
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam upaya memperkuat fondasi sosial dan ketahanan nasional melalui unit terkecil masyarakat, Departemen Rekrutmen Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah bersinergo dengan Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) menyelenggarakan acara daring bertajuk “Kajian Ramadhan Keluarga” pada Rabu, 14 Ramadan 1447 (4/3/2026). Acara ini menghadirkan pegiat literasi Hidayatullah, Imam Nawawi, yang memberikan bedah mendalam mengenai urgensi mengembalikan keluarga pada basis nilai-nilai teologis dan psikologis yang benar.
Dalam paparannya, Imam Nawawi menyoroti tantangan keluarga modern yang kerap terjebak dalam ego sektoral dan haus kekuasaan (animus dominandi). Ia mencatat bahwa tren perceraian di Indonesia pada tahun 2025 telah mencapai angka yang memprihatinkan, yakni lebih dari 400.000 kasus, dengan konsentrasi tertinggi di Jawa Barat. Menurutnya, fenomena ini tidak lepas dari kegagalan individu dalam meletakkan Tuhan sebagai visi utama dalam berumah tangga.
“Seorang keluarga, ayah dan ibu, yang mampu menjadikan Tuhan itu sebagai visi, sebagai orientasi dalam kehidupannya, itu pasti akan memiliki sebuah regulasi emosi yang baik,” ujar Imam Nawawi menekankan pentingnya aspek transendental dalam hubungan suami-istri.
Dia mengkritik kecenderungan masyarakat modern yang terlalu mengadopsi definisi manusia dari pemikir Eropa masa Renaisans yang melihat manusia sebagai makhluk egoistik. Hal ini, menurutnya, memicu perebutan kekuasaan bahkan dalam lingkup domestik.
“Ternyata dalam relasi suami istri, haus kekuasaan itu terjadi. Buktinya adalah penutupan akses itu,” tambah Imam yang menghubungkan dengan materi yang dibawakan konsultan Yayasan Lentera Anak, Reza Indragiri Amriel sebelumnya.
Lebih lanjut, Imam menjelaskan bahwa sebuah peradaban besar tidak akan pernah muncul tanpa komitmen kuat terhadap nilai-nilai fundamental yang berakar dari keluarga.
Dia merujuk pada Al-Qur’an, khususnya Surah Ali Imran, sebagai manifestasi betapa krusialnya peran keluarga dalam menentukan masa depan bangsa. Tanpa basis nilai yang kokoh, kebijakan birokrasi maupun tata kelola pemerintahan pun akan rapuh karena aktor-aktor di dalamnya tumbuh dalam kultur sosial yang jauh dari integritas nilai.
Terkait dengan visi Indonesia Emas 2045, Imam Nawawi menegaskan bahwa pembenahan pola pengasuhan adalah langkah yang tidak bisa ditunda. Anak yang didengar, dihargai, dan diperhatikan akan tumbuh menjadi pribadi yang bijaksana di ruang publik. Ia mengibaratkan kesiapan mental dan wawasan sebelum menikah seperti penyediaan pelampung dalam sebuah pelayaran.
“Ibarat kata kalau kita naik feri nyeberang, pelampung sudah ada sehingga kalau terjadi goncangan ombak besar semua bisa selamat, dipastikan selamat,” jelasnya memberi analogi tentang pentingnya edukasi pra-nikah agar pasangan siap menghadapi gejolak rumah tangga tanpa harus berujung pada perpisahan yang traumatis.
Imam juga memberikan refleksi mengenai relasi orang tua dan anak. Seringkali, konflik tragis terjadi akibat kegagalan orang tua dalam memahami psikologi anak dan terjebak pada aspek emosional semata. Dia mengambil teladan dari Rasulullah SAW yang mampu menjaga kekhusyukan ibadah tanpa mengabaikan kasih sayang kepada cucunya.
“Ini menunjukkan bahwa kita sebagai orang tua yang sudah punya pengalaman pendidikan, punya pengalaman keagamaan, seharusnya mampu ketika bertemu dengan anak-anak itu dengan psikologi anak,” tuturnya.
Keluarga, dalam pandangan Imam, bukan sekadar entitas biologis, melainkan ikatan akidah. Mengutip kisah Nabi Nuh dan putranya, ia mengingatkan bahwa dalam Islam, definisi keluarga melampaui batas golongan darah.

Jika ikatan akidah telah terputus, maka esensi kekeluargaan itu pun hilang di mata Tuhan. Oleh karena itu, membangun keluarga berarti membangun ketaatan kolektif kepada Allah SWT.
Ketua Departemen Rekrutmen DPP Hidayatullah ini mengajak untuk menjadikan keluarga sebagai prioritas utama dan warisan (legacy) tertinggi. Meskipun seseorang tidak memiliki jabatan politis seperti presiden atau wakil presiden, kontribusi mereka dalam membenahi keluarga secara langsung akan ikut membenahi wajah peradaban bangsa.
“Manusia itu lahir di dalam keluarga. Inspirasi dari Al Quran dan Nabi mengingatkan baiti jannati, rumahku adalah surgaku. Itu maknanya adalah bukan kita nyaman di dalam rumah tidak mau bersosialisasi, tetapi dari rumah itulah pancaran nilai-nilai kebaikan itu bisa dipendarkan,” pungkasnya.






