menurut Al-Qaradawi, tidak hadir begitu saja. Ia tumbuh melalui proses tarbiyah yang berkesinambungan. Tarbiyah membentuk manusia dari dalam, memperkuat iman, menata ruhani, dan meneguhkan orientasi hidup. Karena itu, kebangkitan sejati selalu dimulai dari individu, bukan dari struktur atau institusi semata.

Dalam proses tarbiyah inilah peran murabbi menjadi sangat menentukan. Murabbi bukan sekadar pengajar, melainkan sosok yang memiliki bobot. Bobot iman, kedalaman ruhani, kesucian jiwa, kekuatan kehendak, kematangan emosi, dan kemampuan memengaruhi orang lain ke arah kebaikan. Kehadiran murabbi dengan kualitas semacam ini menjadi faktor kunci lahirnya generasi unggul.

Kebijaksanaan dan Sikap Hidup

Kebangkitan peradaban, dengan demikian, tidak pernah muncul dari ruang hampa. Ia berawal dari transformasi batin seorang manusia. Prosesnya mirip dengan pertumbuhan sebuah pohon.

Akar menyerap unsur-unsur dari tanah, tetapi pohonlah yang mengolahnya hingga berbuah manis. Demikian pula manusia; informasi dan pengetahuan yang diserap baru akan bermakna jika diolah menjadi kebijaksanaan dan sikap hidup.

Secara alamiah, pertumbuhan manusia mengikuti hukum akumulasi. Pengetahuan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit tidak otomatis menjelma menjadi karakter. Di sinilah relevansi pesan Hamka tentang pentingnya pendapat mandiri.

Buku adalah nutrisi mentah, sementara daya pikir dan refleksi pribadi adalah alat pencernaannya. Tanpa proses ini, ilmu hanya akan menjadi tumpukan data yang membebani ingatan, bukan menerangi kehidupan.

Keyakinan yang lahir dari proses pengolahan ini bekerja seperti mesin penggerak pada sebuah kapal besar. Ia menentukan arah dan menjaga kestabilan perjalanan. Al-Qaradawi menempatkan keyakinan sebagai syarat mutlak kemajuan, karena keyakinan yang sejati bukan sekadar pernyataan lisan, melainkan kesatuan antara pikiran dan perbuatan. Ketika seseorang memiliki kepastian arah, ia tidak mudah goyah oleh tekanan, kritik, atau perubahan situasi.

Peran Katalisator

Gerakan yang besar dan bermakna juga membutuhkan figur pemimpin yang berfungsi sebagai katalisator. Dalam ilmu pengetahuan, katalis mempercepat reaksi tanpa ikut habis.

Demikian pula murabbi. Dengan kedalaman spiritual dan ketenangan emosinya, ia mempercepat proses pendewasaan umat. Ia tidak hanya menyampaikan materi, tetapi menularkan keteguhan, keikhlasan, dan kejernihan visi.

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Abdullah Said yang melihat objek dakwah sebagai manusia yang haus dan lapar akan sentuhan nilai-nilai Islam. Kesadaran ini membuat seorang murabbi mampu mengelola konflik dengan kepala dingin dan hati yang bersih, tanpa merendahkan atau menyakiti.

Pada akhirnya, kebangkitan yang gemilang terwujud ketika pribadi-pribadi hebat disatukan dalam satu barisan. Individu yang mandiri dalam berpikir, namun rendah hati dalam bersikap, akan membangun kolaborasi yang tulus.

Seperti akar-akar pohon yang saling menguatkan di bawah tanah, kesatuan visi inilah yang perlahan meruntuhkan kemustahilan dan menghadirkan harapan baru bagi masa depan.[]

*) Mas Imam Nawawi, penulis pegiat literasi

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Sambut Ramadhan, Dana Umat Hadirkan Air Bersih untuk Santri dan Warga Cimanggu

BANDUNG BARAT (Hidayatullah.or.id) -- Menjelang Ramadhan 1447 H, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) rampungkan program pipanisasi...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img