
BATU (Hidayatullah.or.id) — Bendahara Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Suwito Abdul Fattah, menyampaikan bahwa pada usia organisasi yang telah melampaui setengah abad, Hidayatullah sebagai salah satu pilar pembangunan bangsa dituntut untuk semakin relevan dengan dinamika nasional.
Ia mengatakan bahwa organisasi perlu hadir sebagai mitra strategis negara dengan tetap berpijak pada nilai-nilai agama, Pancasila, dan Undang-Undang Dasar 1945. Penegasan tersebut disampaikan Suwito dalam forum Rapat Kerja Wilayah Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Timur yang digelar di Kampus Hidayatullah Batu pada Jumat hingga Sabtu, 12-13 Sya’ban 1447 (31 Januari–1 Februari 2026).
Suwito mendorong forum ini menjadi ruang konsolidasi dan penegasan arah gerak organisasi, dengan penekanan bahwa seluruh program kerja tidak berhenti pada tataran perencanaan, melainkan harus diwujudkan dalam bentuk layanan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Suwito, yang dikenal memiliki pengalaman panjang dalam penguatan tata kelola organisasi dan filantropi Islam, menyampaikan bahwa ukuran keberhasilan organisasi tidak dapat disederhanakan pada aspek tata kelola semata. Ia menekankan bahwa program kerja harus keluar dari ruang konseptual dan menjangkau kebutuhan riil masyarakat.
“Program kerja jangan berada di menara gading. Ia harus dirasakan langsung oleh masyarakat,” tegas Suwito, sembari mengingatkan bahwa kerja-kerja organisasi harus memberi dampak nyata, bukan sekadar memenuhi kewajiban laporan atau penyerapan anggaran.
Menurut Suwito, keberhasilan tidak diukur dari besarnya forum musyawarah atau kelengkapan dokumen perencanaan. Ia menekankan bahwa yang lebih penting adalah sejauh mana program Hidayatullah mampu menjawab kebutuhan umat secara berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, ia menegaskan Rakerwil menjadi forum strategis untuk menyatukan arah dan memperkuat orientasi pengabdian.
“Musyawarah ini bagian dari syariat. Kalau dijalankan dengan ukhuwah dan kesungguhan, insyaallah menghadirkan keberkahan. Rakerwil harus menjadi ruang menyatukan arah, bukan mempertahankan ego,” ujarnya.
Agenda Besar Nasional

Suwito juga menyinggung sejumlah agenda besar nasional, termasuk penguatan ketahanan pangan, pengembangan energi hijau, serta investasi sumber daya manusia sebagai fondasi menuju Indonesia Emas.
Ia menyampaikan bahwa potensi sumber daya yang dimiliki Hidayatullah perlu dikelola secara terukur agar memberikan dampak yang luas bagi masyarakat.
“Program kerja itu harus dirasakan bukan hanya ke dalam, tapi juga ke luar. Manajemen waktu dan energi harus jelas, supaya manfaatnya sampai ke umat,” katanya, seraya mendorong agar menghindari pola kerja formalistik yang berfokus pada penyelesaian administrasi semata.
Ia mengingatkan bahwa masih terdapat kecenderungan menganggap program selesai ketika laporan disampaikan dan anggaran terserap. Menurutnya, indikator keberhasilan justru terletak pada kepuasan masyarakat di luar struktur organisasi.
“Indikator keberhasilan itu bukan kepuasan pengurus. Yang kita ukur justru kepuasan di luar struktur, apakah masyarakat merasa terlayani, terbantu, dan dilindungi,” tegasnya.






