Beranda blog Halaman 55

Mushida Jakarta Kuatkan Peran Dakwah dalam Menjawab Tantangan Kehidupan Perkotaan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pentingnya sinergi antarstruktur dan organisasi pendukung agar gerakan dakwah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya warga Jakarta, menjadi garis besar pesan yang mengemuka dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) VI Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah (PW Mushida) Jakarta.

Kegiatan pembukaan acara tersebut digelar di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, pada Sabtu, 6 Sya’ban 1447 (241/ 2026), dan dihadiri oleh unsur pimpinan, kader, serta mitra strategis dari berbagai lembaga. Agenda utama musyawarah mencakup laporan pertanggungjawaban kepengurusan serta penyusunan program kerja berkelanjutan yang disesuaikan dengan dinamika masyarakat ibu kota.

Ketua PW Muslimat Hidayatullah Jakarta, Afifah Haqien, mengatakan Muswil VI PW Mushida Jakarta menjadi ruang strategis untuk mengevaluasi perjalanan organisasi sekaligus merumuskan arah gerak dakwah lima tahun mendatang.

Afifah Haqien menegaskan bahwa Muswil tidak dimaknai sebagai kegiatan rutin tahunan semata. Ia menyampaikan bahwa forum ini merupakan momentum refleksi kolektif untuk menilai capaian dakwah lima tahun sebelumnya dan menyiapkan langkah strategis ke depan.

“Muswil ini adalah momentum penting untuk merefleksikan kerja-kerja lima tahun ke belakang sekaligus memproteksi langkah lima tahun ke depan agar tetap relevan menjawab tantangan zaman,” ujar Afifah.

Dalam paparannya, Afifah menekankan bahwa energi regenerasi menjadi faktor kunci bagi keberlanjutan dakwah Muslimat Hidayatullah. Regenerasi dipahami bukan sekadar pergantian struktur kepengurusan, melainkan proses melahirkan gagasan, visi, dan langkah strategis yang berorientasi pada masa depan peradaban.

Menurutnya, kesiapan kader dalam merespons perubahan sosial di Jakarta sebagai kota metropolitan menjadi bagian penting dari proses tersebut. Regenerasi diarahkan untuk menjaga kesinambungan nilai perjuangan sekaligus memastikan organisasi tetap adaptif dalam konteks masyarakat urban Indonesia.

Afifah juga menempatkan penguatan keluarga sebagai poros utama gerakan dakwah Muslimat Hidayatullah. Ia menjelaskan bahwa keluarga memiliki posisi strategis dalam membangun ketahanan sosial dan moral masyarakat.

Oleh karena itu, rangkaian Muswil VI PW Mushida Jakarta disertai dengan penyelenggaraan Seminar Ketahanan Keluarga sebagai bentuk implementasi program dakwah.

“Ketahanan keluarga bukan sekadar slogan, tetapi panggilan mulia bagi muslimah dalam menjaga peradaban. Ketika keluarga kokoh, maka Jakarta pun akan kokoh,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa Muslimat Hidayatullah diharapkan berperan aktif dalam menyiapkan generasi Rabbani yang memiliki kesiapan moral dan spiritual untuk mengemban amanah kekhalifahan. Generasi tersebut diproyeksikan hadir sebagai penggerak perubahan sosial yang berpijak pada nilai-nilai Islam dan keindonesiaan, sejalan dengan karakter masyarakat Jakarta yang plural dan dinamis.

Kolaborasi Antarelemen Organisasi

Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jakarta, Suhardi, S.Th.I., M.Pd., dalam arahannya membuka acara ini menekankan urgensi kolaborasi antarelemen organisasi. Ia menyampaikan bahwa sinergi antarstruktur dan organisasi pendukung menjadi prasyarat agar dakwah dapat memberikan dampak yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Organisasi pendukung adalah perpanjangan tangan induknya. Ia memberi warna, energi, sekaligus menjadi penyumbang terbesar bagi keberlanjutan dan masa depan dakwah,” ujar Suhardi. Menurutnya, kerja kolektif yang terbangun secara sistematis akan memperkuat peran Hidayatullah dalam kehidupan sosial warga Jakarta.

Suhardi berharap, Musyawarah Wilayah VI PW Muslimat Hidayatullah menghasilkan keputusan dan rekomendasi strategis yang memperkuat peran muslimah sebagai penggerak dakwah, penjaga ketahanan keluarga, serta pilar penting dalam pembangunan peradaban di ibu kota, sejalan dengan nilai keislaman dan keindonesiaan yang menjadi fondasi gerakan.

Pembukaan Muswil VI PW Mushida Jakarta turut dihadiri sejumlah tokoh Hidayatullah. Hadir di antaranya Wasekjen III Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Muhammad Isnani, Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah Hani Akbar, Anggota Dewan Murobbi Wilayah Hidayatullah KH. Mahmud Efendi, serta Ketua Pemuda Hidayatullah Jakarta Adam Sukiman.

Selain itu, Muswil VI juga dihadiri perwakilan pemerintah dan mitra strategis. Di antaranya Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN RI Helmiliana Dwi Putri, S.Psi., Psi, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta Dr. H. Adib, M.Ag, Wakil Ketua III BAZNAS Bazis DKI Jakarta Hj. Sholihah, S.E., M.A., serta Dr. Ida S. Widayanti, M.Pd.I., CPEC dari Komite Pakar Parenting Muslimat Hidayatullah.

Menyambut Ramadhan dengan Dakwah Keluarga dan Kepedulian Sosial di Raja Ampat

0

RAJA AMPAT (Hidayatullah.or.id) — Mencetak anak yang sholeh dan dermawan melalui amalan sedekah di bulan suci Ramadhan menjadi pesan utama yang mengemuka dalam kegiatan Tabligh Akbar sekaligus Tarhib Ramadhan yang digelar di Masjid Agung Waisai, Raja Ampat, Papua Barat Daya, Jumat, 4 Syakban 1447 (23/1/2025).

Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai unsur masyarakat dan tokoh daerah, antara lain istri Wakil Bupati Raja Ampat, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) beserta jajaran, Komandan Distrik Militer (Dandim) Waisai, serta seluruh ketua dan anggota majelis taklim se-Kota Raja Ampat.

Kegiatan yang merupakan rangkaian Rapat Kerja Wiayah (Rakerwil) tersebut diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Papua Barat Daya serta mendapat dukungan Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) bekerja sama dengan Hidayatullah Raja Ampat.

Pelaksanaan Tabligh Akbar dan Tarhib Ramadhan ini menjadi bagian dari upaya dakwah dan pembinaan umat dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, khususnya di wilayah kepulauan yang memiliki karakter sosial dan geografis yang khas.

Ketua PosDai Pusat, Abdul Muin, S.Sos., yang hadir sebagai salah satu narasumber, menyampaikan bahwa kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat kebersamaan umat serta mendorong terciptanya kehidupan sosial yang harmonis. Ia menekankan pentingnya sinergi antara elemen masyarakat dalam membangun kehidupan beragama yang kokoh.

“Harapan dari kegiatan ini adalah terwujudnya persatuan dan kerukunan, saling mendukung dan membantu dalam upaya menghadirkan masyarakat Raja Ampat yang bahagia dan semakin dekat kepada Allah SWT,” ujar Abdul Muin dalam keterangannya.

Menurutnya, momentum menjelang Ramadhan perlu dimanfaatkan sebagai ruang konsolidasi spiritual dan sosial. Di wilayah Indonesia bagian timur seperti Raja Ampat, kegiatan keagamaan berskala besar dinilai memiliki peran strategis dalam memperkuat ikatan umat sekaligus menjaga nilai-nilai keislaman dalam bingkai keindonesiaan. Abdul Muin juga menegaskan bahwa PosDai bersama Hidayatullah berkomitmen untuk terus menghadirkan program dakwah yang menyentuh kebutuhan umat secara nyata.

Dalam Tabligh Akbar tersebut, panitia menghadirkan dai nasional KH. M. Zainuddin Musaddad sebagai penceramah utama. Dai yang akrab disapa Abah Zain ini menyampaikan materi bertema Rumahku Surgaku, Mencetak Anak yang Sholeh dan Dermawan Melalui Amalan Sedekah di Bulan Suci Ramadhan. Penyampaian materi berlangsung di Masjid Agung Nurul Yakin Waisai dan diikuti oleh jamaah dari berbagai majelis taklim.

Dalam tausiahnya, Zainuddin Musaddad menguraikan bahwa keluarga merupakan fondasi utama dalam pembentukan karakter generasi. Ia menekankan bahwa nilai keshalihan dan kedermawanan tidak lahir secara instan, melainkan melalui pembiasaan dan keteladanan yang dimulai dari rumah.

“Rumah adalah madrasah pertama. Dari sanalah anak-anak belajar mengenal nilai iman, kepedulian, dan semangat berbagi,” ujar Zainuddin Musaddad di hadapan jamaah.

Ia menjelaskan bahwa bulan suci Ramadhan memberikan ruang yang luas bagi orang tua untuk menanamkan nilai sedekah kepada anak-anak. Menurutnya, amalan sedekah tidak hanya berdimensi materi, tetapi juga membentuk kepekaan sosial dan kesadaran spiritual.

“Melalui sedekah di bulan Ramadhan, anak-anak dilatih untuk memahami arti memberi, merasakan kebahagiaan berbagi, dan menumbuhkan empati kepada sesama,” kata Zainuddin Musaddad.

Dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk dan memiliki tradisi gotong royong yang kuat, ia menyampaikan bahwa nilai sedekah selaras dengan budaya saling membantu yang telah mengakar. Menurutnya, penguatan nilai ini di lingkungan keluarga akan berkontribusi pada lahirnya generasi yang tidak hanya taat secara personal, tetapi juga peduli terhadap lingkungan sosialnya.

Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Papua Barat Daya, M. Sanusi, menambahkan, kegiatan Tabligh Akbar dan Tarhib Ramadhan ini juga menjadi ajang silaturahmi antar-majelis taklim dan tokoh masyarakat di Raja Ampat.

Sanusi mengatakan kehadiran unsur pemerintah daerah, aparat, dan organisasi keagamaan kian meneguhkan harmoni dalam keterlibatan bersama dalam mendukung pembinaan umat. Melalui forum ini, pesan-pesan keislaman disampaikan secara terbuka dan inklusif, sejalan dengan semangat dakwah yang menyejukkan.

“Dengan terselenggaranya kegiatan ini, lintas elemen organisasi internal maupun eksternal menegaskan peran dakwah sebagai sarana penguatan iman, keluarga, dan kepedulian sosial,” kata Sanusi.

Menurut Sanusi, tema mencetak anak yang sholeh dan dermawan melalui amalan sedekah di bulan suci Ramadhan menjadi pengingat bahwa pembinaan generasi merupakan bagian dari tanggung jawab bersama umat dalam menjaga keberlanjutan nilai-nilai Islam di tengah kehidupan bangsa Indonesia.

Abdurrahman Hasan Refleksi Isra Mi’raj dalam Gerak Dakwah Membangun Umat dan Bangsa

0

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Dzat Yang Agung, Allah Ta’ala membuka kisah Isra Mi’raj dengan kata “subhan” yang artinya menegaskan bahwa dakwah ini berjalan dengan keyakinan kepada kekuasaan Allah, bukan semata perhitungan logika manusia.

Pesan tersebut menjadi pokok refleksi yang disampaikan Anggota Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulawesi Barat, Ustadz Abdurrahman Hasan, dalam tausiah subuh yang digelar di hadapan para kader Hidayatullah Sulawesi Barat, Ahad, 6 Sya’ban 1447 (25/1/2026).

Dalam penyampaiannya, Abdurrahman menguraikan bahwa dinamika dakwah dan pengelolaan organisasi sering kali berhadapan dengan realitas yang secara rasional tampak berat.

Ia menyebut keterbatasan sumber daya manusia, dukungan finansial yang terbatas, serta medan pengabdian yang tidak mudah sebagai bagian dari keseharian dakwah. Kondisi tersebut, menurutnya, menuntut keteguhan iman agar para kader tidak menjadikan kalkulasi materi sebagai satu-satunya tolok ukur perjuangan.

Ia menjelaskan bahwa peristiwa Isra Mi’raj merupakan gambaran paling nyata tentang relasi antara iman dan logika.

“Allah membuka kisah Isra Mi’raj dengan kata ‘subhan’. Ini penegasan bahwa dakwah berjalan dengan keyakinan kepada kekuasaan Allah, bukan semata perhitungan akal manusia. Isra Mi’raj secara logika sulit diterima, tetapi iman menjadikannya pasti dan benar,” ujar Abdurrahman dalam tausiahnya.

Lebih lanjut, ia mengaitkan pesan tersebut dengan perjalanan dakwah Hidayatullah yang tumbuh dan berkembang di berbagai wilayah Indonesia. Menurut Abdurrahman, sejarah Hidayatullah menunjukkan bahwa banyak amal usaha dan aktivitas dakwah dimulai dari kondisi yang sangat terbatas.

Ia menegaskan bahwa keberlangsungan dakwah selama ini tidak bertumpu pada kelengkapan fasilitas, melainkan pada militansi serta keyakinan para kader dalam mengemban amanah.

“Perjalanan dakwah Hidayatullah sering dimulai dari keterbatasan, baik SDM, dana, maupun medan yang berat. Dakwah ini tetap hidup karena keyakinan, bukan karena fasilitas,” kata Abdurrahman.

Abdurrahman menyampaikan bahwa dakwah termasuk di negeri yang majemuk ini memerlukan fondasi iman yang kuat agar tetap istiqamah dalam bingkai persatuan dan pengabdian. Menurutnya, tantangan sosial dan geografis Indonesia menuntut kesiapan batin serta kesadaran bahwa perjuangan dakwah merupakan bagian dari ikhtiar kolektif membangun umat dan bangsa.

Menutup tausiah, Abdurrahman mengajak para kader untuk melakukan evaluasi orientasi perjuangan. Ia menekankan bahwa ukuran keberhasilan dakwah tidak terletak pada kekuatan personal semata, melainkan pada keyakinan kepada Allah sebagai sumber pertolongan.

“Ukurannya bukan seberapa kuat kita, tetapi seberapa yakin kita kepada Allah. Jika Allah membersamai, maka jalan dakwah, seberat apa pun, akan tetap terbuka,” pungkasnya.

Menuju Peradaban yang Mencerahkan, Menguji Makna Membangun Visi Islam bagi Dunia

0

DALAM wacana modern, istilah peradaban kerap digunakan sebagai simbol kemajuan dan kebanggaan. Ia dilekatkan pada pencapaian material, teknologi, serta tatanan sosial yang dianggap unggul. Namun, sejarah mencatat bahwa istilah ini memiliki beban masa lalu yang kompleks

Sejarawan Bruce Mazlish, melalui karyanya Civilization and Its Contents, menunjukkan bahwa pada abad ke-18, istilah peradaban pernah berfungsi sebagai instrumen ideologis. Ia digunakan untuk membedakan kelompok manusia yang dianggap beradab dengan mereka yang dicap liar atau terbelakang, sehingga memuat muatan rasisme dan klaim superioritas budaya.

Bagi Hidayatullah yang mengusung visi membangun peradaban Islam, kritik Mazlish tersebut tidak dipahami sebagai penyangkalan terhadap cita-cita peradaban, melainkan sebagai peringatan konseptual. Ia menjadi pijakan reflektif agar gagasan peradaban tidak dibangun di atas fondasi eksklusivisme, hierarki rasial, atau dominasi simbolik. Peradaban yang diperjuangkan harus berpijak pada nilai universal yang memuliakan manusia sebagai manusia, bukan sebagai objek klasifikasi historis.

Mazlish, yang selama lebih dari lima dekade berkiprah sebagai profesor di Massachusetts Institute of Technology, mengajukan gagasan penting tentang pergeseran cara pandang terhadap peradaban.

Ia mendorong agar peradaban tidak dipahami sebagai produk statis berupa bangunan megah atau teknologi canggih, melainkan sebagai proses panjang pembentukan manusia. Konsep proses peradaban ini memiliki irisan kuat dengan prinsip tarbiyah dan dakwah dalam Islam, di mana peradaban dipahami sebagai transformasi batin dan sosial yang berkesinambungan.

Dalam perspektif Islam, peradaban tidak diukur dari kemampuan menaklukkan atau mendominasi, melainkan dari keberhasilan mengelola diri. Jika dalam pemahaman umum peradaban identik dengan pengendalian kekerasan fisik, Islam meluaskannya ke ranah pengendalian hawa nafsu sebagai jihad akbar.

Dari proses internal inilah lahir dimensi sosial berupa empati dan kepedulian. Tingginya peradaban tercermin dalam kemampuan melahirkan semangat itsar, yakni mendahulukan kepentingan orang lain. Nilai ini menjadi ruh dari praktik filantropi yang dijalankan misalnya melalui berbagai program kemanusiaan BMH.

Peradaban dan Tanggungjawab Kemanusiaan

Sejalan dengan Mazlish, Abdul Mannan dalam bukunya Era Peradaban Baru juga mengkritisi narasi peradaban yang terjebak pada bayang-bayang konflik historis. Ia secara khusus menyoroti pandangan Samuel Philips Huntington dalam The Clash of Civilization, yang menurutnya merepresentasikan imajinasi peradaban yang obsesif terhadap masa-masa kelam.

Abdul Mannan menilai Huntington sedang membangun ketakutan kolektif dengan apa yang ia sebut sebagai “hantu teror peradaban”, sebuah narasi yang justru menghambat inisiatif perdamaian global. Pandangan ini disampaikan Abdul Mannan dalam Era Peradaban Baru halaman 261.

Menurut Abdul Mannan, peradaban Islam dan para pengusungnya tidak pernah memandang perbedaan sebagai keniscayaan yang harus bermuara pada benturan. Islam memposisikan manusia sebagai khalifah yang diberi amanah membawa jalan keselamatan bagi semesta. (idem, 263)

Dengan demikian, perbedaan dipahami sebagai ruang pengabdian dan kerja kemanusiaan, bukan sebagai alasan konflik. Abdul Mannan menegaskan bahwa inti pengaktualan manhaj Nabi Muhammad SAW dalam menegakkan kembali peradaban adalah prinsip ibda’ binafsik, memulai transformasi dari diri sendiri. (Era Peradaan baru, hal. 446)

Gagasan tentang peradaban sebagai proses kemanusiaan global juga menjadi titik temu antara pemikiran Mazlish dan visi Islam sebagai rahmatan lil alamin. Mazlish menolak pandangan yang memecah manusia ke dalam kotak-kotak benturan antarperadaban.

Islam, dalam konteks tersebut, hadir bukan untuk membangun tembok identitas, tetapi untuk merajut jembatan kemanusiaan. Praktik konkret seperti pengelolaan wakaf produktif di Mamuju atau rehabilitasi rumah penyintas banjir di Aceh Tamiang merupakan manifestasi dari proses peradaban yang nyata dan kontekstual.

Mazlish juga mengingatkan bahaya memahami sejarah secara desultory, yakni terpecah, acak, dan tanpa arah. Pesan ini relevan dalam konteks perjuangan organisasi. Membangun peradaban menuntut arah yang jelas, kerja yang sistematis, serta kesinambungan nilai.

Visi Hidayatullah dalam membangun peradaban Islam memerlukan literasi yang kuat dan kepemimpinan yang berintegritas agar gerakan tidak berhenti pada keramaian sesaat, melainkan menjadi arus panjang yang menyalurkan nilai-nilai wahyu ke tengah krisis spiritual dunia modern.

Jika Mazlish sempat mengusulkan agar istilah peradaban dipensiunkan karena beban sejarahnya, maka Islam justru menawarkan upaya pemurnian makna. Peradaban yang dibangun menempatkan Tuhan sebagai pusat orientasi, dan manusia sebagai khalifah yang memikul amanah memakmurkan bumi.

Inilah peradaban yang tidak melahirkan rasa unggul untuk menindas, tetapi kesadaran mendalam untuk melayani dan bertanggung jawab terhadap kemanusiaan.

*) Mas Imam Nawawi, penulis pegiat literasi Hidayatullah

Dari Wilayah Tapal Batas Indonesia, Semangat Belajar Al-Qur’an Menyatukan Generasi

0

NUNUKAN (Hidayatullah.or.id) — Di wilayah perbatasan utara Indonesia, tepatnya di sejumlah titik pelosok Kabupaten Nunukan, aktivitas pembelajaran Al-Qur’an berlangsung setiap hari.

Di empat wilayah binaan, lantunan ayat suci tidak hanya terdengar dari suara anak-anak, tetapi juga dari para lanjut usia yang mengikuti proses belajar membaca Al-Qur’an secara rutin.

Para peserta didik tersebut merupakan bagian dari 66 santri yang terdaftar di Rumah Qur’an binaan Muslimat Hidayatullah (Mushida) Nunukan. Kehadiran santri lansia menjadi gambaran keterlibatan lintas usia dalam pembelajaran keagamaan yang diselenggarakan di kawasan perbatasan negara.

Rumah Qur’an ini menjadi salah satu sarana pendidikan Al-Qur’an yang diakses masyarakat setempat tanpa memandang latar usia.

Siti Aisyah, pengajar Mushida Nunukan, menyampaikan pengalamannya mendampingi para santri lansia dalam proses belajar.

“Melihat antusiasme nenek-nenek di sini adalah suntikan semangat bagi kami. Bayangkan, dari yang awalnya buta huruf, sama sekali tidak mengenal huruf hijaiyah, kini alhamdulillah sudah lancar membaca Al-Qur’an,” ungkap Siti Aisyah pada Sabtu, 5 Sya’ban 1447 (24/1/ 2026). Ia menjelaskan bahwa pembelajaran dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan masing-masing santri.

Untuk mendukung keberlanjutan kegiatan tersebut, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) Perwakilan Kalimantan Utara kembali menyalurkan dukungan operasional bagi Rumah Qur’an Mushida Nunukan.

Dukungan tersebut mencakup pembiayaan operasional, penyediaan mushaf Al-Qur’an, serta buku Iqra resmi yang direncanakan berlangsung sepanjang tahun 2026.

Kepala Unit Layanan Zakat (ULZ) BMH Nunukan, Safriadi, menjelaskan bahwa dukungan berkelanjutan menjadi bagian penting dari proses pembelajaran di wilayah binaan. Empat lokasi yang menjadi fokus pendampingan meliputi Mambunut Dalam, Mambunut Luar, Kampung Baru, dan Selisun.

“Dukungan ini adalah bentuk apresiasi kami atas semangat luar biasa para santri dan guru mengaji. Kami ingin memastikan alat dan biaya tidak lagi menjadi kendala bagi mereka yang rindu membaca firman-Nya,” tutur Safriadi.

Bagi para santri lansia di Nunukan, Rumah Qur’an berfungsi sebagai ruang pembelajaran sekaligus tempat berkumpul untuk mengikuti kegiatan keagamaan secara teratur.

Aktivitas ini berlangsung di wilayah perbatasan Indonesia, memperlihatkan keterlibatan masyarakat dalam pendidikan Al-Qur’an yang terus berjalan melalui kerja sama antara Mushida Hidayatullah dan Laznas BMH.

Pertemuan Hidayatullah Sulteng dan Wali Kota Palu Perkuat Komunikasi Organisasi dan Daerah

0

PALU (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Tengah bersama Panitia Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Sulawesi Tengah melakukan kunjungan silaturahim ke kediaman Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid, pada Jumat pagi, 4 Syaban 1447 (23/1/2026). Kegiatan ini dilakukan dalam rangka membangun dan memperkuat keterhubungan antara organisasi kemasyarakatan dengan pemerintah daerah.

Kunjungan tersebut berlangsung bertepatan dengan agenda open house rutin yang diselenggarakan oleh Wali Kota Palu. Agenda ini terbuka bagi berbagai unsur masyarakat, organisasi kemasyarakatan, dan komunitas untuk bersilaturahim sekaligus menyampaikan pandangan serta aspirasi. Dalam kesempatan tersebut, rombongan DPW Hidayatullah Sulawesi Tengah dan Panitia Rakerwil diterima secara langsung oleh Wali Kota Palu.

Dalam pertemuan itu, Panitia Rakerwil yang juga merupakan Pengurus DPW Hidayatullah Sulawesi Tengah, Mursalin Ukasya, menyampaikan rencana pelaksanaan Rakerwil Hidayatullah Sulawesi Tengah yang dijadwalkan berlangsung pada 31 Januari 2026.

Ia juga menyampaikan undangan resmi kepada Wali Kota Palu untuk hadir dan membuka kegiatan tersebut. “Kami menyampaikan rencana Rakerwil DPW Hidayatullah Sulawesi Tengah dan mengundang langsung Wali Kota Palu untuk dapat hadir sekaligus membuka acara,” ujar Mursalin Ukasya.

Menanggapi undangan tersebut, Wali Kota Palu menyatakan kesediaannya untuk memenuhi undangan dan memberikan dukungan terhadap agenda organisasi tersebut. “Insya Allah saya siap hadir dan mendukung pelaksanaan Rakerwil Hidayatullah Sulawesi Tengah,” kata Hadianto Rasyid dalam pertemuan tersebut.

Selain agenda Rakerwil, silaturahim ini juga dimanfaatkan untuk membahas peluang kerja sama antara DPW Hidayatullah Sulawesi Tengah dan Pemerintah Kota Palu.

Salah satu pokok pembahasan adalah rencana perbaikan akses jalan menuju Kampus Madya Hidayatullah Kota Palu. Akses tersebut dinilai penting untuk menunjang aktivitas pendidikan dan kegiatan dakwah yang berlangsung di lingkungan kampus.

Pada kesempatan yang sama, Wali Kota Palu juga menyampaikan rencana Pemerintah Kota Palu terkait pembangunan taman di kawasan pesisir Pantai Tondo. Lokasi rencana pembangunan tersebut berada di area belakang Kampus Madya Hidayatullah Kota Palu.

Menurut Hadianto, pembangunan taman pesisir ini dirancang untuk penataan kawasan pantai sekaligus memberikan ruang publik bagi masyarakat sekitar.

Silaturahim ini menjadi ruang komunikasi antara Hidayatullah Sulawesi Tengah dan Pemerintah Kota Palu dalam membahas agenda organisasi, infrastruktur, serta rencana penataan wilayah, khususnya yang berkaitan dengan lingkungan pendidikan dan kemasyarakatan.

Ketua Umum Hidayatullah Ingatkan Tanggung Jawab Publik Menuntut Keteladanan Pribadi

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH Naspi Arsyad mengingatkan pemangku amanah bahwa tanggung jawab publik menuntut keteladanan pribadi karena setiap peran yang bersentuhan dengan kepentingan orang banyak selalu membawa konsekuensi moral dan sosial.

Demikian hal itu ditekankan Naspi saat menjadi pengisi dalam program pembinaan spiritual dan kelembagaan yang diselenggarakan oleh Baitul Maal Hidayatullah (BMH) di Jakarta pada Rabu, 2 Sya’ban 1447 (21/1/2025).

Menurutnya, dalam ruang publik, individu tidak hanya dinilai dari kapasitas struktural atau kewenangan formal yang dimilikinya, tetapi juga dari konsistensi antara ucapan, kebijakan, dan perilaku sehari-hari. Dia menegaskan, keteladanan pribadi menjadi titik temu antara legitimasi sosial dan kepercayaan publik.

Naspi menguraikan bahwa dalam berbagai bidang tidak hanya dalam dunia filantropi seperti pendidikan, pemerintahan, pelayanan sosial, keagamaan, maupun dunia profesional, tanggung jawab publik menempatkan seseorang sebagai rujukan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Keputusan dan tindakan yang diambil memiliki dampak yang melampaui kepentingan personal, karena memengaruhi persepsi, sikap, dan bahkan tindakan orang lain.

“Oleh karena itu, amil harus terdepan dalam kebaikan karena tanggung jawab sosial publik tidak dapat dipisahkan dari kualitas pribadi yang menopangnya,” katanya.

Disamping itu, amil harus terus update dan upgrade pengetahuan, wawasan bahkan skill serta tidak cukup berhenti sampai pada posisi mengajak orang lain dalam kebaikan tetapi harus terdepan dalam kebaikan.

KH. Naspi Arsyad menjelaskan bahwa menjadi teladan dalam kebaikan diwujudkan melalui praktik langsung dalam kehidupan sehari-hari. Ia mendorong para amil untuk memiliki sejumlah amalan utama yang dijaga secara konsisten, sembari tetap mengajak orang lain untuk berbuat baik. Dalam penjelasannya, ia mengaitkan antara ajakan kepada donatur dan muzakki dengan keteladanan personal amil.

“Kalau kita mengajak orang lain, donatur dan muzakki berbuat baik, kita jangan kalah. Orang kita ajak infak, kita infak dengan tekun dan disiplin,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa amil memiliki keterikatan kuat dengan ibadah personal. Dalam pemaparannya, ia mengatakan bahwa amil tidak meninggalkan ibadah, mulai dari tahajud, tilawah, hingga salat sunnah lainnya. Penekanan ini disampaikan sebagai bagian dari gambaran aktivitas spiritual yang dijalani oleh amil dalam keseharian.

KH. Naspi Arsyad mengaitkan kualitas ibadah dengan perilaku sosial. Ia menyampaikan bahwa kualitas salat berhubungan dengan kualitas zakat dan infak, serta tercermin dalam perilaku amil. “Karena dasar dari perintah salat agar kita tidak melakukan keburukan dan kekejian apalagi kemunkaran,” ucapnya.

Selain aspek ibadah, pembinaan ini juga menyoroti pentingnya pengembangan kapasitas diri amil. KH. Naspi Arsyad mendorong para amil untuk terus memperbarui dan meningkatkan pengetahuan, wawasan, serta keterampilan.

“Ini tuntutan zaman kata orang. Tapi ini perintah Allah kepada kita, jangan berhenti belajar dan terus belajar,” katanya, seraya menegaskan proses belajar merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari peran amil.

Pelatihan Juleha di Lombok Utara Dorong Penguatan Ekosistem Halal

0

LOMBOK UTARA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Sembelih Halal (LSH) Hidayatullah Perwakilan Nusa Tenggara Barat bekerja sama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Utara menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan Juru Sembelih Halal (Juleha) pada Rabu, 2 Sya’ban 1447 (21/1/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan kapasitas sumber daya manusia di sektor hulu halal, khususnya pada mata rantai penyembelihan hewan, yang memiliki peran strategis dalam menjaga kehalalan produk pangan asal hewani.

Pelatihan dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kabupaten Lombok Utara, Tresnahadi. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa peningkatan kompetensi juru sembelih halal merupakan kebutuhan mendasar daerah yang memiliki potensi peternakan dan pariwisata berbasis halal.

“Ketahanan pangan yang berkelanjutan harus berjalan seiring dengan kepastian halal. Pelatihan ini kami pandang sebagai investasi sosial untuk memastikan proses penyembelihan memenuhi kaidah syariat, higienitas, dan kesejahteraan hewan,” ujar Tresnahadi.

Tresnahadi mengatakan bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah dan lembaga keagamaan seperti LSH Hidayatullah merupakan model sinergi yang efektif.

“Kami berharap pelatihan ini melahirkan juru sembelih halal yang tidak hanya kompeten, tetapi juga memiliki integritas. Dengan demikian, masyarakat memperoleh jaminan bahwa produk yang dikonsumsi aman, sehat, dan halal,” katanya.

Melalui kegiatan ini, LSH Hidayatullah NTB dan Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Utara menegaskan komitmen bersama dalam membangun sistem pangan halal yang berkelanjutan.

Menurut Tresnahadi, pelatihan juru sembelih halal tidak hanya menjawab kebutuhan teknis, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran nilai, tanggung jawab, dan pelayanan kepada masyarakat.

“Dalam jangka panjang, langkah ini diharapkan berkontribusi pada penguatan ekosistem halal nasional yang kredibel, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan,” harapnya.

Amanah Syariat

Program pelatihan ini menghadirkan Ketua LSH Hidayatullah Pusat, KH. Nanang Hanani, S.Pd.I., MA, sebagai narasumber utama. Ia adalah sebagai pakar penyembelihan halal dan penguatan standar halal dari sisi hulu.

Dalam pemaparannya, Nanang Hanani menegaskan bahwa juru sembelih halal adalah penjaga amanah syariat sekaligus aktor penting dalam ekosistem halal nasional.

“Kehalalan produk hewani sangat ditentukan pada satu titik krusial, yakni proses penyembelihan. Jika di hulu sudah benar, maka mata rantai berikutnya akan lebih terjamin,” jelasnya.

Pelatihan ini menyajikan pendekatan akademis-praktis yang memadukan pemahaman fikih penyembelihan, standar teknis operasional, serta aspek etika dan keselamatan kerja.

Peserta dibekali materi tentang syarat sah penyembelihan menurut syariat Islam, teknik pemotongan yang tepat, penanganan hewan sebelum dan sesudah disembelih, serta prinsip kebersihan dan sanitasi. Hal ini, jelas Nanang, sejalan dengan kebutuhan ekosistem halal yang menuntut integrasi antara aspek religius, kesehatan masyarakat, dan mutu pangan.

Nanang mengatakan penguatan kompetensi juru sembelih halal memiliki relevansi tinggi. Indonesia telah menetapkan kebijakan jaminan produk halal yang menempatkan sertifikasi halal sebagai instrumen perlindungan konsumen.

Pada sektor pangan asal hewan, penyembelihan yang sesuai syariat dan standar teknis menjadi prasyarat utama sebelum produk memasuki proses distribusi dan konsumsi.

“Karena itu, ketersediaan juru sembelih halal yang terlatih dan tersertifikasi menjadi kebutuhan mendesak, terutama di daerah-daerah dengan aktivitas peternakan dan pemotongan hewan yang tinggi,” kata Nanang.

Ia juga menyoroti pentingnya membangun kesadaran kolektif tentang halal sebagai sistem, bukan sekadar label.

“Ekosistem halal mencakup regulasi, sumber daya manusia, proses produksi, hingga edukasi publik. Juru sembelih halal berada di garis depan ekosistem ini. Ketika mereka memahami peran strategisnya, maka kepercayaan masyarakat akan tumbuh,” tuturnya.

Dengan memperkuat kompetensi di tingkat hulu, Nanang menambahkan, daerah diharapkan mampu meningkatkan daya saing sekaligus menjaga nilai-nilai keislaman yang menjadi fondasi kehalalan.

Rakerwil Perdana Hidayatullah Jambi Rumuskan Program Dakwah dan Kemandirian

0

TANJAB BARAT (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah Jambi berkomitmen akan menunaikan amanah organisasi dengan pendekatan 4K, yaitu kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, dan kerja ikhlas. Demikian diantara yang menjadi salah satu pokok komitmen dalam Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Provinsi Jambi.

Komitmen tersebut disertai dengan rencana program penguatan sumber daya insani melalui pendirian Sekolah Dai untuk ditugaskan ke seluruh wilayah Jambi, pengembangan kemandirian ekonomi kreatif, serta aktivasi dakwah bagi mualaf di pedalaman Suku Anak Dalam.

Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Provinsi Jambi melaksanakan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) di Pesantren Hidayatullah, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi. Rakerwil ini tercatat sebagai pelaksanaan perdana rapat kerja wilayah Hidayatullah di tingkat provinsi tersebut.

Pembukaan Rakerwil dihadiri oleh pendamping kegiatan, Iwan Abdullah, M.Si., yang menyampaikan pengantar terkait pelaksanaan rapat kerja. Dalam keterangannya, ia menyebut bahwa Rakerwil diharapkan dapat menghadirkan solusi pencapaian program yang efektif, efisien, adaptif, kolaboratif, dan berdampak luas.

Rakerwil Hidayatullah Provinsi Jambi diikuti oleh seluruh Ketua Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah se-Provinsi Jambi. Selain itu, hadir pula jajaran Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah, Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah, serta seluruh pengurus amal usaha dan badan usaha Hidayatullah di tingkat wilayah Provinsi Jambi. Kehadiran unsur-unsur tersebut menjadi bagian dari rangkaian konsolidasi organisasi wilayah.

Tema yang diusung dalam Rakerwil ini adalah Konsolidasi Jati Diri dan Transformasi Organisasi Menuju Hidayatullah Mandiri dan Berpengaruh. Tema tersebut menjadi landasan pembahasan dalam perumusan program kerja wilayah serta penjabaran arah organisasi untuk periode selanjutnya.

Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Provinsi Jambi, Subur Pramudya, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa dakwah dan tarbiyah merupakan bagian dari tugas kenabian. Keterangan tersebut disampaikan dalam konteks penegasan amanah yang diemban oleh pengurus dan kader Hidayatullah dalam menjalankan program organisasi.

Dalam sambutan yang sama, Subur Pramudia menyampaikan bahwa DPW Hidayatullah Jambi berkomitmen menunaikan amanah organisasi dengan prinsip 4K.

Ia juga memaparkan sejumlah program yang akan diusung, meliputi penguatan sumber daya insani melalui pendirian Sekolah Dai untuk penugasan ke seluruh wilayah Jambi, pengembangan kemandirian ekonomi kreatif, serta aktivasi dakwah mualaf di wilayah pedalaman Suku Anak Dalam.

Iwan Abdullah, selaku Ketua Departemen Pembinaan Anggota Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, bertindak sebagai pendamping Rakerwil Provinsi Jambi. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa Rakerwil merupakan tindak lanjut dari Rapat Kerja Nasional (Rakernas).

Pelaksanaan Rakerwil dimaksudkan untuk memastikan program-program utama, khususnya di bidang dakwah dan tarbiyah, yang telah ditetapkan di tingkat pusat dapat dijalankan dan ditindaklanjuti di tingkat wilayah dan daerah.

Ia juga menjelaskan bahwa pelaksanaan Rakerwil berkaitan dengan mekanisme permusyawaratan yang diatur dalam Pedoman Dasar Organisasi, sebagaimana tercantum dalam Pasal 37 ayat (15) serta Pasal 50 ayat (1) dan (2). Penjelasan tersebut disampaikan dalam rangka memberikan pemahaman struktural mengenai posisi Rakerwil dalam sistem organisasi.

Selain itu, Iwan Abdullah memaparkan bahwa tema Rakerwil merupakan amanah yang perlu diperhatikan dan diamalkan dalam menjalankan tugas di Hidayatullah. Ia juga menyampaikan penjelasan mengenai transformasi organisasi sebagai proses perubahan menyeluruh pada struktur dan strategi organisasi.

Dalam kesempatan yang sama, ia menyebutkan bahwa Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2026 memuat penekanan pada ketahanan pangan, energi hijau, dan investasi sumber daya manusia yang juga perlu diperhatikan agar selaras dengan program.

Menjelang penutupan pemaparan, disampaikan beberapa program strategis yang akan diusung oleh Pengurus Wilayah Hidayatullah Jambi. Program-program tersebut meliputi pendirian Sekolah Dai, pendirian Rumah Qur’an, perwujudan masjid percontohan, pengembangan kegiatan ekonomi kreatif, serta pembinaan mualaf.

Peran Murabbi dan Keterikatannya bagi Kehidupan Sosial Masyarakat

0
ist – murabbi

AL-QUR’AN merupakan petunjuk bagi manusia yang bertujuan agar hidup manusia sesuai dengan tujuan penciptaannya yaitu beribadah kepada Allah (Abdullah) dan menjadi wakil Allah (Khalifatullah) untuk memakmurkan bumi.

Upaya dalam mewujudkan manusia sebagai Abdullah dan Khalifatullah adalah dengan pendidikan. Dengan demikian peran sebagai pendidik merupakan hal yang terpenting bagi pendidikan yang akan berdampak baik pula pada keimanan dan moral manusia.

Berprofesi sebagai pendidik merupakan tugas mulia dan amanah yang begitu berat untuk mengaplikasikannya dengan benar. Peradaban di bumi ini yang pernah jaya karena keberadaan sosok pendidik yang luar biasa. Hal ini dikarenakan sebagai pendidik harus dapat untuk membimbing dan mengarahkan peserta didiknya untuk mengenal Tuhannya, tunduk, mengabdi dan menjadi wakil Allah di muka bumi ini.   

Secara umum, pendidik bisa siapa saja. Pendidik yang pertama kali dijumpai oleh setiap manusia adalah orang-tuanya sendiri sehingga dikenal ibu dan bapak adalah madrasatul ‘ula. Pendidik berikutnya pada pendidikan formal yang dikenal dengan istilah guru, ustadzah, muallim atau mudaris di lembaga-lembaga pendidikan formal dan non formal. Di tengah masyarakat, pimpinan masyarakat juga dapat berfungsi sebagai pendidik untuk masyarakatnya.

Dalam sejarah pendidikan klasik Islam, istilah murabbi adalah kata yang sering dipakai pada pendidik. Hal ini tentu memiliki maksud dan tujuan tertentu dibalik pengertian makna istilah yang digunakan dalam sejarah pendidikan Islam. Sebagaimana yang banyak ditemui dalam tulisan-tulisan sejarah pendidikan Islam di antaranya, al-fikr at-tarbawī ʻinda Ibn Khaldūn.

Adanya infansi para penjajah juga memberikan dampak terhadap perubahan penggunaan istilah murabbi pada pendidikan. Ini juga bagian dari Ghawzul fikri atau perang pemikiran dengan mengubah istilah-istilah Islam untuk distorsi ajaran Islam.

Tentulah perubahan tersebut dapat menghilangkan makna yang terpenting dalam istilah murabbi yang terhimpun dari ilmu, iman, dan akhlak pada diri seorang pendidik. Sebab arti dari sebuah kata dalam bahasa Arab memiliki makna yang unik yang tak dimiliki pada bentuk kata dari bahasa-bahasa lain.

Murabbi adalah merupakan kata bentuk sabjek atau pelaku (isim faʻil), yang berasal dari kata rabba, yarubbu, yang memiliki arti sebagai pendidik. Dalam kaedah bahasa, kata murabbī yang berasal dari kata rabba merupakan kata kerja taʻdiyah (menjadikan kalimat pasif menjadi aktif). Sehingga memiliki makna “mendidikan” atau “menjadikan sesuatu menjadi berpendidikan”.

Ruang lingkup murabbi lebih luas ruang geraknya dan tidak dibatasi oleh ruang-ruang kelas atau hanya di halaqah. Murabbi hadir dalam ruang kehidupan mutarabbi (peserta didiknya) dalam semua aspek kehidupan.

Syekh Yusuf Qardhawi mengatakan bahwa yang dimaksud murabbi bukan mereka yang jebolan fakultas ilmu pendidikan atau memiliki gelar magister dan doktor dalam bidang pendidikan. Melainkan mereka yang memiliki bobot kualitas keimanan yang tinggi, kekuatan ruhani, kesucian jiwa, kekukuhan kehendak, kematangan emosi dan kemampuan dalam mempengaruhi orang lain.

Murabbi lebih komperhenship ruang lingkup dalam mendidik memiliki tanggung jawab untuk melindungi, mengembangkan, memberikan kasih sayang, mengajar, membimbing, dan memelihara potensi siswa, sekaligus membantu mereka mengembangkan bakat serta kemampuan yang dimiliki. Adapun obyek pendidikannya seluruh aspek yang ada pada peserta didik, baik dari kognitif, afektif, dan psikomotoriknya.

Peran murabbi memiliki paket lengkap yaitu berfungsi sebagai instruktur (mu’allim), pembina adab (mu’adib), pelatih (mudarrib), penasihat (muwajjih), serta konsultan (murshid). Di sinilah penting untuk fungsionalisasi murabbi dalam halaqah dan kehidupan sehari-hari.

Keberadaan murabbi adalah sebagai standar spritual, moral dan intelektual bagi anggota sebuah organisasi. Artinya murabbi memiliki standar kompetensi yang melekat dalam dirinya dan menjadi rujukan atau teladan sehingga murabbi harus senantiasa update dan upgrade dalam tiga aspek tersebut.

Murabbi dan keluarganya harus terdepan dalam pengetahuan dan pengamalan spritual, moral dan intelektual. Kehadiran murabbi menjadi jawaban bagi kehidupan bermasyarakat yang sebagian terjebak dalam dekadensi moral, lemah spritual dan tersesat pemikirannya.

Krisis keteladanan hari ini bisa dijawab oleh hadirnya sosok murabbi sebagai sosok yang bisa memerankan fungsinya sebagai standar spritual dan moral di tengah masyarakat. Meski demikian status murabbi tidak menjadi beban tapi tantangan yang dijawab dengan standardisasi kompetensi dan komitmennya.

Salah satu cara untuk update dan upgrade kompentensi adalah Iqra’ atau membaca buku-buku referensi tentang kemurabbian. Ini adalah cara paling fundamental sebagaimana pertama kali Nabi Muhammad SAW mendapatkan wahyu dengan perintah pertama Iqra’. Tanpa membaca, maka murabbi akan ketinggalan informasi dan kalah dengan realitas karena tidak bisa menjadi inspirasi dan memberikan solusi.

Selanjutnya murabbi juga harus meninggalkan legacy ilmiah berupa tulisan terkait pengalaman dan pemahamannya menjadi murabbi. Ini sebagai bagian dari pengamalam al-Qolam agar ada pewarisan nilai yang dilakukan tidak hanya secara verbal dan oral tapi melalui media tulisan.[]

*) Dr Abdul Ghofar Hadi, penulis Ketua Bidang Perkaderan DPP Hidayatullah