
SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Kalimantan Timur, Ust. Drs. Muh. Nurdin Abdul Rahman, menyerukan persiapan optimal menyambut bulan suci Ramadhan dengan perencanaan yang matang. Hal itu ditekankan beliau dalam rangkaian Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Kalimantan Timur di Kota Samarinda, pada Jum’at subuh, 11 Sya’ban 1447 (30/1/2026).
Nurdin Abdul Rahman mengingatkan para peserta akan semakin dekatnya bulan suci Ramadhan dan pentingnya kesiapan iman dalam menyambutnya.
Dalam suasana subuh yang khidmat, Nurdin mengajak seluruh peserta Rakerwil untuk memandang Ramadhan sebagai peristiwa tahunan yang menuntut kesiapan ruhani agar benar-benar memberi dampak pada kualitas keimanan seorang muslim.
“Tidak terasa, Ramadhan tersisa 20 hari lagi. Sudah sepatutnya untuk kita mempersiapkan diri agar termasuk orang-orang yang akan menjalaninya dengan baik, yaitu menjadi orang yang beriman,” katanya.
Nurdin menyoroti fenomena yang kerap luput dari perhatian umat Islam, yakni masuk dan keluarnya seseorang dari Ramadhan dengan kondisi iman yang relatif sama. Ia menilai hal ini terjadi karena Ramadhan tidak disiapkan dengan kesadaran dan perencanaan spiritual yang memadai.
“Banyak orang yang tidak memastikan kualitas imannya saat memasuki bulan Ramadhan,” katanya.
Padahal, terangnya, Ramadhan adalah bulan yang paling efektif me-recharge kondisi hati yang sempat melemah di sebelas bulan sebelumnya. Akhirnya dia meninggalkan Ramadhan dengan kualitas iman yang sama saat pertama kali dia berpuasa.
Menurut Nurdin, Ramadhan sejatinya berfungsi sebagai fase pemulihan dan penguatan iman. Jika kesempatan ini tidak dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh, maka potensi besar Ramadhan sebagai sarana transformasi spiritual akan terlewatkan begitu saja.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa memasuki Ramadhan memerlukan persiapan yang komprehensif, tidak parsial. Persiapan tersebut mencakup kesiapan fisik, mental, dan terutama spiritual, agar ibadah yang dilakukan selama Ramadhan benar-benar berdaya guna.
Untuk memudahkan pemahaman, Nurdin menggunakan analogi sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia mengibaratkan persiapan Ramadhan seperti mengisi daya sebuah perangkat elektronik.
“Seperti kita men-charge HP, kita pastikan charger kita bagus, bisa men-supply aliran listrik ke HP. Bahkan ketika charger sudah disambungkan, kita tetap melihat layar HP untuk memastikan bahwa HP benar-benar ter-charge,” ujarnya.
Analogi ini, menurutnya, menggambarkan bahwa kehadiran sarana saja tidak cukup. Diperlukan kesadaran dan pengecekan berkelanjutan untuk memastikan proses pengisian berjalan dengan baik.
“Jangan sampai HP kita ternyata tidak ter-charge meski merasa telah menyambungkan charger ke HP. Akhirnya HP tetap low batt dan tidak mampu dipergunakan dalam waktu yang lama,” ujarnya.
Nurdin menekankan bahwa Ramadhan juga demikian. Puasa, tarawih, dan tilawah tidak otomatis memperbaiki iman jika tidak disertai kesungguhan niat, pengawasan diri, dan penghindaran dari hal-hal yang merusak nilai ibadah.
Dalam bagian akhir taushiyahnya, Nurdin yang dikenal sebagai pendidik dan ayah dari sembilan anak itu membagikan beberapa langkah praktis sebagai bekal menyambut Ramadhan agar dijalani secara optimal. Ia menyebutkan setidaknya tiga kebiasaan penting yang perlu dibangun sejak bulan Sya’ban.
Ia menyampaikan bahwa langkah pertama adalah membiasakan diri dengan puasa sunnah di bulan Sya’ban sebagai latihan fisik dan mental sebelum Ramadhan.
Kedua, memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an agar hati semakin peka dan siap menerima hidayah. Dan, ketiga, menjauhkan diri dari berbagai bentuk kemaksiatan yang dapat menjadi penghalang tumbuhnya ketakwaan.
Menurut Nurdin, jalan menuju Ramadhan yang berkualitas tidak ditempuh secara instan, tetapi melalui proses pembiasaan dan kesadaran diri yang berkelanjutan.






