AdvertisementAdvertisement

Forum Kampus Zakat, Imam Dorong Mahasiswa Bangun Literasi Filantropi Islam Melalui Tradisi Menulis

Content Partner

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Public Relations Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), Imam Nawawi, mendorong mahasiswa bangun literasi zakat sebagai bagian dari filantropi Islam melalui tradisi menulis. Menurutnya, aspek teknis dalam penulisan ilmiah relatif mudah dipelajari melalui berbagai platform digital seperti YouTube, Google Scholar, maupun teknologi berbasis kecerdasan buatan.

Namun, dia menekankan, hal yang lebih mendasar adalah membangun arah berpikir yang jelas serta keberanian menulis dari gagasan sendiri. Pernyataan tersebut disampaikan dalam agenda Kampus Zakat, Sekolah Amil, dan Forum Zakat Batch 10 yang diselenggarakan secara virtual melalui Zoom pada Kamis, 14 Syawal 1447 (3/4/2026).

Dalam forum tersebut, Imam Nawawi hadir sebagai narasumber yang membahas pendekatan dasar dalam menulis karya ilmiah. Ia tidak memulai pembahasan dari aspek teknis penulisan, melainkan dari proses intelektual yang melatarbelakangi lahirnya sebuah tulisan. Menurutnya, kemampuan menulis tidak dapat dipisahkan dari kebiasaan membaca serta kemampuan merumuskan pemikiran secara mandiri.

Penulis buku Mindset Surga ini menyampaikan tiga prinsip yang menurutnya penting untuk menumbuhkan kebiasaan menulis. Pertama, membaca secara tekun hingga seseorang mampu melahirkan pandangan sendiri, bukan sekadar mengutip pendapat yang telah ada.

Kedua, menulis dengan menggunakan pemikiran yang lahir dari proses membaca tersebut. Dan, Ketiga, menjalankan aktivitas menulis sebagai panggilan intelektual yang lahir dari kepekaan terhadap kondisi umat, masyarakat, dan perkembangan global.

Imam menjelaskan kegiatan menulis ilmiah sebagai proses yang berangkat dari pembentukan cara berpikir. Dalam pandangannya, tulisan akademik tidak hanya berkaitan dengan tata cara sitasi, struktur metodologi, atau format penulisan. Ia menilai bahwa kualitas tulisan dipengaruhi oleh kedalaman pembacaan serta kemampuan memahami persoalan yang sedang dihadapi masyarakat.

Imam Nawawi juga memberikan contoh topik yang dapat dikembangkan oleh mahasiswa atau peneliti. Ia menyebutkan bahwa karya ilmiah dapat berbentuk tulisan populer maupun artikel jurnal yang meneliti isu tertentu, termasuk kajian tentang peran lembaga amil zakat dalam pemberdayaan masyarakat pesisir.

Ia menjelaskan bahwa berbagai panduan teknis penulisan sebenarnya dapat ditemukan dengan mudah melalui sumber digital. “Hal-hal teknis dalam penulisan ilmiah relatif mudah ditemukan melalui berbagai platform digital seperti YouTube, Google Scholar, dan teknologi berbasis AI,” ujarnya.

Ia kemudian menegaskan bahwa yang lebih penting dari penguasaan teknis tersebut adalah keberanian menulis berdasarkan gagasan sendiri yang lahir dari proses membaca dan berpikir.

Diskusi dalam forum tersebut berkembang ketika salah satu peserta, Dewi Masita dari Universitas Brawijaya, mengajukan pertanyaan mengenai kecenderungan penelitian zakat yang lebih banyak menempatkan mustahik sebagai objek kajian. Ia mempertanyakan kemungkinan penelitian yang menjadikan muzakki sebagai subjek utama dalam kajian akademik.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Imam Nawawi menjelaskan bahwa fokus penelitian pada mustahik muncul dari upaya membuktikan bahwa zakat dapat berperan sebagai instrumen sosial yang mampu mendorong perubahan kondisi penerima zakat hingga berpotensi menjadi muzakki. Namun demikian, ia menyampaikan bahwa ruang penelitian mengenai muzakki tetap terbuka.

Ia menambahkan bahwa penelitian juga dapat diarahkan pada muzakki dalam konteks perusahaan, mengingat keberadaan zakat perusahaan sebagai bagian dari praktik filantropi Islam. Dalam konteks tersebut, menurutnya, penelitian dapat menelaah hubungan antara praktik zakat perusahaan dengan aspek kepemimpinan, manajemen organisasi, maupun kultur spiritual dalam lingkungan kerja.

Pada bagian akhir pemaparannya, Imam Nawawi menekankan pentingnya memilih topik penelitian yang memiliki unsur problemable. Ia menjelaskan bahwa topik yang diangkat harus benar-benar merupakan persoalan yang dapat dianalisis dan dijawab melalui pendekatan ilmiah.

Menurutnya, proses tersebut menjadi dasar bagi lahirnya tulisan ilmiah yang tidak hanya tersusun secara metodologis, tetapi juga memiliki relevansi dengan persoalan yang dihadapi masyarakat.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Silaturrahim Syawal DPP Hidayatullah Angkat Pesan Keseimbangan Dakwah dan Kesehatan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) -- Anggota Majelis Penasehat Hidayatullah Pusat drg. Fathul Adhim, M.K.M., menyampaikan taushiyah dalam acara Halal Bihalal dan...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img