AdvertisementAdvertisement

Di Balik Fenomena Kemiskinan Ekstrem, Hidayatullah Desak Kehadiran Negara bagi Warga Rentan

Content Partner

JAKARTA (HIdayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas tragedi kemanusiaan yang menimpa Najwa, seorang anak berusia 8 tahun di Kendari, Sulawesi Tenggara. Korban dilaporkan meninggal dunia akibat tertabrak alat berat jenis loader saat sedang berjualan tisu demi membantu ekonomi keluarganya.

Peristiwa memilukan yang terjadi pada Jum’at pekan lalu (6/2/2026) ini bukan sekadar kecelakaan lalu lintas semata, melainkan sebuah alarm keras bagi kondisi sosial-ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput.

Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Muhammad Isnaeni, menegaskan bahwa kejadian ini harus dilihat melalui kacamata sosiologis yang lebih luas, bukan sekadar kasuistik. Berdasarkan data faktual yang terhimpun di lapangan, diketahui bahwa motivasi utama korban turun ke jalan adalah ketiadaan bahan pangan pokok di rumahnya.

“Tragedi ini adalah tamparan keras bagi kita semua. Kami menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga Ibu Nurhana. Namun, air mata saja tidak cukup. Kematian Najwa yang sedang berjuang demi sesuap nasi adalah indikator nyata bahwa jaring pengaman sosial kita masih memiliki celah yang sangat besar,” ujar Isnaeni.

Fakta empiris dari kronologi kejadian menunjukkan adanya korelasi langsung antara kemiskinan ekstrem dengan risiko keselamatan anak. Sebagaimana dikonfirmasi oleh pihak keluarga, korban terpaksa keluar rumah di malam hari meski sempat dilarang ibunya karena hujan karena desakan kebutuhan dasar. Korban berjanji akan pulang membawa beras karena di rumah sudah tidak ada nasi untuk dimakan. Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat kerentanan ekonomi keluarga berada pada titik nadir, di mana pemenuhan kebutuhan kalori harian pun menjadi tantangan yang mempertaruhkan nyawa.

Isnaeni menilai bahwa kasus ini berpotensi besar merupakan fenomena gunung es. Apa yang tampak di permukaan adalah satu kasus kematian tragis, namun di bawahnya tersimpan realitas ribuan keluarga lain yang mungkin sedang bertarung melawan kelaparan dalam sunyi.

“Ketidakmampuan warga negara untuk mengakses kebutuhan pangan dasar merupakan bentuk kegagalan kehadiran negara dalam menjamin hak konstitusional warganya, khususnya fakir miskin dan anak-anak telantar,” kata Isnaeni dalam keterangannya kepada media ini, Senin, 21 Syaban 1447 (9/2/2026).

Dia memandang, negara harus hadir secara nyata dalam mengentaskan masalah kemiskinan ekstrem yang masih terjadi di daerah seperti Kendari ini. Tidak boleh ada lagi anak-anak yang harus meregang nyawa di jalanan hanya karena ingin memastikan ada beras di dapur rumahnya.

Lebih lanjut, Isnaeni menyoroti aspek perlindungan anak yang terabaikan akibat himpitan ekonomi. Narasi bahwa korban sempat bertanya mengenai penampilannya dan berjanji membawa uang banyak sebelum kejadian, menunjukkan beban psikologis orang dewasa yang harus ditanggung oleh anak di bawah umur.

Dia menegaskan, kasus ini, yang kini telah ditangani oleh Satlantas Polresta Kendari dengan mengamankan operator alat berat, harus menjadi momentum evaluasi kebijakan pengentasan kemiskinan yang lebih substansial dan tepat sasaran.

Pihaknya pun mendesak pemerintah untuk tidak sekadar memberikan santunan pasca-kejadian, melainkan melakukan pemetaan ulang terhadap kantong-kantong kemiskinan ekstrem. Dia menyarankan, intervensi negara harus bersifat preventif dan sistemik, memastikan bahwa tidak ada lagi warga negara yang terpaksa menempatkan anak-anak mereka dalam situasi berbahaya demi keberlangsungan hidup biologis.

Isnaeni menambahkan, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di balik angka-angka statistik pertumbuhan ekonomi, masih terdapat realitas pahit di mana nyawa seorang anak menjadi taruhan untuk sekilogram beras.

“Kami mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersinergi mengentaskan masalah ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk menegakkan keadilan dan menghadirkan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia sebagai amanat utama Undang-Undang Dasar 1945,” tandasnya.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

KH Naspi Arsyad Dorong Penguatan Relevansi Dakwah Ditengah Kompleksitas Dinamika Zaman

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc, menekankan pentingnya inovasi berkelanjutan dan...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img