
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Amanah kepemimpinan dalam kerja-kerja perkaderan hanya dapat dijalankan secara istiqamah apabila disertai kesadaran mendalam terhadap nilai literasi. Penegasan tersebut menjadi pesan utama dalam kegiatan Ta’aruf Perkaderan se-Indonesia yang diselenggarakan secara daring oleh Bidang Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah pada Senin, 16 Rajab 1447 (5/1/2026).
Pesan tersebut disampaikan Ketua Bidang Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Abdul Ghofar Hadi, di hadapan Kepala Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah dari berbagai wilayah di Indonesia. Forum ini menjadi pertemuan nasional pertama setelah Bidang Perkaderan dibentuk secara struktural di tingkat pusat, dengan mandat strategis dalam penguatan sumber daya kader.
Dalam pemaparannya, Ghofar menjelaskan bahwa pembentukan struktur baru bukan sekadar penataan organisasi, melainkan peneguhan tanggung jawab yang bersifat moral dan spiritual. Ia menyebut amanah sebagai konsep sentral yang tidak dapat dilepaskan dari keimanan. “Ini amanah,” tegasnya dalam forum tersebut.
Menurutnya, dalam tradisi Islam, amanah tidak boleh dikejar secara ambisius, namun juga tidak boleh dihindari ketika telah dipercayakan. Oleh karena itu, diperlukan kesiapan pribadi dan intelektual agar amanah tidak berubah menjadi beban yang dijalankan secara formalistik semata. Dalam konteks inilah, terang Ghofar, literasi menjadi prasyarat utama kepemimpinan perkaderan.
“Amanah hanya bisa kita laksanakan jika kita yakin kepada Allah, yakin akan adanya surga dan neraka, serta percaya bahwa menjaga amanah adalah tanda iman sejati,” imbuhnya,
Ia menegaskan bahwa membaca merupakan fondasi peradaban seraya menekankan bahwa literasi sebagai instrumen strategis dalam membentuk pola pikir, ketajaman analisis, dan kedewasaan sikap para kader. “Tidak ada orang, apalagi bangsa, yang maju tanpa membaca,” kata Ghofar.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa membaca memiliki dimensi ibadah ketika diniatkan untuk memperkuat amanah dan memperluas kemaslahatan. Dalam kepemimpinan perkaderan, kemampuan memahami realitas, merumuskan kebijakan, dan membimbing generasi penerus sangat ditentukan oleh keluasan wawasan. Tanpa tradisi baca, kepemimpinan rentan terjebak pada pendekatan pragmatis dan kehilangan orientasi nilai.
Ghofar mengangkat teladan sejarah internal organisasi. Ia menyebut pendiri Hidayatullah, Abdullah Said, sebagai figur yang menempatkan membaca sebagai napas perjuangan. Dalam pandangannya, tradisi intelektual tersebut menjadi bagian penting dari pembentukan karakter gerakan sejak awal.
Membaca dan Gerakan Hidayatullah
Lebih jauh Ghofar juga menguraikan bahwa kerangka pemikiran Hidayatullah tidak lahir dalam ruang hampa. Prosesnya dibentuk melalui interaksi intensif dengan berbagai karya tokoh nasional dan ulama pemikir. Nama-nama seperti KH Mas Mansoer, Buya Malik Ahmad, Buya Hamka, dan Munawar Khalil disebut sebagai referensi bacaan yang turut memberi warna pada orientasi dakwah dan pendidikan Hidayatullah.
Dalam kesempatan yang sama, Ghofar menyinggung tradisi literasi yang masih terjaga di lingkaran kepemimpinan organisasi. Ia menyampaikan bahwa pimpinan tertinggi Hidayatullah dikenal sebagai pribadi yang dekat dengan buku. “Hingga kini, Rais ‘Am Hidayatullah pun dikenal sebagai sosok yang gemar membaca. Kado terbaik untuk beliau ya buku,” ungkapnya.
Ghofar menegaskan bahwa tanpa kesadaran literasi, amanah berisiko kehilangan arah. Ketika wawasan menyempit, kepemimpinan dapat tergelincir pada sikap reaktif dan jangka pendek. Sebaliknya, budaya baca memungkinkan kader memahami konteks zaman sekaligus menjaga prinsip dasar gerakan.
Melalui forum nasional ini, dia mengatakan, Bidang Perkaderan DPP Hidayatullah menegaskan orientasi pembinaan yang berbasis ilmu, akhlak, dan kesinambungan. Amanah kepemimpinan menurutnya adalah tanggung jawab jangka panjang yang hanya dapat ditunaikan melalui ketekunan, keimanan, dan komitmen terhadap literasi sebagai nilai dasar pembentukan kader






