
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah, Ustadz Dr. H. Tasyrif Amin, M.Pd., mendorong para pembina umat (murabbi) untuk menjadikan i’tikaf sebagai bagian dari proses pembinaan kader, terutama pada sepuluh hari terakhir Ramadhan.
Menurutnya, pembinaan spiritual akan berjalan lebih efektif apabila para pembina turut memberikan teladan dalam menghidupkan ibadah di penghujung bulan suci.
Ia menyampaikan bahwa praktik ibadah yang dijalankan bersama dapat memperkuat kualitas ruhiyah serta menumbuhkan kesadaran kolektif dalam membangun kehidupan keagamaan yang lebih mendalam.
Pernyataan tersebut disampaikan Tasyrif Amin dalam kegiatan Forum Riyadhah Murabbi yang diselenggarakan secara daring melalui platform Zoom pada Selasa, 20 Ramadhan 1447 (10/3/2026). Forum ini diikuti oleh para kader dan pembina dari berbagai wilayah di Indonesia.
Kegiatan tersebut sebagai ruang pembinaan spiritual untuk membantu peserta memaksimalkan momentum sepuluh hari terakhir Ramadhan melalui peningkatan kualitas ibadah, terutama dengan menghidupkan tradisi i’tikaf di masjid.
Tasyrif Amin menjelaskan bahwa sejak masa awal berdirinya gerakan dakwah Hidayatullah, Ramadhan selalu ditempatkan sebagai momentum penting untuk memperkuat spiritualitas para kader. Ia menyebutkan bahwa tradisi tersebut telah berkembang sejak periode perintisan yang berlangsung di Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan.
“Hidayatullah sejak masa rintisan selalu menjadikan Ramadhan sebagai momentum istimewa. Salah satu yang ditekankan adalah i’tikaf sebagai sarana menghidupkan spiritualitas kader,” ujarnya.
Ia juga mengingat kembali pengalaman masa awal pembinaan ketika pemahaman tentang fikih i’tikaf belum sepenuhnya dipahami secara mendalam oleh para kader. Meskipun demikian, semangat untuk menghidupkan ibadah tersebut tetap dijaga dan dilaksanakan secara bersama-sama sebagai bagian dari penguatan spiritual.
“Waktu itu kami belum terlalu memahami fiqih i’tikaf secara mendalam, termasuk fiqih prioritasnya. Yang kami pahami adalah bahwa i’tikaf itu penting. Karena itu para kader yang beraktivitas di lapangan akan kembali ke kampus dan menghidupkan masjid saat Ramadhan agar spiritualitas tetap terjaga,” jelasnya.
Dalam forum yang sama, Ustadz Tasyrif kembali menegaskan pentingnya peran para murabbi atau pembina dalam membimbing kader melalui keteladanan langsung. Ia menyampaikan bahwa pembinaan spiritual tidak hanya disampaikan melalui arahan atau ceramah, tetapi juga melalui praktik ibadah yang dicontohkan secara nyata oleh para pembina.
Menurutnya, ketika pembina turut melaksanakan i’tikaf dan menghidupkan ibadah di masjid pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, para kader akan lebih mudah memahami nilai spiritual yang ingin ditanamkan dalam proses pembinaan.
Selain itu, ia juga mengingatkan agar aktivitas yang bersifat teknis dapat diatur secara lebih proporsional selama periode akhir Ramadhan. Pengaturan tersebut dimaksudkan agar para pembina memiliki ruang yang lebih luas untuk memfokuskan diri pada penguatan ibadah dan pembinaan spiritual.






