Beranda blog Halaman 56

[KHUTBAH JUM’AT] Menjadi Sahabat di Dunia dan Sahabat di Syurga

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن

أَمَّا بَعْدُ, فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً، فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Di dalam surat Ash-Shaffat ayat 50, Allah SWT menceritakan sebuah situasi yang terjadi pada penduduk syurga ketika mereka berbincang satu sama lain:

فَاَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ يَّتَسَاۤءَلُوْنَ

“Mereka berhadap-hadapan satu sama lain sambil bercakap-cakap”

Lalu salah seorang di antara penduduk syurga ini berkata:

قَالَ قَاۤىِٕلٌ مِّنْهُمْ اِنِّيْ كَانَ لِيْ قَرِيْنٌۙ

“Berkatalah salah seorang di antara mereka, “Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) pernah mempunyai seorang teman.”

Perhatikan ayat ini. Salah seorang penduduk syurga menceritakan bahwa ia pernah memiliki seorang teman, bahkan teman dekat, dengan penggunaan diksi قَرِيْنٌۙ yang juga berarti sahabat.

Kemudian Allah melanjutkan pada ayat 52:

يَّقُوْلُ اَءِنَّكَ لَمِنَ الْمُصَدِّقِيْنَ

“Yang berkata, “Apakah sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang membenarkan (hari kebangkitan)?”

Sayangnya, sahabat yang diceritakan oleh salah satu penghuni syurga ini selalu menanyakan hal-hal yang menggugat akidah. Ia bertanya, apakah temannya benar-benar meyakini adanya hari kebangkitan?

ءَاِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَّعِظَامًا ءَاِنَّا لَمَدِيْنُوْنَ ۝٥٣

“Apabila kami telah mati (lalu) menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kami benar-benar (akan dibangkitkan untuk) diberi balasan?”

Pertanyaan ini sesungguhnya bukan sekadar butuh jawaban, tetapi merupakan perang pemikiran (ghazwul fikr) untuk memengaruhi temannya ketika masih di dunia.

Ia selalu merongrong dengan pertanyaan-pertanyaan anti ketuhanan yang bertentangan dengan keyakinan orang beriman.

Dalam bahasa kita hari ini, sahabat dunia tersebut selalu mengajak untuk mengingkari Tuhan.

Saat hendak salat, ia ajak sibuk dengan urusan duniawi; ketika ingin mengikuti majelis taklim, ia bujuk agar memilih kesenangan lain. Setiap interaksi, ia berusaha menjauhkan dari mengingat Allah SWT.

Ikhwani kaum Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,

Penghuni syurga itu lalu bertanya kepada orang-orang di sekitarnya:

قَالَ هَلْ اَنْتُمْ مُّطَّلِعُوْنَ ۝٥٤

Dia berkata, “Maukah kamu menengok (temanku itu)?”

Mereka lalu beramai-ramai mencari di mana sahabat dunia si penghuni syurga itu.

فَاطَّلَعَ فَرَاٰهُ فِيْ سَوَاۤءِ الْجَحِيْمِ ۝٥٥

“Maka dia menengoknya. Lalu dia melihat (temannya) itu di tengah-tengah (neraka) Jahim”

Ternyata sahabatnya berada di dalam neraka Jahim, menerima siksa akibat keyakinan yang ia anut di dunia.

قَالَ تَاللّٰهِ اِنْ كِدْتَّ لَتُرْدِيْنِۙ ۝٥٦

Dia berkata, “Demi Allah, engkau hampir saja mencelakakanku.”

وَلَوْلَا نِعْمَةُ رَبِّيْ لَكُنْتُ مِنَ الْمُحْضَرِيْنَ ۝٥٧

“Sekiranya bukan karena nikmat Tuhanku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka)”

Penghuni syurga itu lalu bersyukur, karena atas nikmat petunjuk dari Allah, ia mampu bertahan dari rayuan sahabatnya di dunia. Seandainya ia menuruti, niscaya ikut terjerumus ke dalam api neraka.

Ikhwani kaum Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,

Situasi di atas mengingatkan kita agar berhati-hati dalam memilih sahabat. Sahabat sejati adalah yang mendekatkan kita kepada Allah SWT.

Sebaliknya, sahabat yang buruk adalah yang justru menghalangi kita dari jalan-Nya.

Indikator sederhana bisa kita lihat: ketika sedang berbincang, berolahraga, atau memancing bersama, lalu adzan berkumandang, apakah kita mudah bergegas menunaikan salat, atau justru merasa berat meninggalkan aktivitas duniawi itu?

Hasan al-Bashri rahimahullah menafsirkan keadaan sahabat penghuni neraka dengan mengutip ayat Al-Qur’an surat Asy-Syu’ara ayat 100–101:

فَمَا لَنَا مِنْ شٰفِعِيْنَۙ ۝١٠٠

“Maka kami tidak mempunyai pemberi syafaat (penolong)”

وَلَا صَدِيْقٍ حَمِيْمٍ ۝١٠١

“Dan tidak pula mempunyai teman akrab”

Mereka menyesal karena tidak memiliki sahabat yang mampu menyelamatkan dari siksa api neraka.

Inilah pentingnya memiliki sahabat yang bukan hanya bermanfaat di dunia, tetapi juga memberi syafaat di akhirat.

Sahabat yang mengulurkan tangan saat kita ditimpa musibah, memberi bantuan saat kesulitan ekonomi, atau mengingatkan kita agar segera bertaubat ketika tergelincir dalam maksiat.

Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu menyampaikan bahwa makna sahabat adalah: Fid-dunya yanfa‘, wa fil-akhirati yasyfa‘, “Di dunia memberi manfaat, dan di akhirat memberi syafaat”.

Ikhwani kaum Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,

Kata sahabat dalam Al-Qur’an menggambarkan keakraban yang sangat dekat. Sampai-sampai istilah ini digunakan untuk memperlakukan orang tua dengan baik:

وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًاۖ

“Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik”

Kata sahabat juga dipakai untuk istri atau pasangan:

وَصَاحِبَتِهٖ وَبَنِيْهِۗ ۝٣٦

“Serta (dari) istri dan anak-anaknya”

Rasulullah SAW memberi teladan persahabatan bersama Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu.

Saat turun perintah hijrah, Abu Bakar bertanya: Fas suhbah yaa Rasulallah? (Bagaimana dengan sahabatmu ini, ya Rasulullah?). Rasulullah menjawab: Was suhbah yaa Aba Bakr (Engkau akan menemaniku).

Mendengar hal itu, Abu Bakar menangis terharu. Ia bahagia bisa menemani perjalanan hijrah, meski penuh risiko dan ancaman nyawa.

Persahabatan itu kembali dipertegas ketika mereka bersembunyi di Gua Tsur, sementara pasukan Quraisy berada tepat di depan pintu gua.

اِذْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهٖ لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ

Ketika dia berkata kepada sahabatnya, “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”

Inilah persahabatan sejati: sahabat yang meyakinkan kita bahwa apa pun ujian kehidupan, sesungguhnya اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ (Allah bersama kita). Persahabatan yang bukan hanya indah di dunia, tetapi juga abadi hingga ke syurga.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

اَللّٰهُمَّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ. اَللّٰهُمَّ اكْشِفْ الغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْفَعَ الْبَلَاءَ عَنْ غَزَّةَ وَأَهْلِهَا، وَأَنْ تَنْصُرَهُمْ عَلَى عَدُوِّهِمْ، وَأَنْ تَرْحَمَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ، وَأَنْ تَكْشِفَ الْغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ عَافِنَا وَالْطُفْ بِنَا وَاحْفَظْنَا وَانْصُرْنَا وَفَرِِّجْ عَنَّا وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اكْفِنَا وَإِيَّاهُمْ جَمِيْعًا شَرَّ مَصَائِبِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

Majelis Reboan Murabbi Ungkap Seni Musyawarah, Kasih Sayang dan Komitmen Kunci Keberkahan

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Dalam konteks keindonesiaan yang plural, di mana keberagaman pandangan kerap menjadi tantangan sekaligus kekayaan, musyawarah menjadi seni yang harus dipelajari.

Tidak sedikit forum publik atau organisasi menghadapi debat sengit, namun Majelis Reboan Sekolah Murabbi Jabar, DKJ, dan Banten memberikan nuansa berbeda.

Pada acara daring bertema “Munas dalam Perspektif Murabbi” pada Rabu, 9 Rabi’ul Akhir 1447 (1/10/2025), Ketua Dewan Murabbi Pusat (DMP), Dr. Tasyrif Amin, M.Pd., menegaskan bahwa tidak akan menyesal dan tidak akan merugi orang yang mau bermusyawarah.

Tasyrif membuka dengan pengantar yang hangat, mengingatkan seluruh kader Hidayatullah untuk mendekati Munas VI Hidayatullah dengan sikap lemah lembut dan penuh kasih sayang. “Boleh diskusi, bisa mengkritisi, tapi basisnya rahmat,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa perbedaan pendapat adalah keniscayaan, namun harus ditangani dengan rahmat, bukan kekerasan atau sikap destruktif.

Lebih jauh, Tasyrif menyoroti nilai doa dan pemaafan dalam berinteraksi dengan orang yang memiliki pandangan berbeda. Baginya, ini adalah inti keindahan syura dalam Islam. “Musyawarah yang berlandaskan kasih sayang mampu menyelesaikan berbagai persoalan secara elegan,” tegasnya.

Setelah musyawarah mencapai keputusan bersama, berikutnya Ketua DMP menekankan dua prinsip yang harus dijalankan yaitu komitmen dan tawakal. Ia menegaskan pentingnya menutup celah bagi “suara sumbang” yang bisa menggerogoti keputusan kolektif.

Dia mengatakan, peran murabbi menjadi krusial di sini. Mereka tidak hanya bertugas menjaga tata tertib, tetapi memastikan sunnah-sunnah Nabi SAW ditegakkan, sehingga setiap langkah dakwah dan tarbiyah tetap berada pada jalur nilai mulia.

Uraian Tasyrif mengacu pada Surah Ali Imran ayat 159, yang menekankan pentingnya kelembutan, pemaafan, dan musyawarah. Ayat ini, terang dia, menuntun kita bahwa keras dan kasar hanya menjauhkan orang, sedangkan sikap penuh rahmat memudahkan petunjuk dan keberkahan dari Allah.

“Murabbi adalah penjaga nilai, pembimbing, dan teladan yang memastikan setiap acara dakwah, termasuk Munas, menjadi wadah untuk merajut persatuan, bukan justru memecah belah,” tegasnya.

Dalam tataran akademik sekaligus praktis, Dr. Tasyrif menegaskan bahwa rahmat dan kasih sayang bukan sekadar nilai teoretis, melainkan alat strategis untuk memperkuat persatuan dan menumbuhkan keberkahan dalam setiap aktivitas organisasi.

Kader Hidayatullah pun diingatkan dia bahwa keberhasilan Munas bukan hanya soal hasil keputusan, tetapi kualitas interaksi yang mengedepankan toleransi, dialog, dan komitmen bersama.

Musyawarah, tambahnya, bukanlah medan adu kuat, melainkan laboratorium rahmat, di mana setiap perbedaan menjadi kesempatan untuk belajar, memperkuat persaudaraan, dan meneguhkan komitmen membangun yang lebih harmonis.

Soft Opening Klinik Hidayatullah Medika Hadirkan Layanan Islami dan Modern

0

BEKASI (Hidayatullah.or.id) — Kesehatan merupakan pilar penting dalam membangun bangsa. Di tengah berbagai tantangan zaman, kebutuhan akan layanan medis yang terjangkau, berkualitas, sekaligus berakar pada nilai keislaman menjadi semakin mendesak. Jawaban atas kebutuhan itu hadir dari sebuah inisiatif baru yaitu Klinik Hidayatullah Medika.

Dalam acara soft opening yang berlangsung Ahad, 6 Rabi’ul Akhir 1447 (28/9/2025) di Jalan Raya Serang-Setu, Sukadami, Cikarang Selatan, masyarakat setempat menyambut hangat kehadiran fasilitas kesehatan ini.

Peresmian disertai kegiatan bakti sosial berupa pemeriksaan dan pengobatan gratis bagi warga RW 04, 19, dan 21, yang berhasil melayani ratusan orang.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq, Lc., M.A., menegaskan arah pengelolaan klinik yang mengedepankan dua prinsip utama.

Dia menekankan klinik ini akan dikelola secara profetik dan profesional. Profetik, jelasnya, nilai-nilai Islam akan menjadi landasan utama, menjadikan pelayanan sebagai media dakwah di bidang kesehatan.

“Profesional, artinya, kami akan memberikan layanan dengan standar mutu terbaik,” ujarnya saat memberikan sambutan puncak.

Rangkaian acara dimulai sejak pagi dengan doa dan taujih yang dipimpin Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Ummat DPP Hidayatullah Nursyamsa Hadis.

Ia mengingatkan bahwa hadirnya klinik ini harus menjadi ruang kolaborasi untuk menyehatkan umat. “Bangsa Indonesia bisa menjadi hebat dengan adanya pelayanan kesehatan dasar yang baik,” ucapnya.

Sejumlah tokoh masyarakat, aparat desa, pengurus Hidayatullah, hingga dewan komisaris klinik turut hadir. Di antara mereka, drg. Fathul Adhim, M.K.M., yang bersama Dr. Nashirul Haq memimpin prosesi gunting pita peresmian. Suasana hangat dan penuh harapan terasa dalam setiap sambutan.

Dede H. Fadhel dari Laznas BMH Pusat, sebagai mitra strategis, menekankan perlunya layanan kesehatan yang berpihak kepada masyarakat kurang mampu.

“Harapannya, klinik ini mampu memberikan kebermanfaatan luas, terutama bagi masyarakat yang berada dalam kondisi ekonomi kurang mampu,” katanya.

Visi besar di balik pendirian klinik ini diuraikan oleh Direktur Klinik Hidayatullah Medika, drg. Imam Rulyawan, MARS. Menurutnya, langkah di Sukadami hanyalah awal dari rencana besar membangun jaringan rumah sakit Hidayatullah di berbagai daerah di Indonesia.

Apresiasi juga datang dari pemerintah desa. Syarif, Kasi Pemerintahan Desa Sukadami, yang mewakili Kepala Desa H. Kunang, menyatakan dukungan penuh agar klinik ini dapat bersinergi erat dengan pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat.

Setelah peresmian, tamu undangan diajak meninjau fasilitas. Direktur SDM dan Pelayanan Kesehatan Klinik, drg. Hud, menjelaskan bahwa klinik akan menyediakan layanan dokter umum, dokter gigi, khitan, optik, laboratorium, dan apotek.

Antusiasme warga sangat terasa. Sebanyak 100 orang mengikuti pemeriksaan dokter umum, 20 pasien mendapat layanan gigi, 15 pasien memanfaatkan poli optik, dan satu pasien menjalani khitan. Warga mengaku gembira sekaligus berharap klinik ini dapat menjadi andalan kesehatan mereka di masa depan.

Klinik Hidayatullah Medika berada di bawah PT Hidayatullah Global Medika, unit usaha Bidang Ekonomi DPP Hidayatullah. Dengan komitmen menghadirkan layanan profesional dan berlandaskan nilai Islam, klinik ini diharapkan mampu memberi kontribusi nyata dalam menyehatkan umat sekaligus memperkuat ketahanan bangsa.[]

Sabar dan Saling Memahami, Kunci Rumah Tangga Menurut Abul A’la Maududi

0
Sekretaris Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan, Ustadz Abul A’la Maududi (Foto: Abdus Syakur/ Ummulqura Hidayatullah)

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Dalam kehidupan rumah tangga, istilah “suami takut istri” sudah lama menjadi bahan canda sekaligus stigma sosial. Banyak pria yang merasa harga dirinya akan runtuh bila dianggap menuruti keinginan pasangan.

Namun, dalam pembekalan pra nikah di Teritip, Gunung Tembak, Balikpapan, pandangan itu mendapat tanggapan berbeda dari Sekretaris Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan, Ustadz Abul A’la Maududi.

Maududi mengingatkan bahwa kesuksesan rumah tangga tidak hanya ditentukan oleh besarnya penghasilan atau seberapa kuat seorang suami menunjukkan otoritas.

Lebih dari itu, cinta, kesabaran, dan keberanian untuk menanggalkan ego justru menjadi fondasi yang membuat biduk rumah tangga mampu berlayar jauh.

Maududi menegaskan bahwa seorang suami seharusnya tidak perlu takut dicap sebagai “suami takut istri”.

“Jangan takut menjadi suami yang dicap takut istri,” ujarnya saat memberikan materi di ruang rapat utama Gedung WKP YPPH, Selasa pagi, 8 Rabi’ul Akhir 1447 (29/9/2025).

Menurut Ustadz Maududi, cap tersebut seringkali muncul hanya karena seorang suami membantu pekerjaan rumah tangga, seperti mencuci pakaian, menjaga anak, atau sekadar memenuhi keinginan istrinya.

Padahal, terangnya, tindakan itu tidak meruntuhkan martabat seorang suami. “Itu hal yang biasa, tidak masalah bagi seorang suami. Yang penting tidak melanggar syariat dan tidak mendzalimi orang lain,” jelasnya.

Stigma yang berkembang di masyarakat, lanjutnya, kerap menghalangi seorang pria untuk bersikap hangat dan penuh perhatian terhadap keluarganya. Padahal, jika semua permintaan istri masih dalam koridor kebaikan, seharusnya tidak ada alasan untuk merasa direndahkan.

Dengan gaya lugas, Ustadz Maududi mengingatkan para calon pengantin bahwa rumah tangga membutuhkan lebih banyak kerendahan hati dibandingkan ego.

Selain menyinggung soal stigma, ia juga memberikan nasihat mengenai cara menyelesaikan konflik rumah tangga. “Menyelesaikan konflik dengan istri itu ada momentumnya, gak sembarangan,” ujarnya, disambut tawa ringan para peserta.

Ia menambahkan, kesabaran menjadi kunci utama. “Sabar itu maksudnya bisa mengendalikan diri. Istri maunya diperhatikan,” katanya lagi, dilansir laman ummulqurahidayatullah.id.

Pesan ini disampaikan kepada puluhan calon pengantin yang mengikuti pembekalan pra nikah sebagai bagian dari program Pernikahan Mubarak 1447 H. Para peserta tampak serius menyimak penjelasan yang tidak hanya bernuansa akademik, tetapi juga disampaikan dengan jenaka sehingga terasa membumi.

Lebih jauh, Ustadz Maududi menekankan bahwa rumah tangga adalah perjalanan panjang yang penuh dinamika. Kesabaran dan kemampuan saling memahami antara suami-istri tidak bisa dibangun dalam sehari. “Ada yang butuh tujuh tahun, ada yang sepuluh tahun, dan bisa terus berlanjut sepanjang usia pernikahan,” tuturnya.

LPH Hidayatullah Syiar Halal Hingga Kancah Internasional

0

MATARAM (Hidayatullah.or.id) — Indonesia, dengan keragaman budaya dan kekayaan alamnya, tak hanya dikenal sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, tetapi juga sebagai pusat pertumbuhan industri halal.

Upaya membangun ekosistem halal kini semakin nyata di berbagai daerah. Di Nusa Tenggara Barat (NTB), semangat itu hadir melalui gelaran Hidayatullah Halal Festival yang diinisiasi oleh Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Hidayatullah bekerjasama dengan Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH).

Ketua LPH Hidayatullah Pusat, Muhammad Faisal Tamrin, menegaskan bahwa lembaganya bukan sekadar institusi teknis, tetapi juga bagian dari gerakan dakwah.

Dia menyebutkan, LPH hadir sebagai wadah dakwah untuk mensyiarkan halal di tingkat nasional dan internasional. Kini geliat halal tidak hanya menjadi tren global, tetapi juga telah menyatu dengan denyut keindonesiaan yang mengedepankan nilai keberkahan, kebersamaan, dan kemajuan bersama.

“Saat ini, LPH Hidayatullah telah menerbitkan 1.500 sertifikat halal dan menempati peringkat ke-4 di Indonesia,” ujarnya dalam sambutan seraya menekankan LPH Hidayatullah sebagai aktor penting dalam penguatan ekosistem halal nasional.

Ia menekankan keberadaan lembaga pemeriksa halal bukan hanya memberi jaminan mutu bagi konsumen, tetapi juga menghadirkan nilai dakwah yang luas. Halal tidak lagi dipandang sebatas label, melainkan sebagai upaya menebar keberkahan dalam kehidupan sosial dan ekonomi.

Festival yang berlangsung pada Ahad (28/09/25) di depan Hotel Grand Madani Mataram ini dibuka dengan kegiatan jalan sehat. Ratusan santri, kader, dan warga Hidayatullah turut serta, menjadikan suasana kian semarak.

Tidak berhenti di situ, masyarakat juga bisa menikmati beragam layanan seperti konsultasi halal, cek kesehatan gratis, donor darah, serta pameran UMKM yang menampilkan produk lokal khas NTB.

Salah satu momen penting dari festival ini adalah penyerahan sertifikat halal oleh LPH Hidayatullah kepada 12 pelaku usaha dari Kota Mataram dan Lombok Barat.

Penyerahan ini menjadi bukti konkret bagaimana syiar halal dipraktikkan dalam kehidupan nyata, memberikan kepastian bagi konsumen sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal.

Di sela kegiatan, DPW Hidayatullah NTB juga meluncurkan Sasambo Halal Center (SHC). Kehadiran pusat layanan ini diharapkan dapat memudahkan pelaku usaha dalam mengurus sertifikasi halal, sehingga UMKM di NTB lebih siap menembus pasar nasional bahkan internasional.

Sementara itu, komitmen BMH sebagai lembaga filantropi juga tampak nyata dalam festival ini. Kepala BMH NTB, Nurkholis, menekankan pentingnya peran sinergis antara dakwah, pendidikan, dan penguatan ekosistem halal.

“Partisipasi BMH dalam festival ini menjadi bukti nyata kontribusi aktifnya dalam membangun ekosistem halal dan memajukan generasi, sejalan dengan visi Hidayatullah dan juga misi BMH,” jelasnya.

Dengan tema “Menguatkan Ekosistem Halal, Menebar Keberkahan Untuk NTB Mendunia,” acara ini sekaligus menjadi rangkaian menuju Musyawarah Nasional VI Hidayatullah pada Oktober 2025.

Mempelajari Sirah Nabawiyah sebagai Jalan Menemukan Solusi untuk Kehidupan Bangsa

0

NUNUKAN (Hidayatullah.or.id) — Di tengah dinamika bangsa yang terus menghadapi berbagai tantangan sosial, budaya, dan moral, upaya memperkuat identitas keagamaan menjadi semakin relevan. Masyarakat Indonesia yang majemuk membutuhkan fondasi nilai yang kokoh agar mampu menavigasi perubahan zaman tanpa kehilangan arah. Dalam konteks itu, pendidikan sejarah Nabi Muhammad SAW atau sirah nabawiyah menjadi penting untuk menghadirkan solusi yang berakar pada nilai luhur.

Demikian benang merah dari materi yang disampaikan Ustadz Aray Ramli pada kegiatan keilmuan bertajuk “Daurah Sirah” yang digelar Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah Kaltara di Masjid Al Furqan Hidayatullah, Nunukan, Kalimantan Utara, pada Sabtu, 5 Rabi’ul Akhir 1447 (27/9/2025).

Acara tersebut diikuti oleh puluhan peserta dengan antusiasme tinggi. Mereka mendapatkan bimbingan langsung dari Ustaz Aray Ramli, yang membimbing jalannya pembelajaran mengenai perjalanan hidup Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

Menurut Aray, mempelajari sirah Rasulullah bukan sekadar telaah sejarah, melainkan ikhtiar menemukan pedoman hidup yang relevan untuk setiap zaman. Dalam konteks kehidupan berbangsa, sirah menjadi sumber inspirasi yang mampu menawarkan solusi atas berbagai persoalan, baik moral, sosial, maupun politik.

“Rasulullah menghadapi situasi masyarakat yang kompleks, penuh pertentangan kepentingan, namun beliau berhasil meletakkan dasar-dasar peradaban yang adil dan berkeadaban,” kata Aray dalam keterangannya.

Sirah memperlihatkan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal kekuasaan, melainkan tentang menegakkan nilai kebenaran dan menjaga keutuhan masyarakat. Prinsip keadilan, musyawarah, dan kepedulian sosial yang dipraktikkan Rasulullah menjadi rujukan penting dalam merawat harmoni kehidupan berbangsa.

“Dengan memahami bagaimana beliau mengelola perbedaan, menegakkan hukum dengan bijak, serta membangun solidaritas lintas kelompok, umat dapat belajar bagaimana menghadapi tantangan modern tanpa kehilangan arah moral,” terangnya.

Lebih jauh, lanjut Aray, sirah Rasulullah juga mengajarkan strategi dalam membangun masyarakat yang mandiri dan berdaya. Sikap beliau dalam memberdayakan kaum lemah, mengatur tata ekonomi yang berkeadilan, serta mengokohkan prinsip persaudaraan umat (ukhuwah) merupakan teladan yang relevan bagi bangsa Indonesia dalam menata sistem sosial dan ekonomi.

“Dari sirah, umat memperoleh peta jalan untuk menyelesaikan persoalan bangsa mulai dari krisis moral, lemahnya solidaritas sosial, hingga tantangan globalisasi. Sirah Rasulullah menegaskan bahwa solusi atas problem bangsa harus berakar pada nilai-nilai luhur, bukan sekadar kepentingan pragmatis,” tegasnya.

Maka, Aray menambahkan, semakin dalam sirah Rasulullah dikaji, semakin kuat pula fondasi umat dalam membangun bangsa yang adil, bermartabat, dan berdaya saing. “Sirah menjadi cahaya yang menuntun, bukan hanya untuk individu, tetapi juga bagi masa depan kolektif bangsa,” tandasnya.

Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Acara ini turut didukung oleh Laznas BMH sebagai wujud komitmen untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mendorong masyarakat agar hidup dengan nilai-nilai kebaikan yang mulia.

Kadiv Prodaya BMH Kaltara, M. Nor Komara, menegaskan bahwa pemahaman sirah merupakan jalan bagi umat Islam untuk menemukan jawaban atas persoalan yang dihadapi.

BMH menekankan pentingnya pembinaan spiritual dan intelektual dalam mendampingi masyarakat. Komara menuturkan bahwa dukungan terhadap kegiatan sirah nabawiyah merupakan bagian dari visi besar untuk menyiapkan generasi muda dengan fondasi moral yang kuat. “Dengan fondasi moral yang kuat, diharapkan generasi penerus dapat menjadi pemimpin yang adil dan berintegritas,” terangnya.

Salah satu peserta, Maryam, menyampaikan bahwa kegiatan ini memberinya motivasi baru. “Alhamdulillah, dengan adanya daurah ini kami lebih mengenal kehidupan Rasulullah dan para sahabatnya,” katanya.

Peserta lain, Fatimah, menambahkan bahwa pemahaman tentang sirah menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW dan mendorong semangat untuk meneladani akhlak mulia. “Hal ini memotivasi kami untuk menumbuhkan kecintaan yang mendalam seperti yang ditunjukkan para sahabat,” ungkapnya.

Pondok Pesantren Hidayatullah Jadi Tuan Rumah Mudzakarah Ulama Se-Aceh Tenggara

0

ACEH TENGGARA (Hidayatullah.or.id) — Dalam tradisi keindonesiaan, ulama dan pesantren senantiasa menjadi benteng moral masyarakat sekaligus ruang perjumpaan intelektual keislaman. Hal ini tercermin dalam pelaksanaan Mudzakarah Ulama Dayah se-Aceh Tenggara yang digelar di Pondok Pesantren Hidayatullah Aceh Tenggara.

Acara ini dibuka langsung oleh Ketua Perhimpunan Pengajian Dzikir Tasawuf, Tauhid, dan Fikih (Tastafi) Aceh Tenggara, Abuya Tengku Haji Marhaban Husni pada Sabtu, 5 Rabi’ul Akhir 1447 (27/9/2025)

Kegiatan ini digelar sebagai bentuk perhatian ulama dan pimpinan dayah Aceh Tenggara terhadap dinamika umat Islam dewasa ini yang menghadapi problem baik internal maupun eksternal.

Forum mudzakarah juga menyinggung tantangan yang dihadapi masyarakat, mulai dari lemahnya iman, hilangnya rasa percaya diri umat Islam, gaya hidup hedonis, hingga dekadensi moral generasi muda.

Mudzakaroh tersebut diinisiasi oleh Himpunan Ulama Dayah Aceh Tenggara (HUDA) dengan tujuan mempererat silaturahmi sekaligus menyelenggarakan bahtsul masa’il dan diskusi fikih kontemporer. Dengan pendekatan ini, para ulama berharap mampu memberikan pemahaman hukum Islam yang praktis dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.

Selama sehari penuh, 52 ulama pimpinan dayah dari seluruh kecamatan di Aceh Tenggara berkumpul bersama tokoh masyarakat. Forum ini tidak hanya menjadi ajang temu silaturahmi, tetapi juga arena perumusan strategi keilmuan dalam menghadapi persoalan keumatan.

“Umat Islam seharusnya menjadi khoiru ummah, umat terbaik sekaligus pelopor. Maka, diperlukan kajian berkelanjutan agar wawasan masyarakat tentang syariat semakin kokoh,” tegas Abuya Marhaban.

Para ulama dalam forum itu menegaskan pentingnya kajian keislaman berkesinambungan yang meliputi berbagai aspek. Langkah ini dinilai strategis untuk memperkuat kesadaran masyarakat terhadap halal-haram serta hukum Islam yang kerap diabaikan dalam dinamika kehidupan modern.

Salah satu keputusan penting dari forum mudzakaroh ini adalah kesepakatan untuk menyelenggarakan kegiatan serupa secara rutin dengan sistem bergilir di seluruh dayah Aceh Tenggara. Model rotasi ini diharapkan memperluas jangkauan dakwah, sekaligus memperkuat jaringan keilmuan antar-pesantren.

Program berkelanjutan ini dirancang sebagai bentuk kontribusi ulama dayah dalam menyelamatkan generasi muda dari krisis moral. Kehadiran ulama di ruang publik dipandang sangat relevan dalam menjawab tantangan zaman yang ditandai oleh arus informasi tanpa batas dan perubahan gaya hidup yang sering mengikis nilai religius.

Forum ini juga meneguhkan peran dayah atau pesantren sebagai benteng budaya, moral, dan spiritual yang terus berusaha menjaga keseimbangan kehidupan berbangsa dan beragama di Indonesia.

Kritik Konstruktif Energi Membangun Ukhuwah dan Inovasi

0

MENJELANG berbagai momentum besar organisasi keagamaan maupun forum-forum publik lainnya, kita kerap menyaksikan silang pandangan yang diwujudkan dalam bentuk kritik.

Fenomena ini tentu saja lazim terjadi, baik di forum formal maupun informal, termasuk melalui media. Kritik, dalam perspektif sosiologis, merupakan bagian tak terpisahkan dari dinamika kehidupan sosial.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kritik diartikan sebagai kecaman atau tanggapan yang disertai uraian dan pertimbangan mengenai baik atau buruknya suatu gagasan, karya, atau tindakan.

Dalam makna yang lebih luas, kritik adalah bentuk evaluasi terhadap sesuatu demi menemukan kebenaran dan perbaikan.

Peran kritik dalam organisasi sangat strategis. Ia bukan sekadar menyuarakan ketidaksetujuan, melainkan menjadi pendorong pertumbuhan, inovasi, serta refleksi kolektif. Kritik yang sehat menumbuhkan budaya transparansi, meningkatkan kualitas kepemimpinan, dan membuka ruang bagi pembelajaran bersama.

Sejatinya, tidak ada individu maupun institusi yang kebal dari kritik. Setiap pemimpin maupun anggota organisasi hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan.

Oleh karena itu, kritik seharusnya dipandang bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang untuk memperbaiki diri. Pemimpin yang mau menerima kritik menunjukkan kerendahan hati dan menjadi teladan bagi orang-orang yang dipimpinnya.

Mewaspadai Budaya Apatis

Namun, risiko besar muncul ketika organisasi atau komunitas sunyi dari kritik. Permukaan boleh tampak tenang, tetapi di baliknya tersimpan bahaya laten.

Organisasi atau institusi apapun yang menutup diri dari kritik rentan mengalami stagnasi dan kehilangan inovasi. Budaya apatis dan ketakutan bisa tumbuh, sehingga kesalahan tidak terdeteksi.

Lebih jauh, kinerja dan reputasi bisa merosot, akuntabilitas melemah, bahkan pemimpin bisa terisolasi dalam “gelembung” informasi yang bias.

Dalam kondisi seperti ini, keputusan yang diambil seringkali tidak relevan dengan realitas di lapangan. Diam tanpa kritik, pada akhirnya, justru lebih berbahaya daripada gaduh oleh perdebatan.

Islam memberikan landasan moral yang kuat dalam melaksanakan kritik. Kritik bukanlah bentuk permusuhan, melainkan bagian dari ibadah dan jalan menuju kebenaran.

Sejak awal, seorang muslim yang hendak menyampaikan kritik perlu menanamkan niat yang tulus bahwa tindakannya dilakukan demi Allah, bukan untuk merendahkan pihak lain.

Al-Qur’an memberikan panduan yang jelas. Dalam Surat an-Nahl (16:125) Allah berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” Ayat ini menekankan bahwa menyampaikan kritik harus dilakukan dengan penuh kebijaksanaan.

Dalam Surat al-Ahzab (33:70), Allah menegaskan, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.”

Prof Buya Hamka, dalam Tafsir Al-Azhar, menafsirkan ayat ini sebagai peringatan agar orang beriman berbicara dengan kata-kata yang jujur, tegas, dan berakar dari hati yang tulus.

Demikian pula dalam Surat al-Baqarah (2:83), Allah memerintahkan, “Dan ucapkanlah kepada manusia kata-kata yang baik.”

Menurut Hamka, berbicara baik bukan sekadar bermulut manis, tetapi juga menegur kesalahan, menasihati kebaikan, dan mencegah kemungkaran.

Sementara itu, Surat al-Isra’ (17:36) mengingatkan agar manusia tidak mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan, sebab pendengaran, penglihatan, dan hati kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Teladan dari Sunnah

Hadis-hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga memberikan pedoman bagaimana seorang muslim menjaga lisan ketika memberi kritik.

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa kualitas iman seseorang tercermin dari kejujuran dan kelembutan lisannya.

Hadis lain menambahkan, “Tidaklah iman seseorang itu menjadi lurus hingga lurus hatinya. Tidaklah lurus hatinya hingga lurus lisannya.” (HR Ahmad).

Pesan ini menekankan keterhubungan antara hati yang bersih, lisan yang jujur, dan iman yang kokoh. Bahkan Rasulullah juga menegaskan, “Seorang muslim adalah orang yang membuat kaum muslim merasa aman dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR Bukhari).

Dengan panduan Al-Qur’an dan sunnah ini, menjadi jelas bahwa kritik dalam Islam bukanlah ruang untuk menebar kebencian.

Sebaliknya, kritik adalah medium untuk menunaikan tanggung jawab moral sebagai hamba Allah: mengajak kepada kebaikan, menegur kesalahan, dan menjaga persaudaraan.

Jalan Membangun Peradaban

Dalam perspektif Islam, kritik harus diarahkan pada perbaikan, bukan penghancuran. Fokus kritik sebaiknya pada perilaku, kebijakan, atau proses, bukan menyerang pribadi.

Dengan cara tersebut, kritik dapat berfungsi sebagai energi kolektif untuk memperkuat ukhuwah, meningkatkan kualitas organisasi, dan mempercepat pembangunan peradaban.

Organisasi atau masyarakat idealnya memiliki mekanisme yang jelas untuk menampung, menimbang, dan menindaklanjuti kritik. Kritik yang dikelola dengan adil akan menjelma menjadi modal sosial yang memperkokoh kebersamaan.

Kritik yang diniatkan sebagai ibadah, disampaikan dengan kata-kata yang benar dan penuh kelembutan, sejatinya adalah bentuk pengabdian. Ia bukan hanya sarana memperbaiki struktur sosial, tetapi juga cara untuk menghidupkan nilai-nilai iman dalam kehidupan berjamaah.

Kritik dalam Islam memiliki arti strategis yang mendalam. Ia bukan sekadar ekspresi ketidaksetujuan, melainkan jalan menuju amar ma’ruf nahi munkar. Tanpa kritik, organisasi berisiko lumpuh. Dengan kritik, ia dapat tumbuh sehat.

Dengan demikian, marilah kita menata cara kita menyampaikan kritik. Niatkan sebagai ibadah, landasi dengan ilmu, dan ucapkan dengan kelembutan.

Karena, kritik yang benar bukan hanya menyelamatkan organisasi, tetapi juga meneguhkan jalan kita dalam membangun peradaban Islam yang berkeadilan dan berkemajuan.[]

*) Nursyamsa Hadis, penulis adalah anggota Murabbi Nasional Hidayatullah

Dukung Pendidikan Santri Jawab Tantangan Masa Depan Bangsa dengan Kebaikan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Di tengah dinamika kebangsaan yang menuntut lahirnya generasi unggul berilmu dan berakhlak, pesantren tetap menjadi salah satu pilar utama pendidikan di Indonesia. Dukungan masyarakat terhadap pesantren bukan sekadar bentuk kepedulian sosial, tetapi juga investasi strategis bagi masa depan bangsa.

Hal inilah yang tercermin dalam penyaluran bantuan dari Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) untuk Pesantren Hidayatullah Yayasan Marhamah, Jakarta Timur.

Ketua Pengasuh Pesantren Marhamah, Imam Ma’arif, S.Pd.I menyampaikan rasa syukurnya atas bantuan yang diberikan. Ia menekankan bahwa dukungan tersebut bukan hanya meringankan beban pesantren, tetapi juga menumbuhkan semangat keberlanjutan kebaikan.

“Semoga kebaikan yang disalurkan ini terus berlimpah keberkahannya bagi keluarga besar BMH dan para donatur,” ujarnya, seperti dalam keterangan diterima media ini.

Imam Ma’arif sendiri telah lebih dari dua dekade mendedikasikan hidupnya bagi pendidikan santri di pesantren ini.

Bantuan yang disalurkan BMH terangnya menegaskan betapa pentingnya kolaborasi antara masyarakat, lembaga zakat, dan pesantren dalam menyiapkan masa depan bangsa. Dengan mencetak santri yang berilmu, berakhlak, dan peduli, pesantren menjadi ruang strategis untuk menanamkan nilai keindonesiaan yang kokoh.

Dukungan terhadap pesantren bukanlah upaya sesaat. Kebaikan yang terus mengalir, sebagaimana disampaikan Imam Ma’arif, akan berbuah keberkahan berkelanjutan, melahirkan generasi yang mampu menjawab tantangan zaman sekaligus menjaga identitas kebangsaan.

Pada Jum’at, 4 Rabi’ul Akhir 1447 (26/9/2025), BMH menyalurkan bantuan berupa 2 kuintal beras bagi 83 santri yang tinggal dan menuntut ilmu di Pesantren Marhamah Jakarta Timur. Bantuan ini diterima dengan penuh suka cita, sekaligus menjadi bukti nyata kepedulian umat terhadap pendidikan generasi mendatang.

Pesantren Marhamah memiliki tiga lokasi pendidikan di Jakarta, yaitu Marhamah Pusat di Jakarta Timur dengan 83 santri, cabang Jakarta Barat dengan 19 santri, serta cabang Jakarta Selatan dengan 22 santri.

Lembaga ini konsisten membina generasi yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga beradab, peduli, dan memiliki tanggung jawab sosial. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan misi BMH dalam mencetak sumber daya manusia unggul dan berkarakter.

Sebelum penyerahan bantuan, Kepala Humas BMH Pusat, Imam Nawawi, memberikan motivasi kepada para santri. Ia mengingatkan bahwa pendidikan bukan sekadar proses mengisi pengetahuan, melainkan juga mengasah cita-cita dan tindakan nyata.

“Program ini adalah bagian dari solusi konkret untuk menciptakan SDM unggul yang akan membawa kemajuan bagi Indonesia. Kalian para santri hari ini adalah pemberi warna dan pengaruh terhadap perjalanan bangsa ke depan,” tegasnya.

Respon positif pun datang dari kalangan santri. Salah seorang santri, Rafan Ersa, mengungkapkan rasa bahagia dan semangat barunya setelah mendengar motivasi dari Imam Nawawi.

“Senang, ya. BMH terus mendukung pendidikan kami. Apalagi sekarang ada Mas Imam yang juga menguatkan kami tentang bagaimana santri harus mengisi kehidupan sehari-hari dengan kekuatan pikiran, cita-cita, dan tindakan. Itu benar-benar membuat saya ingin lebih giat ibadah dan menuntut ilmu,” ucap Rafan.

Hidayatullah Surabaya Jadi Ruang Perjumpaan Ulama Perkuat Kebangsaan

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Dalam sejarah panjang bangsa Indonesia, pesantren telah menjadi salah satu pilar penting peradaban. Bukan sekadar lembaga pendidikan, pesantren juga berperan melahirkan pejuang kemerdekaan sekaligus membentuk pemimpin moral bangsa.

Hal tersebut ditegaskan Wakil Ketua DPD RI, Drs. H. Tamsil Linrung yang menjadi narasumner dalam forum Silaturahmi Kebangsaan yang digelar di Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Rabu, 2 Rabi’ul Akhir 1447 (24/9/2025).

“Sejak dahulu pesantren telah menjelma sebagai rumah peradaban. Dari rahim pesantren, lahir para pejuang kemerdekaan, para pemimpin penjaga moral bangsa ditempa. Maka ketika hari ini kita duduk bersama di Pesantren Hidayatullah, sesungguhnya kita sedang menyambung mata rantai perjuangan, menjaga api sejarah, dan menjaga peran pesantren sebagai mercusuar bangsa,” ujar Tamsil.

Kegiatan ini merupakan penyelenggaraan kedua Silaturahmi Kebangsaan di Hidayatullah Surabaya. Mengangkat tema “Peran Ulama dalam Menyelamatkan Bangsa dan Negara”, acara tersebut dihadiri bersama lebih dari 200 ulama, kyai, habaib, dan tokoh masyarakat.

Dua narasumber utama, yaitu Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo dan Tamsil Linrung, memimpin diskusi tentang kondisi kebangsaan, keumatan, dan kenegaraan pada tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Ketua Badan Pengurus Hidayatullah Surabaya, H. Samsudin, SE, MM, dalam sambutannya menekankan pentingnya konsistensi perjuangan ulama demi kepentingan rakyat.

“Kita tidak boleh lelah untuk berjuang, sebab suara ulama adalah napas umat. Kita harus memastikan bahwa setiap kebijakan berpihak pada kesejahteraan masyarakat, bukan hanya kepentingan segelintir orang,” ungkapnya.

Dalam keterangannya, Tamsil menegaskan bahwa ulama dan negara memiliki relasi konstruktif. “Ulama bukan sekadar pengiring kebijakan. Ulama penjaga arah agar negara tetap berpijak pada maslahat umat,” katanya. Ia juga menilai kepemimpinan Presiden Prabowo menunjukkan ekspresi kepemimpinan kuat yang diwujudkan dalam substansi kebijakan.

Salah satu kebijakan yang ia soroti adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut Tamsil, program ini menjadi representasi nyata komitmen negara memberantas korupsi dan mengutamakan rakyat. “Efisiensi yang tadinya dinikmati oleh elit, justru diarahkan langsung kepada rakyat melalui Program Makan Bergizi Gratis,” jelasnya.

Tamsil mengaitkan program tersebut dengan ajaran Islam. “Rasulullah mengajarkan kita, bahwa memberi makan memiliki kedudukan setara dengan shalat malam dan silaturahim. Saya menemukan beberapa refleksi dari tafsir kontemporer perintah memberi makan. Tafsir yang menyatu dengan fenomena kauniyah,” ujarnya.

Ia menambahkan, MBG memiliki dimensi spiritual sekaligus sosial-ekonomi. “Berdimensi spiritual karena ia melanjutkan risalah Nabi tentang memberi makan sebagai jalan ibadah. Berdimensi sosial-ekonomi karena ia menggerakkan rantai pasok lokal: petani, nelayan, peternak, hingga pelaku usaha kecil,” tegasnya.

Sementara itu, Gatot Nurmantyo mengingatkan pentingnya persatuan ulama untuk memperkuat bangsa. “Ulama jangan hanya sibuk dengan organisasinya sendiri. Saatnya bersatu dan menyuarakan aspirasi rakyat secara bersama-sama,” katanya.

Acara ditutup dengan penegasan komitmen Hidayatullah Surabaya untuk terus menjadi ruang perjumpaan ulama dan umat, memperkuat nilai kebangsaan, memperjuangkan aspirasi rakyat, serta membangun generasi penerus berkarakter, berilmu, dan berakhlak mulia.